Belajar Etika dalam Tradisi ‘Makan Melantai’ Bersama

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 565

Belajar Etika dalam Tradisi ‘Makan Melantai’ Bersama
SAPRAHAN - Peserta Festival Saprahan SMP Pontianak tengah menyajikan hidangan untuk penjurian di Rumah Adat Melayu, Selasa (26/9). Siswa diharap tidak sekadar jadi penyaji, namun juga bisa memasak. SP/Balasa

Festival Saprahan SMP Pontianak


Siswa dari 23 Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Pontianak, mengikuti Festival Saprahan SMP di Rumah Adat Melayu, Selasa (26/9) pagi. Mereka tampil dengan telok belanga dan baju kurung. Menyajikan menu-menu saprahan di atas kain panjang. Dalam festival kali ini, SMPN 11 berhasil menjadi pemenang.

SP - Saprahan dalam adat istiadat Melayu berasal dari kata ‘saprah’ yang artinya berhampar.  Sebuah budaya makan bersama dengan cara duduk lesehan atau bersila di atas lantai secara berkelompok yang terdiri dari empat sampai enam orang. 

Semua hidangan disusun teratur di atas kain saprah. Sedangkan peralatan dan perlengkapannya mencakup kain saprahan, piring makan, kobokan beserta serbet, mangkok nasi, mangkok lauk pauk, sendok nasi dan lauk serta gelas minuman.

Untuk menu hidangan, di antaranya, nasi putih atau nasi kebuli, semur daging, sayur dalca, sayur paceri nanas/terong, selada, acar telur, sambal bawang dan sebagainya. Kemudian untuk minuman yang disajikan adalah air serbat.

Budayawan Kalbar, Syafarudin Usman yang turut menjadi juri mengungkapkan, harus ada evaluasi untuk melestarikan nilai-nilai budaya tradisional lokal. Pasalnya, makin lama budaya tradisional kian terpinggirkan. Apalagi kini saprahan sudah dijadikan warisan budaya tak benda.

“Saya juga sudah sarankan mereka (siswa) yang praktik masaknya. Jadi jangan lagi gurunya, mereka yang praktik langsung masak, bagaimana menata masakan itu, bagaimana menyajikan bumbu, menyajikan rempah, kemudian mengolah dari bahannya mentah sampai bahannya jadi siap saji,” saran Syafarudin.

Pj Sekda Kota Pontianak, Zumyati berharap, agenda ini bisa menjadi wadah untuk menggali budaya lokal dan memperkenalkan saprahan pada generasi muda. Saat ini, kebanyakan yang menggeluti budaya serupa hanya orangtua saja. Dia khawatir, lama-lama, kekayaan tradisi ini akan hilang.

"Dalam saprahan ada banyak nilai, seperti kebersamaan, toleransi, etika dalam penyajian, dan lainnya," ucapnya.

Sayangnya, dari 28 SMP negeri di Pontianak, hanya 21 sekolah yang ikut serta. Dua sekolah lain yang menggenapi 23 peserta, berasal dari sekolah swasta. Ke depan, Zumyati mengatakan akan mewajibkan semua sekolah untuk ambil bagian.

"Bukan hanya untuk pelajar, tanggal 11 Oktober nanti juga akan digelar untuk masyarakat. Antar kelurahan," pungkasnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pontianak, Mulyadi menjelaskan Festival Saprahan untuk SMP mengalami peningkatan peserta. Tahun lalu, jumlahnya hanya 11 regu, namun kini meningkat jadi 23. Ke depan, dia ingin ada peningkatan. Budaya memang harus dimasukkan dalam lingkungan sekolah agar tidak hilang.

Dalam saprahan, ada banyak nilai yang didapat untuk membentuk karakter siswa. Misalnya kepemimpinan, disiplin, kerja sama, etika, dan estetika.

"Ada nilai moral, sebelum mulai makan itu kan harus berdoa segala macam, nah itu sudah bagian dari pelaksanaan pendidikan karakter. Jadi ini memang harus ditumbuh kembangkan,”

Katanya, ini satu di antara sekian banyak upaya untuk menanamkan nilai-nilai positif yang ada pada anak.

Mulyadi menerangkan, budaya saprahan akan dimasukkan dalam buku muatan lokal yang tengah disusun dinas. Saat ini, saprahan sudah masuk dalam warisan tak benda Kota Pontianak. 

Penetapan saprahan sebagai warisan tak benda, bersamaan dengan arakan pengantin dan batin corak insang. Setelah sebelumnya, meriam karbit dapat pengakuan.

"Jadi itu nanti masuk ke dalam mulok supaya anak-anak kita mengetahui akar budaya yang ada di Kota Pontianak, dan daerah-daerah lain di Kalbar," ucapnya. (kristiawan balasa/and)