Ombudsman dan Orangtua Prihatin PMB Untan

Ponticity

Editor hendra anglink Dibaca : 459

Ombudsman dan Orangtua Prihatin PMB Untan
Ilustrasi. (SP)
PONTIANAK, SP - Menanggapi adanya dugaan praktik kekerasan dalam kegiatan PKKBM 2017 FISIP Untan Pontianak terhadap mahasiswa baru (Maba), Ombudsman RI Perwakilan Kalbar sangat menyayangkan perihal tersebut.

"Memandang adanya dugaan kekerasan dalam proses penerimaan mahasiswa baru (PMB), Ombudsman tentu prihatin, masih ada kejadian seperti ini," ujar Asisten Muda Penanganan Laporan, Ombudsman Perwakilan Kalbar, Irma Syarifah, kepada Suara Pemred di kantornya, Rabu (6/9).

Sebelum menerima pengaduan dari sejumlah orang tua Maba, sebetulnya pihak Ombudsman telah mengetahui dugaan tersebut dari awak media.

"Sebelum ada laporan resmi, justru dari teman-teman wartawan juga sebetulnya kami dapat informasi itu, ada dugaan kekerasan di penerimaan mahasiswa baru khususnya di FISIP," ungkapnya.

Ombudsman menilai, praktik kekerasan maupun perploncoan yang terjadi di FISIP selama ini, salah satu faktor penyebabnya lantaran di fakultas tersebut tidak memiliki standar pelaksanaan PMB yang baik.

"Setelah kami melakukan beberapa upaya investigasi dan lain sebagainya, salah satu kelemahan dari FISIP terkait dengan penerimaan mahasiswa baru ini, dia nggak punya standar yang layak prosedur/SOP mengenai PMB," terangnya.

Berbeda dengan fakultas lainnya di Untan yang dulu sempat diinformasikan melakukan praktik kekerasan saat PMB, kini jauh lebih baik.

Selain dari keterangan wartawan, dugaan kekerasan di PMB FISIP didapat Ombudsman melalui pengaduan sejumlah orang tua Maba.

"Banyak orang tuanya (yang datang), saya tidak sempat hitung. Ada beberapa melapor ke Ombudsman, mengenai hal yang kami dengar informasi dari wartawan. Orangtua tidak terima perlakuan kasar dari para senior," kata Irma.

Ia memaparkan, pengaduan yang diterima dari para orang tua disertai dengan beberapa bukti adanya kekerasan, baik fisik maupun verbal. Dari keterangan dan pernyataan para orang tua, Ombudsman membuat laporan.

"Bukti-bukti percakapan yang WhatsApp segalanya macam, kemudian pernyataan dari orang tua yang didengar dari mahasiswanya. Misalnya ada yang ditendang, dimasukkan di lemari kemudian ditendang membabi buta seperti itu, ditampar dan sebagainya, kita rangkum," jelasnya.

Ia menerangkan, laporan tersebut sudah ditindaklanjuti dengan menyampaikan surat kepada Dekan FISIP. "Saat ini kami belum mendapatkan balasan resmi dari mereka," ucapnya.

Suara Pemred mewawancarai orangtua Maba dari FISIP Untan. Orangtua Maba ini bercerita, "Waktu pertama datang (PKKBM) dibariskan. Waktu dibariskan itu kan, ada kawannya ditinju, anak saya ditendang kakinya, bahasa sini dimaki-maki (juga).

Akibat kekerasan saat mengikuti PKKBM, Maba asal Kota Pontianak tersebut mengalami trauma. Hingga kini, anaknya merasa takut ketika bertemu dengan mahasiswa senior, khususnya oknum panitia yang melakukan kekerasan.

"Takutlah. Kan ada kawannya yang juga ditinju perutnya. Ada beberapa orang rekannya yang juga ketakutan," terangnya.

Dijelaskan dia, ada semacam intimidasi terhadap Maba, bila ada berani melaporkan perihal praktik kekerasan dan perploncoan di kampus.

