Kampung Sawah Perbaiki Citra

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 380

Kampung Sawah Perbaiki Citra
GUNTING PITA – Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono melakukan gunting pita, saat peresmian Kampung KB di Kampung Sawah, Kelurahan Mariana, Kecamatan Pontianak Kota, Kamis (28/9). Program ini, diharapkan dapat mengubah citra kampung tersebut. Ist

Wilayah Kumuh Tengah Kota


Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono
Kelurahan Mariana ada di pusat kota namun terkesan masih ada beberapa titik yang kumuh, maka kita akan perangi dan hapuskan kawasan kumuh yang ada di sini, dengan program Kotaku dan Kampung KB serta program Pemkot lainnya

PONTIANAK, SP
– Kawasan Kampung Sawah, Kelurahan Mariana, Kecamatan Pontianak Kota hingga kini masih tercatat sebagai kawasan kumuh di Kota Pontianak. Beragam program pengentasan mulai dari Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) hingga Kampung Keluarga Berencana (KB) pun diterapkan untuk membangun daerah ini lebih baik.

Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mengungkapkan, masuknya progam akan membuat pembangunan infrastruktur dan pembangunan manusianya menjadi terpadu. Kawasan yang awalnya kumuh, diharapkan berhasil dientas. Masuknya progam Kampung KB ini dirasanya tepat sasaran.

"Kelurahan Mariana ada di pusat kota namun terkesan masih ada beberapa titik yang kumuh, maka kita akan perangi dan hapuskan kawasan kumuh yang ada di sini, dengan program Kotaku dan Kampung KB serta program Pemkot lainnya," ujarnya, usai membuka peresmian Kampung KB di wilayah itu, Kamis (28/9).

Dia menginkan ada pemerataan dan peningkatan kualitas dari segi pertumbuhan penduduknya maupun kualitas masyarakat dan kualitas infrastrukturnya. Terutama pada ruang publik yang terbuka, ramah anak dan Posyandu anak serta lansia.

Edi meminta, ramainya program yang masuk di kawasan itu mesti saling koordinasi. Camat dan lurah harus bertindak sebagai koordinator sehingga tidak terjadi tumpang tindih. Pengentasan ditargetkan secepat mungkin. Keterlibatan TNI diharapkan bisa mengubah pola pikir dan pembangunan infrastruktur yang ada.

"Seperti WC umum yang ada, kita minta masyarakat mengelolanya dengan baik,  karena pernah ada dan PDAM nya juga akan masuk," pungkasnya.

Kawasan padat penduduk ini, sebelumnya tak tertata rapi. Akses jalan dalam gang tak lebih dari satu meter. Sebagian warga juga tak punya kakus. Beberapa tahun lalu, Pemerintah Kota Pontianak sempat membikinkan WC komunal seharga Rp300 Juta. Tapi kondisinya memprihatinkan. WC komunal dengan delapan bilik pun penuh kerak. Air PDAM yang menjadi sumber utama, tak mengalir lancar.

Soal kasus ini, beberapa waktu lalu, Ketua Penggerak PKK Kampung Sawah, Nur Asbah ditemui di rumahnya, bercerita, dia tahu pasti kapan WC itu dibangun, namun dalam dua tahun terakhir kondisinya memang cukup parah.

"Ini masih digunakan, tapi airnya tidak ada padahal airnya bersumber dari PDAM. Kalau mau buang hajat warga bawa air sendiri dari rumah," jelasnya.

Sejatinya ada 80 kepala keluarga di kampung tersebut, namun 50 persennya sudah memiliki kakus di rumah. Nur Asbah yang juga istri dari Ketua RT 04/RW 10 mengatakan permasalahan tak adanya kakus lantaran lahan rumah warga yang terbatas.

Perihal WC umum yang tak terawat, dia menjelaskan, sebelumnya warga ditarik iuran per bulan untuk kebersihan dan membayar PDAM, sebesar Rp10 ribu. Tapi sejak dua tahun terakhir iuran tak lagi berjalan.

"Warga merasa percuma mengumpulkan uang tapi air ledingnya tidak jalan. Padahal sudah sering dilaporkan ke PDAM tapi masih begitu saja," sesalnya.

Kurangnya ketersediaan air, membuat warga seadanya saja ketika bersih-bersih usai buang air besar. Kepadatan penduduk membuat kampung itu makin kumuh. Namun sejak beberapa tahun terakhir, untuk permasalahan sampah rumah, pemuda setempat sudah berinisiatif untuk mengambil langsung sampah-sampah ke rumah warga. Tiap hari warga dikenakan iuran Rp2 ribu.

"Kebersihan yang belum terjaga. Kalau anak kecil kita marahi bisa ngerti, tahu, kalau orang tua susah ngasi tahunya," ungkapnya.

Dia menuturkan, mayoritas warga di sana merupakan perantau dari Banten. Namun sudah beranak pinak menjadi warga Pontianak. Sebagian besar mata pencaharian warga adalah berdagang berbagai makanan seperti sate dan sebagainya. (bls/and)