Ospek dan Budaya Kekerasan di Kampus

Ponticity

Editor hendra anglink Dibaca : 1897

Ospek dan Budaya Kekerasan di Kampus
Ilustrasi. (SP)
PONTIANAK, SP – Kekerasan fisik dan verbal masih terjadi dalam lingkungan pendidikan kampus, terutama dalam kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB). Contoh terbaru terjadi di lingkungan perguruan tinggi Universitas Tanjungpura (Untan).

Tahun sebelumnya, 2016, kekerasan terjadi pada Fakultas Teknik. Orangtua protes sehingga muncul kebijakan, melibatkan orangtua dalam kegiatan pengenalan kampus pada 2017.

Ketika kekerasan sudah mulai reda di Fakultas Teknik Untan, kini kekerasan masih terjadi pada PMB di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Untan. Beberapa dosen FISIP dan orangtua yang gerah dengan kekerasan yang terjadi, buka suara kepada kepada Suara Pemred.

Tak ingin disebutkan namanya, sebut saja salah satu dosen, Melati, mengatakan praktik kekerasan dalam proses PMB FISIP ini seolah menjadi tradisi tiap tahunnya. Belum ada satu pihak pun yang secara serius, ingin menghentikan praktik ini.

"Kita berharap ini tidak berulang, tapi kenyataannya (kekerasan) berulang-ulang. Kita berani karena pertama, sering ada kasus. Kedua, ada lembaga luar yang mau menampung aspirasi ini. Ini yang membuat kami semangat," ujarnya di Pontianak, Senin (4/9).

Kegiatan PMB di FISIP, ibarat zaman jahiliyah di masa kini. Seperti budak, bebas disuruh-suruh semau panitia yang tak lain mahasiswa senior, tanpa bisa melakukan protes. Padahal, instruksi tersebut sama sekali tak memiliki nilai dalam kegiatan PMB itu sendiri.

"Ada Maba (mahasiswa baru) yang disuruh makan petai dengan kulit-kulitnya. Dikunyah sampai halus lalu dikeluarkan lagi, diberikan ke Maba lainnya untuk dikunyah kembali, begitu selanjutnya. Ini lebih hina dari perlakuan terhadap binatang," terangnya.

Kekerasan fisik pun tak ayal dialami Maba. Pukulan tendangan, acap kali mereka terima dari oknum panitia. Maba "diculik" dan dibawa ke tempat-tempat khusus, untuk dibully atau melakukan praktik kekerasan semacam ini.

"Biasanya mereka dibawa keluar dari kelompok mereka (Maba) ke WC, ke ruangan atau ke tempat lainnya. Mereka dibully, ada pula yang ditendang. Pernah Maba mengungkapkan, dibawa masuk ke WC di dalamnya empat orang Maba. Mereka disuruh kencing bersama-sama di dalam WC. Digedor-gedor, diteriaki, dan lain sebagainya," jelas dia.

Bahkan, Melati pernah melihat Maba yang bajunya sudah banyak bekas telapak sepatu. “Sangat jelas sekali itu bekas ditendang," timpalnya.

Menurutnya, pelaksana PMB terdiri dua kepanitiaan, pihak fakultas dan mahasiswa. Dalam kegiatan ini, Dekan di posisi sebagai penanggungjawab. Melati mengatakan, pada tahun-tahun sebelumnya, beberapa kali keluhan terhadap praktik perploncoan di kampus ini disampaikan ke pihak Dekan. Baik itu dari dosen maupun orang tua mahasiswa baru.

"Tapi responnya cuma normatif saja. Pernah diselesaikan dengan cara kekeluargaan habis itu selesai. Pernah juga pihak Dekan komentarnya hanya mengatakan, kalau ada kekerasan, silakan dilaporkan ke pihak kepolisian saja," terangnya.

Dari sekian fakultas yang ada di Untan, kegiatan PMB yang melibatkan peran besar mahasiswa senior dengan adanya dugaan praktik kekerasan, saat ini hanya terjadi di FISIP saja. Sedangkan untuk fakultas yang lainnya, sudah tidak lagi menerapkan praktik kekerasan tersebut.

Diteriaki Panitia

Salah satu dosen lainnya, sebut saja Rudi menambahkan, kepanitiaan dari pihak mahasiswa seolah memiliki kekuasaan penuh terhadap pelaksanaan PMB. Di luar kepanitiaan dilarang untuk ikut campur dalam kegiatan ini, sekalipun itu seorang dosen.

"Sempat saya coba mendokumentasikan kejadian perploncoan, tapi dari jauh saya sudah diteriaki. Ada nada intimidasi. Kami teman-teman dilarang mendokumentasikan,” katanya. Padahal, universitas itu lembaga publik, yang bisa mengetahui kegiatan yang bersifat transparan.

Ia mengungkapkan, berbagai macam perlakuan yang tidak manusiawi dalam PMB.

"Saat ada beberapa mahasiswa baru yang pingsan atau kesurupan, mereka ditempatkan di satu ruangan. Tanpa ada matras atau kelengkapan medis lainnya, mahasiswa baru yang sakit dibiarkan tergelak di lantai. Miris melihatnya," jelasnya.

