Penganiayaan Anak di Klenteng Ketapang Terungkap

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 1202

Penganiayaan Anak di Klenteng Ketapang Terungkap
DITANGKAP – Empat tersangka penganiayaan anak di bawah umur, yang dilakukan di sebuah Klenteng di Kabupaten Ketapang berhasil ditangkap oleh anggota Ditreskrimum Polda Kalbar, Kamis (24/8) pekan lalu. SP/Abdul
PONTIANAK, SP – Anggota Subdit IV Renakta Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Kalbar, menangkap empat orang tersangka penganiayaan terhadap anak di bawah umur berinisal AF (13). 

Keempat tersangka masing-masing berinisial Al, F, AB dan AN. Penganiayaan terhadap anak di bawah umur ini, dilakukan oleh mereka di sebuah rumah ibadah, Klenteng, di Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang. Bentuk penganiayaan yang dilakukan kepada korban berupa tindak kekerasan fisik dan tekanan pada kejiawaan.

Kasubdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Kalbar, AKBP Aldinan Manurung mengungkapkan, korban merupakan warga Kota Singkawang. Di Kendawangan, korban bekerja sebagai penjaga toko.

Korban semula dibawa ke Kendawang oleh tersangka inisial AI. Antara korban dan tersangka AI, sebelumnya memang saling kenal. Mereka pernah kerja bersama di perusahaan peternakan di Singkawang.

Namun, tersangka AI berhenti bekerja lebih dahulu di peternakan tersebut, dan memilih mengadu nasib ke Kendawangan. Setelah beberapa lama bekerja, lantas AI menghubungi korban dan menawarkan pekerjaan. 

Korban pun tertarik dengan tawaran pekerjaan tersebut. Kemudian, berangkatlah si korban ke Kendawangan untuk bekerja menjaga toko. Setelah bekerja beberapa bulan, ternyata korban tak betah. 

“Korban kemudian mengutarakan keinginannya untuk pulang saja ke Singkawang kepada tersangka AI. Dari sinilah kemudian mulai terjadi persoalan. Tersangka AI berusaha mencegah korban agar tak pulang,” jelas Aldinan saat rilis pengungkapan kasus di Polda Kalbar, Rabu (30/8).

Bujuk rayu pun dilakukan tersangka AI untuk menghentikan niat korban yang bersikeras akan pulang ke Singkawang. Tersangka AI terus membujuk korban dengan memberikan telepon genggam agar korban tetap bertahan. 

Setelah dibelikan telepon genggam, korban sempat luluh dan mencoba bertahan. Selang dua pekan, tersangka AI pun membawa korban ke sebuah Klenteng yang diurus oleh temannya berinisial F di Ketapang.

Di Klenteng tersebut juga ada rekan AI berinisial An Is dan F. Setelah sampai di sana, kemudian korban mulai mendapat perlakuan tak menyenangkan oleh keempat tersangka.

"Di Klenteng ini korban dipaksa oleh tersangka AI dan tiga temannya inisial Is,  An dan F untuk mengakui perbuatan pencurian uang milik tersangka AI yang dituduhkan ke korban. Korban yang tak merasa berbuat hal itu, mencoba melawan," kata Aldinan.

Satu orang teman tersangka AI inisial F pun menggoreskan sebilah mandau ke tangan dan punggung korban. Saat dianiaya, tangan dan kaki korban dalam kondisi terborgol. 

Dengan kondisi terbelenggu, korban pun terus dianiaya. Bahkan ditampar oleh keempat tersangka hingga tak berdaya. Aksi penganiayan yang dialami korban pun direkam tersangka AI.

Lantas rekaman itu dibagikan oleh tersangka AI ke media sosial dan dikirim ke orangtua korban inisial LI yang berada di Singkawang. Melalui video tersebut, tersangka AI meminta uang tebusan ke orangtua korban sebesar Rp20 juta, jika ingin korban dibebaskan.

"Orangtua korban yang melihat anaknya teraniaya, kemudian hanya bisa memberikan uang sebanyak Rp5 juta ke tersangka AI, dengan harapan anaknya bisa dilepaskan," ungkapnya.

Setelah dua hari disekap, kemudian korban dilepaskan dan dibawa ke rumah An di Ketapang, sembari menunggu transfer uang dari orangtua korban senilai Rp5 juta itu.

"Setelah uang sudah diterima melalui transfer ke rekening An, akhirnya korban dipulangkan dengan dititipkan ke teman An menggunakan truk dari Ketapang sampai ke Pontianak. Selanjutnya, korban naik bus menuju pulang ke Singkawang," jelasnya.

Setibanya di tempat orangtuanya, kemudain orangtua korban pun membuat laporan ke Ditreskrimum Polda Kalbar atas tindakan penganiayaan terhadap anaknya yang masih di bawah umur itu. 

"Dari laporan ini kemudian, kita melakukan penyelidikan. Dan hari Kamis pekan lalu, empat orang tersangka ini berhasil diringkus," katanya.

Menurut Aldinan, dalam kasus ini masih ada beberapa tersangka lain yang terlibat dalam penganiayaan terhadap korban. Mengenai apa motif penganiayaan tersebut, Aldinan menduga adalah pemerasan. 

"Satu orang masih kita kejar, karena ikut melakukan penganiayaan dengan menggunting rambut dan menggantungkan botol ke telinga korban," katanya.

Terhadap keempat tersangka yang kini sudah diamankan, akan dikenakan Pasal 80 Ayat 1 Undang-undang Republik Indonesia, tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Selain itu terhadap tersangka juga akan dijerat Pasal 333 Ayat 1 KUHP, Pasal 170 Ayat 1 KUHP dan Pasal 368 KUHP. "Dalam menangani kasus ini, tentu kita akan berkoordinasi dengan pihak KPAID, karena korban merupakan anak di bawah umur," pungkas Aldinan. (abd/and)