‘Pajak Bertutur’ Cetak Generasi Sadar Pajak di Sekolah

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 493

‘Pajak Bertutur’ Cetak Generasi Sadar Pajak di Sekolah
PAJAK BERTUTUR – Kepala KPP Pratama Pontianak, Nurbaeti Munawaroh menyampaikan materi dalam program ‘Pajak Bertutur’ di SMAN 1 Pontianak, Jumat (11/8). Program ini sebagai upaya membentuk generasi muda sadar pajak. SP/Nova
PONTIANAK, SP – Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Pontianak menggelar "Pajak Bertutur" di sejumlah sekolah di Pontianak. Program ini sebagai bentuk upaya menanam dan melahirkan generasi emas yang sadar pentingnya pajak, dilaksanakan serentak secara nasional.

 “Untuk kita menyasar pelajar dari tingkat SD hingga SMA. Sedangkan Kanwil DJP Kalbar sendiri ke perguruan tinggi," ujar Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Pontianak, Nurbaeti Munawaroh saat ikut juga hadir dalam kegiatan tersebut, Jumat (11/8).

Nurbaeti memaparkan, program Pajak Bertutur adalah bagian dari inklusi kesadaran pajak . "Yang jelas apa yang dilakukan juga selaras dengan masuknya pendidikan pajak dalam kurikulum di sekolah," paparnya.

Dia menambahkan, tujuan dari inklusi kesadaran pajak ke dalam dunia pendidikan sendiri adalah untuk memberikan edukasi sejak dini. Kepada masyarakat, khususnya kepada anak didik berkaitan dengan pajak, apa itu pajak dan manfaatnya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sehingga dalam jangka panjang, dapat mencetak generasi emas sadar pajak. Hal tersebut penting dilakukan mengingat pos pendapatan pada APBN dalam beberapa tahun terakhir lebih dari 75 bersumber dari pajak. 
“Sementara di lain pihak penerimaan pajak juga dalam beberapa tahun terakhir tidak pernah memenuhi harapan,” katanya.

Menurutnya, KPP Pratama Pontianak sendiri untuk program ini dilakukan pada lima lokasi yaitu SD Negeri 03 Pontianak, SMP Negeri 3 Pontianak, SMA Negeri 3 Pontianak, SMA Negeri 1 Pontianak, SMK Negeri 1 Pontianak, dengan total peserta 288 anak didik.

"Materi yang disampaikan kepada anak didik telah disesuaikan dengan tingkat pendidikan masing-masing dan tentu saja dikemas secara menarik baik melalui video interaktif maupun kuis," paparnya.

Dia berharap, melalui kegiatan yang ada generasi emas pada masa mendatang akan lebih paham dan sadar dari pentingnya taat dan membayar pajak.

"Besar harapan kita juga agar semua pihak untuk menggaungkan inklusi kesadaran pajak. Sehingga dalam jangka panjang dapat mencetak generasi emas sadar pajak," harapnya.

Kata Nurbaeti, tidak hanya negara Indonesia yang memasukkan pendidikan pajak dalam kurikulum sekolah. Bahkan seperti di Amerika Latin dan sembilan negara lainnya juga melakukan hal serupa melalui kerja sama kementerian pendidikan dan otoritas pajak.

“Secara kuantitatif, program ini menargetkan diikuti oleh sedikitnya 100.000 siswa. Sehingga akan tercatat sebagai sosialisasi perpajakan dengan peserta terbanyak. Dan kegiatan ini tentu saja akan memecahkan rekor MURI,” ujarnya. 

Bahkan, sebagai bentuk  keseriusan pemerintah terhadap upaya memberikan edukasi kepada peserta didik, beberapa buku telah dihasilkan untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah. Buku ini digunakan sebagai bahan ajar bagi siswa.

"Serta sebagai bahan pengayaan bagi guru dalam menyampaikan materi kesadaran pajak kepada anak didik," terangnya.

Sedangkan pada jenjang pendidikan tinggi, capaian kerjasama dengan Direktorat Jenderal Pembelajaran, adalah integrasi materi kesadaran pajak dalam bahan ajar kuliah, Mata Kuliah Wajib Umum (MKWU) pada perguruan ringgi di seluruh Indonesia.

Terdiri dari mata kuliah Bahasa Indonesia, Pancasila, Kewarganegaraan, Agama Islam, Agama Kristen, Agama Katolik, Agama Hindu, Agama Budha dan Agama Konghucu. 

Selain buku MKWU, juga telah dihasilkan sebuah buku pengayaan kesadaran pajak dengan judul ‘Materi Terbuka Kesadaran Pajak pada Pendidikan Tinggi’ yang ditulis oleh beberapa dosen dari berbagai perguruan tinggi. (ova/ant/and)

Komentar