Tikar Kayu Napi Kalbar Dilirik Pasar Internasional

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 463

Tikar Kayu Napi Kalbar Dilirik Pasar Internasional
KERAJINAN TANGAN – Kerajinan tangan narapidana di Rutan Kelas II B Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Sementara itu di Rutan Kelas II A Pontianak, hasil karya narapidana berhasil menembus pasar internasional, berupa tikar kayu. Antara Foto
Industri Kreatif di Balik Jeruji Besi

Sebuah prestasi berhasil diukir oleh narapidana Rutan Kelas II A Pontianak. Warga binaan yang kerap dikaitkan dengan stigma buruk, nyatanya bisa berkontribusi mengharumkan nama Kalimantan Barat di kancah internasional.

SP - Hal yang membanggakan itu dicapai melalui hasil karya apik, buah karya narapidana Rutan berupa anyaman tikar kayu. Kerajinan tangan yang lahir dari balik jeruji besi tersebut memikat pasar internasional dan diekspor ke negara tetangga, Malaysia.

"Ada sepuluh Lembaga Pemasyarakatan dan Rutan di Indonesia termasuk Rutan Pontianak yang produk kerajinan anyaman tikar kayunya sudah menembus pasaran luar negeri," kata Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Kemenkumham RI, Ma'mun, di Pontianak, Jumat (25/8).

Dia menjelaskan, pembinaan narapidana merupakan bentuk pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pembekalan keterampilan.

Melalui industri Lapas atau Rutan tersebut, diharapkan warga binaan nantinya dapat berintegrasi di masyarakat, sehingga menjadi manusia pembangunan yang aktif dan produktif, serta kembali menjadi warga yang bertanggungjawab.

"Dengan bekerja, narapidana akan termotivasi hidupnya. Mereka dapat mengaktualisasikan diri dengan kreativitas, inovatif, serta menimbulkan kebanggaan diri karena adanya pengakuan sosial terhadap hasil karya mereka," ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Pembinaan Narapidana dan Latihan Pembinaan Produksi pada Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS), Harun Sulianto mengatakan, selain Rutan Kelas IIA Pontianak, sejumlah Rutan dan Lapas lainnyan di Indonesia yang menjadi penyumbang barang ekpor ke berbagai negara, yakni Lapas Kelas I Surabaya di Porong, Lapas Kelas I Cirebon, Lapas Narkotika Kelas IIA Cirebon, Lapas Kelas IIA Bandung, Lapas Kelas IIA Ambarawa, Lapas Perempuan Kelas IA Semarang, lapas Kelas IIB Banyuwangi, Lapas Kelas IIB Toli-Toli, dan Rutan Kelas II Cipinang.

"Sepuluh Lapas dan Rutan ini berhasil melakukan pembinaan terhadap narapidana karena hasil karya para narapidana tersebut diekspor ke berbagai negara. Tentu saja industri kreatif warga binaan ini memiliki nilai ekonomis dan sangat prospek," katanya.

Harun Sulianto menambahkan, pihaknya akan terus meningkatkan jumlah narapidana yang bekerja di sektor produktif itu. Saat ini tercatat sebanyak 550 narapidana yang sudah ahli mengerjakan produk ekspor di sepuluh Lapas dan Rutan tersebut. (antara/and)