Membacalah Mulai dari Hal yang Disenangi

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 317

Membacalah Mulai dari Hal yang Disenangi
DISKUSI – Diskusi "Merekayasa Budaya Literasi" yang digagas Forum Lingkar Kopi di Balai Kopi Muzakki, Jalan Aliayang, Pontianak, Minggu (17/9) malam. SP/Balasa

Merekayasa Budaya Literasi (bagian-2, selesai)


Kalbar Membaca hadir sejak 2016. Lahirnya sederhana, hanya ingin membagi kebahagiaan membaca buku. Semua bisa dimulai dengan membaca hal yang disenangi. Usaha meningkatkan minat baca, memang perlu kerja berkelanjutan. Banyak cara bisa digunakan, yang penting fokus pada pendidikan dan literasi.

SP - Bukan hanya penulis dan komunitas yang hadir dalam diskusi malam itu. Pebisnis yang memiliki cita-cita sama pun turut serta jadi pemantik. Qodja, kini bergabung dengan salah satu penerbit di Yogyakarta. Sejak zaman kuliah, dia sudah memulai usaha kecil-kecilan. Salah satunya lewat toko buku di Kopma Untan. Sayang, toko itu kini tutup.

Qodja menerangkan, untuk merekayasa budaya literasi, fokus menjadi bagian penting. Pola pendidikan dan literasi harus tetap jadi fokus. Sementara berbagai bentuk usaha, hanya alat atau kendaraan untuk sampai ke sana. Hal itu sudah dia buktikan dalam upayanya berbisnis dan menjadi bagian dari penerbit buku dan penulis.

Qodja menambahkan, literasi dalam hal ini buku, dapat mengubah banyak hal. Misalnya novel Max Havelaar bikinan Eduard Douwes Dekker yang pertama kali terbit tahun 1860. Kisah cinta yang Saijah dan Adinda yang berhasil mengubah kebijakan Belanda saat menjajah nusantara. Belanda akhirnya memberlakukan politik etis yang jadi cikal bakal kaum intelektual menggelorakan kemerdekaan.

"Budaya ngopi di Pontianak bisa jadi meet spot untuk meningkatkan literasi. Warung kopi sebagai ruang publik. Tinggal bagaimana berlomba mengubah omongan di warung kopi bisa lebih berkualitas," ucapnya.

Duta Baca Kalbar 2016, Fadhil Mahdi memaparkan, setidaknya merekayasa budaya literasi bisa dilakukan dalam beberapa tahap. Pertama, paham, apa itu literasi. Kedua, mengapa kita perlu membudayakan ini. 

Dia mencontohkan saat Dinasti Abasiah berjaya, perpustakaan jadi sebenar-benarnya rumah ilmu. Literasi mendapatkan tempat terhormat. Bahkan ketika dinasti itu dirusak bangsa Mongol, hal pertama yang dipikirkan adalah menyelamatkan perpustakaan.

Setelah itu, bagaimana. Dalam Ilmu Sosial Budaya Dasar, peradaban kedudukannya tertinggi. Di bawahnya ada kebudayaan. Untuk membentuk kebudayaan, perlu kebiasaan. Akumulasi kebiasaan akan menjadi kebudayaan. Caranya bisa apa saja, yang penting fokus pada pendidikan dan literasi.

Untuk membentuk kebiasaan, rekayasa bisa dilakukan dengan intervensi. Misalnya lewat aturan pemerintah. Dalam hal ini, gagasan membaca 15 menit di sekolah pun lahir. Beni mencontohkan, adanya kebijakan menggunakan helm ketika berkendara. Dulunya kebijakan itu ditentang, namun sekarang, malah ada yang merasa ganjil, ketika tidak menggunakan helm. 

"Berikutnya, siapa. Untuk merekayasa budaya literasi, perlu peran kita semua. Lalu kapan ini akan tercapai. Kerja intelektual adalah kerja berketidaksudahan. Bukan tidak mungkin 1.600 tahun lalu jadi awal literasi di nusantara, dan kerja ini untuk 1.600 tahun akan datang," pungkasnya. (kristiawan balasa/and)

Komentar