Langganan SP 2

Daging Beku untuk Warga Tak Mampu

Ponticity

Editor Kiwi Dibaca : 406

Daging Beku untuk Warga Tak Mampu
PENJUAL DAGING – Penjual daging di Pasar Flamboyan, Kota Pontianak, tengah menyusunnya dagangannya beberapa waktu lalu. Pemerintah Kota Pontianak bersama Bulog akan menggelar pasar murah daging yang diperuntukkan bagi warga tak mampu. SUARA PEMRED/YODI RI
PONTIANAK, SP – Melonjaknya harga daging membuat Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan Kota Pontianak dan Bulog Kalbar akan melakukan operasi pasar demi pemenuhan kebutuhan daging di kota ini. Namun sasarannya pada lokasi strategis dengan target masyarakat kurang mampu.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan Pontianak, Haryadi Tri Wibowo mengatakan, pemenuhan kebutuhan daging dengan operasi pasar itu akan menjual daging beku. Sebagaimana tahun sebelumnya, Bulog Kalbar digandeng untuk menangani tren tiap jelang lebaran ini.

"Dari hasil koordinasi dengan Bulog, operasi pasar dengan menyediakan daging beku segar untuk kebutuhan lebaran nanti harganya kemungkinan Rp85 ribu per kilogramnya," katanya , Rabu (21/6) pagi. Sementara untuk tempat dan waktu, masih dalam koordinasi. Jika melihat penyelenggaraan tahun lalu, titik lokasi tempat penjualan daging itu dilakukan di kecamatan dan Kantor Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan Pontianak, Jalan Aliayang.

Dalam waktu dekat, semuanya akan ditentukan. "Adanya penjualan daging dari Bulog kita harap bisa membantu masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan hari raya," katanya. Hanya saja, untuk teknis penjualan, dia belum tahu akan seperti apa. Termasuk apakah akan menggunakan kupon atau tidak.

"Apakah Bulog menyediakan kupon atau tidak, keputusan ada di Bulog. Kita bantu fasilitasi tempat dan penyaluran saja," terangnya. Sementara itu, dalam pantauan Suara Pemred di Pasar Flamboyan, di hari yang sama, harga daging segar masih dalam kondisi aman walau ada kenaikan. Satu di antara pedagang daging, Farhan mengungkapkan kenaikan terjadi dalam tiga hari terakhir.

“Sebelumnya, harga per kilo daging sapi Rp125 ribu. Tapi saat ini naik Rp130 ribu, mungkin besok naik lagi," katanya ketika ditemui di Pasar Flamboyan. Kenaikan itu katanya sering terjadi jelang Lebaran. Harga naik nyatanya tak membuat niat warga untuk membeli daging berkurang. Banyak warga sudah membeli sejak sekarang. Sepertinya mereka enggan berjubel ke pasar di waktu akhir dekat Lebaran.

"Biasanya satu hari satu ekor sapi. Kalau dari H-3 sampai H-1 itu bisa enam ekor," pungkasnya. Sebelumnya, Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) RI, Syarkawi Rauf saat menyambangi Kota Pontianak beberapa waktu lalu, memastikan stok daging sapi di Indonesia masih surplus untuk memenuhi kebutuhan selama bulan Ramadan hingga Idulfitri.

"Antara kebutuhan dan stok daging sapi saat ini berdasarkan data Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian stok kita aman dan bahkan surplus," ujarnya. Dia menyebutkan, saat ini sapi bakalan di Indonesia mencapai 116.417 ekor. Satu ekor sapi bakalan rata-rata seberat 200 kilogram.

Kemudian setelah empat bulan dilakukan penggemukan di Indonesia menjadi 500 kilogram per ekor. Sehingga total daging sapi yang tersedia untuk dua bulan mendatang seberat 23.167 ton.

Belum lagi daging beku yang ada saat ini sudah mencapai 12.025 ton. Sapi lokal saat ini ada sekitar 356.620 ekor atau setara dagingnya seberat 62.400 ton.

Stok kerbau juga ada di Bulog seberat 35.326 ton. Sehingga khusus untuk sapi kita saat ini sekitar 125.000 ton. "Sedangkan untuk kebutuhan hanya sekitar 106 ton. Jadi ada surplus," kata dia.

Dijelaskan, bahwa ketersedian stok yang ada maka tidak ada alasan selama Ramadan dan Idulfitri harga daging sapi naik atau berada di atas kewajaran.

"Jika ada kenaikan patut diduga ada pelaku usaha yang mengurangi stok ke rumah potong hewan. Dengan stok di rumah potong berkurang otomatis di tingkat ritel dan pasar akan berkurang sehingga harga naik. Itu menjadi perhatian kita," jelasnya.

Dikatakannya, berdasarkan pengalaman pada 2015 lalu, sebanyak 32 perusahaan penggemukan sapi melakukan pengurangan stok ke rumah potong hewan. Dengan demikian harga di ritel dan pasar melonjak naik hingga Rp150 ribu per kilogram.

"Dengan adanya perilaku pengurangan dan tindakan penahanan stok maka kami telah menindak semua perusahan penggemukan tersebut. Untuk tahun ini juga demikian jika ada yang ingin coba - coba maka akan ditindak tegas. Apalagi pak presiden sudah tegas menyerukan agar semua pangan di masyarakat stabil baik dari stok maupun harganya," katanya.


Dia menambahkan, untuk harga sapi yang dijual di pasar bervariasi tergantung jenis dagingnya. Menurutnya ada tiga variasi yakni kualitas rendah di tingkat rumah potong hewan kisaran Rp72 ribu, kualitas sedang Rp90 ribu dan kualitas baik Rp105 ribu. (bls/ant/and)