Merdeka Tanpa Kabut Asap

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 687

Merdeka Tanpa Kabut Asap
Ilustrasi
SP - Meski sudah merdeka selama 72 tahun, namun bagi Front Perjuangan Rakyat (FPR) Kalbar, Indonesia belum merdeka seutuhnya. Terutama di Kalbar belum merdeka dari bencana kabut asap.

Dalam aksi puluhan aktivis FPR di Tugu Digulist Untan, Kamis (17/8) petang bertepatan dengan HUT RI ke-72, Korlap aksi, Nibertus Erik menilai kemerdekaan yang sebenar-benarnya belum sepenuhnya dirasakan di Kalbar. 

Dari tahun ke tahun, bencana asap akibat kebarakaran hutan dan lahan (Karhutla) selalu terjadi yang mengakibatkan jatuhnya korban.

"Aksi ini untuk mengingatkan 2015 kemarin, tiga orang dari Kalbar meninggal dunia akibat kabut asap," ujarnya kepada awak media.

Dia memandang, pemerintah belum serius menangani masalah asap akibat Karhutla. Padahal, akar masalah asap yang terjadi sejak 1999 sudah sangat jelas, adanya monopoli oleh perusahaan perkebunan kayu dan sawit. Maka dari itu, akar masalah inilah yang harusnya diselesaikan oleh pemerintah.

"Data dan fakta yang ada, pembakaran hutan dan lahan banyak terjadi di konsesi perkebunan," ungkapnya.

Erik menyebutkan, dari sejumlah data yang dihimpun oleh Link-Ar Borneo mulai Mei sampai 12 Agustus 2017, ditemukan ratusan hotspot.

"Satelit Terra Aqua Lapan total 168 hotspot, NPP Lapan 101 hotspot, dan NOOA 158 hotspot," sebutnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, belum ditemukan tindakan tegas baik dari pemerintah maupun aparat di Kalbar guna memberikan efek jera kepada akar pelaku Karhutla.

"Menyudahi kabut asap sifatnya hanya pencegahan, bukan untuk memberikan efek jera. Padahal itu sudah jelas dari satelit, titik-titik api itu dari wilayah perusahaan," jelasnya.

FPR meminta, pemerintah tegas dengan mencabut izin perkebunan perusahaan yang terbukti membakar lahan. Jangan sampai tindakan tegas hanya berlaku kepada masyarakat petani yang membuka lahan. (umr/and)

Komentar