Stok Berkurang, Harga Ikan Melonjak

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 612

Stok Berkurang, Harga Ikan Melonjak
SORTIR IKAN – Seorang nelayan di pulau Jawa, tengah menyortir ikan sebelum disalurkan ke pasaran. Di Kalimantan Barat, akibat cuaca ekstrem, nelayan gagal melaut hingga mengurangi stok ikan. Akibat hal tersebut, harga ikan di pasaran pun mulai naik. Ant
PONTIANAK, SP – Stok ikan tingkat penampung dan sejumlah pasar yang ada di Kota Pontianak berkurang. Akibatnya, hal ini mendorong harga ikan yang dijual pun merangkak naik.

"Stok ikan di penampung dan di pasar saat ini berkurang tidak terlepas dari pengaruh cuaca yang ekstrem. Dengan kondisi tersebut membuat nelayan ada yang tidak melaut," ujar pemerhati perikanan di Kalbar, Bani, kemarin.

Bani menjelaskan saat ini hanya kapal di atas 30 gross ton saja yang berani melaut. Sedangkan untuk di bawah tersebut sangat jarang yang berani.

"Kapal kecil terpaksa tidak melaut karena gelombang yang besar. Dengan kapal kecil-kecil tidak melaut sedang kapal besar tidak terlalu banyak maka suplai ikan di pasar berkurang. Sehingga wajar ada kenaikan sejumlah harga ikan dan bahkan ada beberapa jenis ikan sulit ditemukan," katanya. 

Bani memprediksi, untuk normal kembali stok ikan ketika cuaca mendukung nelayan melaut. Menurut sekitar awal tahun 2017 baru akan kembali normal.

"Habis tahun ini kalau baru normal lagi nelayan melaut. Semoga saja lebih cepat saja cuaca ekstrem usai sehingga nelayan melaut," harapnya.

Terkait persoalan nelayan, dia menyebutkan masih pada penerapan aturan pelarangan pukat trawl yang akan diterapkan pada Desember 2017 mendatang.

Dengan pelarangan tersebut menurutnya, tentu akan mengganggu kebiasaan nelayan saat ini. Meskipun saat ini pemerintah memiliki upaya pergantian jenis pukat. Namun pukat yang diganti tersebut tidak sesuai dengan kebiasaan dan kesesuaian kapal nelayan. 

“Jadi soal bantuan pergantian pukat tersebut perlu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat," kata dia.

Saat ini untuk harga ikan di Pasar Flamboyan Pontianak ada kenaikan di kisaran Rp5.000 - Rp10.000 per kilogram. Sebagai contoh untuk harga ikan tongkol hitam dijual Rp35.000 per kilogram. Sedangkan sebelumnya hanya Rp25.000.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kalimantan Barat, Gatot Rudiyono mengatakan, faktor musim dan gelombang besar di laut Kalbar membuat nelayan saat ini sulit melaut sehingga stok ikan di Kalbar sedikit berkurang.

"Kita sekarang ini berkurang sekitar 10 persen. Ini karena ada musim dan lain sebagainya. Bukan ikannya tidak ada, tetapi nelayannya yang tidak bisa melaut," ujarnya di Pontianak, kemarin.

Kebutuhan ikan di seluruh Kalbar per tahunnya mencapai 185 ribu ton. Untuk tahun ini, terang Gatot, hasil produksi ikan sekitar 180 ribu ton. "Harapan kami nanti targetnya 190 ribu ton dari hasil produksi," ucapnya.

Namun demikian, Gatot memperkirakan, ketersediaan kebutuhan ikan akan segera kembali normal. "Tapi nantinya akan tertutup lagi kalau musim puncak (ikan). Jadi sekarang hanya kembali ke manajemen saja," katanya.

Gatot memaparkan, untuk mengatasi kebutuhan ikan, tindakan yang perlu dilakukan adalah manajemen di saat musim puncak.

"Bagaimana kita mengelola ikan-ikan di saat musim puncak, masukkan ke cold storage seharusnya. Musim seperti ini dikeluarkan, seharusnya begitu," terangnya.

Dia mengatakan, Kalbar memiliki beberapa cold storage di antaranya di Pemangkat, Kabupaten Sambas, Jeruju Pontianak, Mempawah dan Ketapang. Cold storage atau ruangan yang dirancang khusus untuk mempertahankan kesegaran ikan ini, cukup untuk menampung ikan yang ada. "Daya tampungnya kurang lebih sampai 50 ton. Cukup besar kok," pungkasnya. 

Sementara itu, Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (Forikan) Kalbar menilai konsumsi ikan masyarakat masih jauh dari ideal yang seharusnya dikonsumsi.

Ketua Forikan Kalbar, Frederika Cornelis mengatakan konsumsi ikan masyarakat Kalbar baru 36,43 kg per kapita per tahun dan idealnya mesti mengkonsumsi 100 hingga 200 gram per kapita per hari atau belum mencapai 73 kg per kapita per tahun.

“Tahun lalu konsumsi ikan di Kalbar 24 kg per kapita per tahun. Masyarakat Jepang mengonsumsi ikan 140 kg per kapita per tahun,” kata Frederika.

Dia mengatakan, penyebab hal itu adalah citra produk perikanan masih belum familiar atau masyarakat memandang ikan adalah lauk yang memiliki tulang banyak dan sulit dikonsumsi.

“Mitos lain masalah kesehatan, misalnya alergi dan cacingan. Selain itu, ada anggapan makan ikan kurang bergengsi,” ungkapnya.

Padahal, menurutnya, ikan adalah sumber makanan bergizi tinggi mengandung Omega 3 yang sangat bagus untuk otak.

Dalam kandungan Omega 3 juga terdapat asam lemak yang berperan melindungi jantung, menurunkan kolesterol, dan memperbaiki fungsi dinding pembuluh darah. (umr/ant/and)

Komentar