Langganan SP 2

Penganiayaan Bocah SDN 39

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 191

Penganiayaan Bocah SDN 39
KAWAL KASUS – CA (7), bocah SDN 39 Pontianak Utara (tengah) usai pemeriksaan, Senin (21/8). Terkait kasus ini, KPAID Kalbar diminta serius mengawalnya. SP/Balasa

Tuntut KPAID Serius Kawal Kasus 

Dewi Aripurnamawati, LBH Anak dan Ibu Tunas Bangsa
Kita minta bantuan semua pihak untuk menyebarkan informasi ini agar orang tua kandung atau keluarga kandung anak ini bisa tahu. Sehingga bisa diambil kembali. Saya dan Mas Harry Daya sedang berusaha anak ini bisa diselamatkan dan polisi bisa mengungkap dugaan kekerasan pada anak ini

PONTIANAK, SP
– Proses hukum dugaan penganiayaan seorang bocah perempuan, CA (7) hingga sekarang masih mandek. Murid SDN 39, Jalan Kebangkitan Nasional, Kelurahan Batu Layang, Kecamatan Pontianak Utara ini, menjadi korban pemukulan keluarga angkatnya hingga mengalami lebam di bagian pelipis mata.

Terhadap kasus ini, Staf ahli Ketua DPD RI, Harry Adrianto Daya mengajak semua pihak terus mengawalnya. Sejak diberitakan beberapa waktu lalu, polisi tengah menangani kasus itu.

"Setelah kita cek bersama di lapangan,  ternyata KPAID Kalbar tidak mengawal kasus anak ini, termasuk setelah kita kroscek ke Kapolsek Utara. KPAID tidak pernah berkomunikasi ulang atau membuat laporan resmi ke polisi. Sementara polisi mengaku menunggu tindak lanjut KPAID Kalbar," kata mantan anggota DPRD Kota Pontianak itu.

Harry mengatakan hal ini cukup memprihatinkan. Kasus macam ini tentu jadi catatan buruk. Beberapa waktu lalu, Sekjen Hanura Kalbar ini memang melakukan pengecekan ulang terhadap kasus yang menimpa CA bersama LBH Anak dan Ibu Tunas Bangsa, Dewi Aripurnamawati.

"Hari Jumat (18/8) pagi itu, tim gabungan dari Polsek Utara langsung menjemput Aphin bapak angkat CA untuk dilakukan pemeriksaan.  Sementara si anak kini sekolah yang di SD Fajar, dekat kawasan Pasar Siantan," imbuhnya.

Sementara itu, Dewi Aripurnamawati dari LBH Anak dan Ibu Tunas Bangsa mengungkapkan ini murni pelanggaran pidana. Pertama, anak malang ini diangkat pada usia empat tahun dan tidak melalui prosedur yang benar. Nama aslinya diganti, begitu juga asal-usul orang tuanya. Aktanya diubah total.

"Itu sudah meghilangkan barang bukti dan bisa dijerat pidana. Masa' ditanya ndak tahu orang tua atau saudara kandung anak ini di mana. Belum lagi dugaan penganiayaan berat terhadap anak ini. Polisi harus bisa mengungkap ini," kata aktivis perempuan.

Menurut Dewi, kasus CA harus segera ditangani. Informasi lain yang dia dapat, CA kerap mengalami kekerasan.

"Kita minta bantuan semua pihak untuk menyebarkan informasi ini agar orang tua kandung atau keluarga kandung anak ini bisa tahu. Sehingga bisa diambil kembali. Saya dan Mas Harry Daya sedang berusaha anak ini bisa diselamatkan dan polisi bisa mengungkap dugaan kekerasan pada anak ini," harapnya.

Kapolsek Pontianak Utara, Kompol Ridho menjelaskan bahwa polisi sedang mendalami kasus dugaan kekerasan pada anak di bawah umur ini. "Polisi sedang memeriksa saksi-saksi, dan setelah lengkap kasus ini akan dilimpahkan ke Polresta Pontianak secepatnya," ucapnya.

Kabid Humas Polda Kalbar, Kombes Pol Sugeng Hadi Sutrisno membenarkan hal itu. "Ya kasusnya sudah kita pantau dan Polresta Pontianak yang akan menanganinya langsung," tegasnya. 

Sementara itu, Komisioner KPAI Kalbar, Alik Rosyid menerangkan pihaknya minggu lalu sudah menindaklanjuti adanya dugaan kekerasan terhadap CA. Ditemui langsung di rumah si anak, dia mengungkapkan hal pertama yang dilakukan adalah memastikan CA terus sekolah. 

"Makanya ketika datang ke sana, kita mendorong pada orangtuanya dan keluarganya anak ini harus sekolah dulu, karena di sekolah yang lama, anak ini sudah berhenti. Sekolah yang baru ini belum ada," ucapnya, Senin (21/8).

Sayangnya, dalam pertemuan pertama dengan CA, pihak KPAI belum bisa mengorek informasi. Selain karena baru kenal, kondisi juga tidak memungkinkan karena ramai. 

"Kami menunggu dengan pola-pola kami sendiri,  dan menggali melalui gurunya, sehingga menunggu sekolah yang barunya. Tadi kita sudah ke sekolah dan bertemu CA,  bahkan saya juga sudah sempat bermain dan dia menunjukan kelas dan bangkunya," jelasnya. 

Setidaknya ada tiga Komisioner KPAI yang turun Senin kemarin. Selain Alik, ada pula Handrik Damanik dan Dewi. Tak hanya menemui CA, mereka juga ke Polsek Utara. 

"Nanti yang akan membuat laporan Mbak Dewi. Dari KPAID akan mengawal sesuai ketentuan dan memberikan pendampingan psikologis terhadap CA ini," sebutnya. 

Alik menjelaskan, yang akan membuktikan dugaan kekerasan ada pada ranah kepolisian. Dalam hal ini, KPAI hanya mengawal.

"Dari yang disampaikan CA, memang dia ada mendapat kekerasan tapi yang membuktikannya adalah kepolisian nantinya," pungkasnya. (bls/and)