Ia menilai, panitia khususnya di tim medis seakan tidak siap. Peralatan maupun kebutuhan medis yang mereka gunakan tidak lengkap, belum lagi para timnya bukan orang yang berkompeten.

"Tabung oksigen kurang. Ruangannya itu mereka tidak siap. Harusnya, setidaknya ada matras, ada logistik dan obat-obat-obatan, itu tidak ada. Main ambil siapa yang mau jadi tim kesehatan gitu," ucapnya.

Peserta yang sakit dibiarkan saja tergeletak dan meringkuk di lantai. Bahkan, ketika yang sakit perempuan, tim medis perempuan. “Harusnya ada panitia perempuan juga yang mengurus. Kita khawatir kalau terjadi apa-apa, perbuatan usil," imbuhnya.

Para dosen ini jengah dengan praktik perpeloncoan yang terjadi selama ini. Mereka berani mengungkapkan hal ini, agar semua pihak tahu dan mendukung, supaya kedepan perlakuan yang tak sepantasnya kepada mahasiswa baru ini, tidak lagi terulang.

"Ini miris sekali karena sudah banyak mahasiswa yang berjatuhan. Kita ingin orangtua, mahasiswa dan pihak lainnya mendukung kita, agar masalah PMB ini bisa lebih baik lagi ke depannya," harapnya.

Melati mengatakan, kegiatan PMB seharusnya mencerminkan nilai-nilai pendidikan. Namun yang terjadi, kebalikan dari itu semua.

"Pengakuan dari orangtua Maba, bahwa dirinya tidak pernah mendidik anaknya dengan kasar. Tapi anak saya di kampus ini malah menerima perlakuan kasar.kalau tahu dari awal, tidak mungkin saya daftarkan anak saya ke kampus ini," ungkap Melati, menirukan keterangan orangtua Maba.

Ia menuturkan, beberapa orangtua Maba telah melaporkan kejadian kekerasan yang dialami anak-anak mereka ke Ombudsman. Melalui surat pernyataan keberatan, selanjutnya surat tersebut akan disampaikan ke pihak fakultas.

Sudah Diselesaikan

Pembantu Dekan III FISIP Untan, Sabran Achyar mengatakan, laporan dugaan kekerasan terhadap Maba pada kegiatan PMB sudah di selesaikan.

"Persoalan itu sudah clear. Tidak ada masalah lagi," katanya saat ditemui di Fakultas FISIP, Senin (4/9).

Sabran mengatakan, laporan dugaan tindak kekerasan pada kegiatan PMB, memang setiap tahunnya selalu terjadi. Tak terkecuali tahun ini. Namun, laporan yang diterimanya hanya bersifat informasi, tanpa disertai bukti.

"Sekarang ada dua laporan. Tapi laporan itu hanya informasi saja, tidak ada keterangan pelakunya, tidak ada hasil fisumnya. Jadi hanya informasi saja," kata Sabran.

Meski demikian, laporan itu tetap ditindaklanjuti dengan melakukan evaluasi panitia kegiatan PMB. Selaku penanggung jawab kegiatan teknis PMB, Sabran menegaskan, “Kepanitiaan sudah diawasi seketat mungkin. Bahkan untuk mencegah perbuatan kekerasan, maka telah dibuat MoU Pakta Integritas Kepanitiaan.”

Pakta Integritas itu mengatur sanksi tegas kepada panitia yang berbuat hal-hal yang di luar batas. Sejuh ini, kesepakatan itu sudah dilaksanakan panitia dengan maksimal.

Namun dalam kegiatan PMB, tentu terdapat beberapa kekurangan. Mengenai penerimaan PMB Kampus FISIP, hal itu merupakan suatu budaya yang rutin digelar setiap tahun.

Sabran menjamin, dalam kegiatan PMB tidak ada kontak kekerasan secara fisik yang dilakukan panitia. "Jika pun  ada bisa disampaikan dengan menyertakan bukti-bukti, supaya bisa ditindaklanjuti," jelasnnya.

Sementara, dari pihak orangtua mahasiswa yang melaporkan adanya tindak kekerasan saat kegiatan PMB, hingga saat ini tidak bisa dikonfirmasi. Nomor telepon orangtua mahasiswa yang bersangkutan yang didapat Suara Pemred, tidak bisa dihubungi.

Sementara, Ketua Panitia PMB FISIP tahun 2017, Gunawan belum mendapat informasi atas laporan dugaan kekerasan, terhadap mahasiswa baru saat kegiatan PMB berlangsung.

"Saya masih KKM (Kuliah Kerja Masyarakat). Sampai saat ini saya belum dapat laporan itu. Nanti saya cari tahu dahulu," katanya singkat, saat dihubungi melalui telepon selulernya.

Terlepas dari itu, Gunawan menjamin bahwa selama kegiatan PMB berlangsung tertib. "Selama kegiatan kami pun tidak mendapat laporan adanya tindak kekerasan kepada Maba," pungkasnya. (abd/umr/lis)