"Bukan anak saya saja, rekan-rekannya (juga) diancam. Jangan cengeng, jangan melapor," katanya.

Atas kekerasan tersebut, beberapa orang tua Maba telah melaporkan hal ini ke pihak fakultas dan lembaga terkait. "Kami sudah melapor ke Dekan dan Ombudsman," terangnya.

Kepada mahasiswa senior yang terbukti melakukan kekerasan, ia mengharapkan ada tindakan yang diberikan sesuai aturan. Ia berharap, kejadian ini tidak kembali terulang. Tak hanya dapat merugikan orang lain, tapi juga akan mencemarkan nama baik kampus.

Sementara, Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) FISIP Untan membantah tudingan praktik kekerasan dalam kegiatan PMB 2017, yang digelar pada 28-30 Agustus 2017. Bantahan ini disampaikan secara langsung melalui Konferensi Pers di Kampus FISIP Untan, Rabu (6/9) sore.

Ketua BEM FISIP, Jean Sioloan menegaskan, dalam pelaksanaan PMB sejatinya memang tidak diperkenankan bagi siapapun, melakukan tindakan kekerasan terhadap mahasiswa baru.

Bahkan, aturan itu ditandatangani secara bersama-sama melalui MoU Pakta Integritas antara panitia PKBM, BEM dan Pembantu Dekan III Bidang Kemahasiswaan.

Dasar itulah yang membuatnya yakin, pelaksanaan PKBM 2017 berjalan sesuai aturan, karena sampai saat ini pun, Posko pengaduan yang dibentuk tak juga menerima laporan apapapun, termasuk keluhan kekerasan saat kegiatan PMB berlangsung. Meski demikian, Jean menegaskan, jika memang tudingan kekerasan tersebut benar terjadi dan bisa dibuktikan, maka boleh saja hal itu diproses secara hukum.

"Kalau ada kekerasan, silakan laporkan oknum tersebut ke pihak kepolisian. BEM akan mendukung. Dari KBM FISIP, kami menyatakan sikap bahwa, BEM dan DPM tidak memperknankan adanya tindak kekekerasan terhadap mahasiawa baru," katanya.

Hal senada disampaikan Gunawan, selaku ketua panitia PMB FISIP 2017. "Saya mengklarifikasi soal pemberitaan. Kami membantah. Itu sebenarnya (tindak kekerasan) tidak ada," tegasnya.

Dia menjelaskan, dalam pelaksanaan kegiatan PMB, semua sudah dikoordinasikan dengan pihak kampus. Posko pengaduan keluhan selama kegiatan PMB yang melibatkan pihak kampus pun, juga telah dibentuk.
 
Dalam kesempatan itu, Gunawan juga meluruskan atas tudingan pungli terhadap Maba, saat kegiatan PMB berlangsung.

"Uang iuran Rp80 ribu itu, sudah disepakati bersama Maba pada tanggal 25 Agustus. Uang iuran tersebut untuk pembiayaan konsumsi dan perlengkapan Maba selama tiga hari PMB. Karena dari kampus memang tidak ada anggaran untuk itu," jelasnya.

Susanto, mantan Ketua BEM FISIP juga angkat bicara. Dia pun ikut membantah adanya praktik tindak kekerasan terhadap mahasiswa baru saat kegiatan PMB berlangsung.

"Tidak ada itu penculikan terhadap Maba. Acara itu berjalan sesuai agenda. Jadi tidak ada waktu untuk menculik, karena seharian full kegiatan pengenalan kampus diikuti oleh setiap Maba," katanya.

Mengenai pemberitaan yang menyebutkan minimnya fasilitas kesehatan mahasiswa baru saat mengkuti PMB, hal itu pun juga dibantah Susanto. "Soal pelayanan kesehatan, panitia sudah memperlakukan peserta dengan sebaik-baiknya. Kalau ada yang sakit, kami langsung membawa peserta yang sakit ke Rumah Sakit Untan. Boleh dicek," tegasnya. (umr/abd/lis)

Komentar