Pemkot Pantau Lonjakan Harga Pangan

Ponticity

Editor Kiwi Dibaca : 336

Pemkot Pantau Lonjakan Harga Pangan
MERANGKAK NAIK – Seorang pedagang bawang putih di salah satu pasar tradisional Kota Pontianak, menyortir bawang, Senin (15/5). Menjelang bulan Ramadan, harga bawang putih merangkak naik mencapai Rp50 ribu per kg.
PONTIANAK, SP – Pemerintah Kota Pontianak, berkomitmen terus memantau situasi dan menjaga pergerakan harga pangan di sejumlah pasar, saat menjelang bulan Ramadan yang akan tiba tak lebih dari dua pekan mendatang. "Kami akan terus melakukan pengawasan ke pasar-pasar, agen dan distributor untuk memantau ketersediaan dan harga barang," ujar Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan Kota Pontianak, Haryadi S Triwibowo, Senin (15/5).

Haryadi menjelaskan, ada beberapa komoditas strategis yang menjadi fokus perhatian pihaknya, namun tatap juga akan memantau ketersediaan jenis pangan lainnya.

Satu di antara komoditas yang menjadi perhatian adalah gula kristal putih atau gula pasir yang kerap naik harganya pada hari-hari besar keagamaan.

"Berkaca dari tahun sebelum-sebelumnya harga gula pasir saban menjelang dan saat Ramadan selalu terjadi kenaikan. Kenaikan gula sangat mempengaruhi harga komoditas lain, terutama makanan dan minuman. Inflasi pun akan tinggi apabila harga gula tidak terkendali," kata dia.

Dia menyebutkan, meski saat ini gula satu di antara tiga Sembako yang harganya sudah dipatok pemerintah maksimal Rp12.500 per kilogram, namun soal penerapan harga di lapangan akan terus diperhatikan agar diterapkan.

Permintaan terhadap gula dan komoditas lain memang tinggi pada bulan puasa. Hukum ekonomi mengatakan
, harga naik kalau permintaan naik dan stok tetap atau kurang.
“Tetapi kami memperkirakan stok saat ini cukup. Oleh sebab itu, kami meminta para agen dan pedagang gula tidak mempermainkan harga alias aji mumpung," katanya.

Pada saat Ramadan, pihaknya juga akan menggelar operasi pasar murah dalam rangka pengawasan dan pengendalian harga komoditas utama masyarakat.

"Kami akan bekerja sama dengan perusahaan BUMD dan BUMN serta berkoordinasi dengan bulog dalam operasi pasar murah ini. Tentunya sasarannya adalah masyarakat yang berhak, yaitu kurang mampu secara ekonomi," jelasnya.

Dia meminta masyarakat untuk tidak terlalu konsumtif dan panik saat berbelanja. Menurutnya kenaikan harga terjadi karena ada pengaruh psikologi konsumen panik.

"Masyarakat kadang borong banyak barang, seolah-olah akan naik harganya. Ini membuat oknum pedagang menaikkan harga, padahal stoknya banyak. Kami sendiri meminta kepada pedagang bahan kebutuhan pokok untuk menyediakan stok selama enam bulan," ungkapnya.
Bawang Putih Lampaui HET Sementara itu, secara umum kondisi harga bahan kebutuhan pokok di kota ini menurut Haryadi masih tergolong stabil.

"Saat ini, semua harga masih stabil seperti beras, gula, minyak goreng, dan telur. Kalau daging ayam dan sapi memang ada kenaikan kecil. Tetapi tetap kami antisipasi dan pantau terus,” ujarnya.
Meski demikian, dia menyebutkan ada beberapa komoditas yang mengalami kenaikan signifikan seperti bawang putih.

Untuk itu, pihaknya sudah melakukan inspeksi ke distributor dan agen untuk meminta keterangan terkait hal tersebut.

"Temuan kami, kondisi cuaca yang kurang baik dengan curah hujan yang tinggi membuat pusat-pusat produksi bawang putih mengalami gagal panen. Kalbar sendiri tidak memiliki sentra pertanian bawang putih, sehingga pasokannya tergantung dari daerah lain," katanya.
Haryadi menjelaskan, kenaikan harga bawang putih tersebut sudah melampaui ambang batas harga yang ditetapkan pemerintah pusat.

Padahal, menurut dia, saat ini pemerintah telah melakukan intervensi dengan mengatur tata niaga bawang putih.

Setelah melakukan kesepakatan dengan importir, pemerintah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) bawang putih sebesar Rp38.000 per kg.

"Saat ini di pasar-pasar tradisional Pontianak, harga bawang putih sudah di atas Rp50.000. Harga tersebut tentu sudah melewati HET yang ditetapkan pemerintah," paparnya.

Dia menyebutkan, kendati kenaikan tersebut lebih disebabkan oleh pasokan yang kurang, pihaknya tetap akan menyurati agen dan distributor terkait harga yang melampaui HET yang ada.

"Walaupun naiknya secara nasional dan beberapa kota saya lihat harganya jauh lebih tinggi dari Pontianak, kami tetap surati karena memang sudah ada ketentuan HET dari pusat," jelasnya. (ant/and)