Langganan SP 2

Pemprov-Pedagang Telur Sepakati Harga Telur Idulfitri

Ponticity

Editor Kiwi Dibaca : 241

Pemprov-Pedagang Telur Sepakati Harga Telur Idulfitri
Telur ayam
PONTIANAK, SP – Kepala Dinas Pangan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalimantan Barat, Abdul Manaf mengatakan, pemerintah Kalbar bersama pedagang sudah menyepakati untuk harga telur di pasaran menjelang Idulfitri 1438 Hijriah.

"Dari pertemuan yang kita lakukan bersama peternak, distributor hingga pedagang, di mana dari pertemuan itu melahirkan kesepakatan untuk harga telur ayam menjelang Lebaran nanti," kata Manaf di Pontianak, Senin (5/6).

Dia menjelaskan, ada tiga kriteria harga yang disepakati. Pertama untuk tingkat peternak (kandang) harga telur yang disepakati yakni Rp22.000 per kilogram.

Kemudian harga telur di tangan distributor yakni Rp23.500, harga di tangan pedagang pengecer sebesar Rp24.000, lalu harga terakhir di tangan konsumen yakni sebesar Rp25.000.

"Dengan kesepakatan itu tinggal dibagikan saja. Satu kilo ada 16 butir, maka berkisar Rp1.550 harga per butir telur," tuturnya.

Manaf menjelaskan, kesepakatan harga itu hanya untuk daerah yang berjarak 150 kilometer dari Kota Singkawang. Jika lebih maka tentu saja harga bisa lebih tinggi karena mempertimbangkan biaya angkut dan lainnya.

Dia menambahkan, kesepakatan itu dibahas dalam rapat yang telah digelar sebelumnya. Ada topik lain yang juga dibahas, yakni ketersediaan stok, bazar dan kebijakan pemerintah terkait dengan kebutuhan bahan pokok selama Ramadan hingga Lebaran nanti.

Untuk stok misalnya, dia memastikan dalam kondisi yang aman. Sebagaimana yang sudah disampaikan sebelumnya, bahwa stok cukup hingga Lebaran nanti.

"Ini dilihat dari jumlah produksi telur mencapai 110 ton per hari. Jumlah produksi itu bisa saja ditingkatkan seiring berjalan Ramadan hingga Lebaran nanti," katanya.

Dikatakannya, pemerintah tetap menyusun skenario guna mengantisipasi lonjakan harga akibat tidak tersedianya stok. Yaitu meningkatkan produksi dan mendatangkan telur dari luar Kalbar.
Dia mengingatkan jika telur yang didatangkan itu harus dari daerah yang bebas flu burung.

"Jadi sudah disiapkan skenario jika terjadi kekurangan. Seperti daging, jika kurang ada daging beku dan saat ini sudah datang, begitu juga dengan telur," katanya.

Sementara itu peningkatan kebutuhan telur tidak bisa dihindari. Seperti Kabupaten Sambas. Sudah menjadi tradisi setiap tahunnya, meningkatnya kebutuhan telur ini untuk pembuatan kue. "Terutama kue lapis yang bahan pokok pembuatnya adalah telur," kata Manaf.

Terkait hal itu, Manaf meminta agar tidak ada pihak yang sengaja memainkan harga dan menumpukkan barang. Sebab Satgas Pangan yang sudah dibentuk tentu akan mengambil tindakan tegas jika itu dilakukan.

Apalagi menurutnya, pangan, peternakan dan kesehatan hewan juga ikut terlibat dalam Satgas Pangan dan akan ada sanksi hukum jika ada yang melakukan hal itu. (ant/and)