Ajak Anak Beting Cinta Quran, Nurbaiti Sempat Dikira Intel

Ponticity

Editor hendra anglink Dibaca : 1494

Ajak Anak Beting Cinta Quran, Nurbaiti Sempat Dikira Intel
CINTA ALQURAN - Nurbaiti bersama anak didiknya di Kampung Beting, Pontianak Timur. (Ist/SP)
Stigma negatif kadung melekat pada Kampung Beting, Pontianak Timur, Kota Pontianak. Dekat dengan narkoba dan jadi sarang residivis adalah pandangan orang ketika nama Beting didengar. Stigma itu ingin diubah, tak hanya oleh pemerintah, namun juga pemuda di sana.

“Stigma negatif yang beredar di kawasan ini berdampak buruk terhadap sebagian warga. Untuk menghilangkan stigma negatif itulah saya dan teman-teman membuat komunitas ini,” cerita Nurbaiti, satu di antara penggagas Beting Cinta Quran pada Suara Pemred.

Nurbaiti tak ingin anak-anak Kampung Beting terus hidup dalam stigma yang bikin mereka tak berkembang. Tak bisa dipungkiri pula jika stigma itu serupa cap di jidat yang kerap jadi label pikiran orang. Padahal, tak semuanya buruk. Warga kampung hanya korban, dari upaya orang yang enggan mengenal.

Apa yang dilakukan Nurbaiti sebenarnya sederhana. Memunculkan sisi positif warga yang selama ini kalah oleh stigma. Ada banyak nilai yang tidak banyak orang tahu tentang kampung pinggir sungai Kapuas itu.

“Kampung Beting adalah kampung yang cukup religius, tapi sayangnya masyarakat banyak yang tidak tahu,” ucapnya.

Di Kampung Beting terdapat Masjid Jami, peninggalan Sultan Syarif Abdurrahman Al kadrie, pendiri Kota Pontianak. Istana Kadriah pun ada di sana. Banyak keturunan Sultan tinggal di kawasan itu. Bisa dibilang, Islam dan Beting penaka bulan dan bintang. Tak bisa dipisahkan.

Apa yang dilakukan Nurbaiti di kampungnya, tidak semudah membuat satu lidi patah. Pola kehidupan yang lama melekat pada warga, butuh waktu lama untuk memolesnya. Kendala itu pula yang sebenarnya jadi alasan mengapa komunitas ini fokus pada anak-anak. Memberikan pemahaman karakter baru, untuk hidup ke depan yang lebih maju.

“Pas sebelum launching komunitas, kalau sosialisasi kepada masyarakat, saya dan teman-teman dikirain intel. Alhamdulillah setelah dijelasin, saya juga orang situ, jadi gak curiga,” ucapnya sambil tersenyum.

Setelah mengutarakan maksud dan tujuan para warga, sebagian besar dari mereka menerima. Anak mereka diperbolehkan ikut kegiatan-kegiatan Beting Cinta Quran. Beragam kegiatan pendidikan agama dan akademis, sampai gerakan seperti Beting Mengaji, Beting Berjilbab, Beting Beracting, Beting Berbagi dan event besar, Beting Islamic Fair selama dua minggu, sukses digelar melibatkan anak-anak sekitar.

Dibantu 10 relawan, dan warga sekitar, Beting Cinta Quran kian memberikan semangat perubahan di Kampung Beting. Umur komunitas ini yang baru kurang lebih satu tahun, tak jadi halangan untuk buat Beting makin santun. Anak-anak di sana pun tak hanya dapat ilmu dan pengalaman, tapi juga beasiswa pendidikan.

“Yang mendapatkan beasiswa belum merata, karena keterbatasan dana,” ucap mahasiswi Fisip Untan ini.

Keterlibatan banyak pihak membuatnya makin yakin, stigma pada Beting akan hilang. Seperti Sultan Syarif Abdurrahman Al Kadrie yang membangun Masjid Jami lebih dulu kemudian Istana Kadriah, upaya menguatkan Islam di tanah itu kian terlaksana. 

“Fokus untuk saat ini adalah anak-anak. Insyaallah ke depan tidak hanya anak-anaknya, tapi juga orangtuanya akan kita bina,” tutupnya. (kristiawan balasa)