Langganan SP 2

Ketahanan Pangan Perlu Cocok Tanam Ecofriendly

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 255

Ketahanan Pangan Perlu Cocok Tanam Ecofriendly
BRIEFING - Dari kanan, Pakar Hama dan Penyakit Tanaman Untan, Dr Ir Tris Haris Ramadhan, Kadistan-TPH Kalbar, Heronimus Hero, dan Ketua KTNA, Joko Wiryanto, saat memaparkan sistem pertanian berkelanjutan. SP/Umar

Media Briefing Multipihak


Guna mewujudkan ketahanan pangan, dibutuhkan upaya berbagai pihak untuk menjaga lahan pertanian tanaman pangan yang masih ada. Salah satu upayanya, dengan menerapkan sistem pertanian berkelanjutan.

SP - Pada diskusi media briefing di Aula Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura (Distan-TPH) Kalbar, Selasa (29/8), lembaga Gemawan, PPSW Borneo, Yayasan Dian Tama, JPK dan Simpai Kapuas, bekerja sama dengan Distan-TPH Kalbar, mendorong peran petani perempuan dan petani secara umum supaya mampu menerapkan sistem tersebut.

Kepala Distan-TPH Kalbar, Heronimus Hero mengatakan, diperlukan pengetahuan agar sistem pertanian berkelanjutan ini bisa terealisasi.

"Wawasan yang paling utama. Karena pemikiran masyarakat, terutama pengusaha yang belum begitu paham, mereka menganggap bumi, air, lingkungan itu sesuatu yang tidak ada batasnya. Padahal itu gejalanya sudah nampak. Perubahan iklim, menurunnya kualitas tanah, kualitas air itu menghambat aktivitas pertanian," ujarnya.

Dia menjelaskan, sistem penerapan pertanian berkelanjutan ini dapat dilakukan dengan cara pelaksanaan aktivitas bercocok tanam yang ecofriendly atau ramah lingkungan.

Terangnya, penggunaan media tanam yang ramah lingkungan sangat berpengaruh pada kondisi pertanian ke depannya.

"Untuk ecofriendly, dalam pelaksanaan penerimaan sistem pertanian berkelanjutan memang tidak bisa dilakukan secara langsung. Mesti bertahap," ucapnya.

Selain penerapan sistem, lanjutnya, dibutuhkan juga komitmen semua pihak dalam menjaga dan mengawal lahan pertanian pangan agar tidak beralihfungsi.

Menurut dia, Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) adalah masalah mendesak untuk diamankan guna menjaga ketahanan pangan, utamanya upaya khusus (Upsus) padi, jagung dan kedele/kedelai (Pajale).

"Permasalah mengenai LP2B ini, antara lain data pertanian di kabupaten dan provinsi masih berbeda sehingga menyulitkan untuk mengamankan fungsinya," jelas Hero.

Seiring dengan meningkatnya pemahaman masyarakat khususnya petani maupun para praktisi tani, harapan ke depan pertanian berkelanjutan ini bisa tersosialisasi secara menyeluruh.

"Plus, ini peran jurnalis untuk bisa menyebarluaskannya. Kami minta pertolongannya seperti itu, agar masyarakat semakin paham bahwa pertanian berkelanjutan itu tidak hanya untuk saat ini, tapi pertanian masa depan," harap Kadistan-TPH Kalbar yang belum lama dilantik ini.

Hero mengatakan, pihaknya juga berupaya mengenalkan masyarakat tentang pertanian, dengan penyuluhan pertanian ke tingkat pendidikan.

Pihaknya sudah mengajukan ke Dinas Pendidikan, agar bisa melakukan penyuluhan ke sekolah-sekolah yang dimulai dari TK, SD, SMP dan SMA. 

“Kalau perguruan tinggi tidak sebab sudah ada di jurusan pertanian," ujarnya. 

Hal tersebut dilakukan mengingat pemahaman masyarakat tentang pertanian masih sangat kurang, padahal pertanian merupakan salah satu ujung tombak dalam pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat.

Pengelolaan Menyeluruh

Pakar Hama dan Penyakit Tanaman Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Dr Ir Tris Haris Ramadhan, mengatakan sistem pertanian berkelanjutan dilakukan dengan menerapkan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). "Maksudnya, mengelola tanaman secara menyeluruh," terangnya.

Dia menjelaskan, dalam praktik penerapan PTT diawali dengan pemahaman terhadap masalah dan peluang pengembangan sumber daya dan kondisi lingkungan setempat.

Sasaran utamanya adalah para petani. Maka dari itu, pendekatan penerapan PTT ini dilakukan secara partisipatif, spesifik lokasi, terpadu, sinergis atau serasi dan dinamis.

Menurut Tris, tidak sedikit petani yang enggan meninggalkan teknologi pertanian yang mengandung bahan kimia seperti herbisida. Selain mudah, cara ini lebih instan.

Namun, akibatnya lahan pertanian rentan rusak sehingga untuk mewujudkan pertanian yang berkelanjutan akan sulit tercapai.

"Kita berharap petani-petani di lapangan sadar secara pengetahuan dan secara fungsi, dengan memberikan mereka pendampingan secara teknis," kata Tris.

Tidak gampang mengembalikan kesuburan tanah dengan cara yang alami. Seringkali petani mengambil jalan pintas dengan menggunakan bahan-bahan kimia.

Bahkan, lahan pertanian yang sudah dianggap tidak produktif, beralihfungsi dijadikan lahan untuk bangunan.

Namun siapa sangka, untuk mengembalikan kesuburan tanah kini bisa dilakukan dengan cara yang alami, yakni dengan F1 Embio Gambut.

Pupuk bio gambut, hasil inovasi dari Joko Wiryanto, Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA), beberapa tahun lalu, mampu memperbaiki tanah yang miskin akan bahan organik kembali menjadi subur.

"Embio Gambut ini adalah solusi untuk mengembalikan kesuburan tanah dan sebagai reklamasi tanah dengan menggunakan bahan organik," terang Joko.

Embio Gambut merupakan formula yang dilengkapi bakteri yang dapat mengurangi kandungan litin yang terdapat pada tanah gambut. Sehingga, unsur hara makro dan mikro dalam tanah bisa diurai menjadi gula-gula yang bisa diserap dan tanah gambut yang asam menjadi netral.

"Sehingga akar tanaman dapat menyerap unsur hara makro dan mikro yang terdapat di dalam tanah yang sudah berubah menjadi lahan kompos," jelasnya. (umar faruq/ova/and)