Kader Jumantik Ujung Tombak Entas DBD

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 449

Kader Jumantik Ujung Tombak Entas DBD
JUMANTIK – Dua orang kader Jumantik di Jawa Tengah, tengah memeriksa keberadaan jentik-jentik di rumah warga, beberapa waktu lalu. Jumantik, dianggap sebagai ujung tombak dalam pengentasan penyakit demam berdarah. Antara Foto

Upaya Penanggulangan Penyakit 


Guna menekan angka jentik-jentik agar mengurangi ancaman penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), para kader juru pemantau jentik (Jumantik) di Kalimantan Barat, diminta berperan aktif meningkatkan angka bebas jentik.

SP - Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kalbar, Viktorius menyebutkan, dengan meningkatnya angka bebas jentik tersebut, berdampak langsung terhadap penurunan perkembangbiakan nyamuk penyebab penyakit itu. 

"Maka demikian, tentu saja bisa menurunkan kasus DBD pula," ujarnya, kemarin.

Secara nasional, angka bebas jentik mencapai 95 persen. Sebagaimana diketahui, penyakit demam berdarah disebabkan gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Oleh karenanya, pemberantasan jentik sangat dibutuhkan. Terlebih lagi di saat musim pancaroba seperti sekarang, menjadi puncak perkembangbiakan nyamuk.

Viktorius melanjutkan, kader Jumantik menjadi salah satu ujung tombak peranannya dalam pemberantasan demam berdarah.

Pemberantasan itu, kata dia, dapat dilakukan dengan menerapkan 3M plus. Mulai dengan menguras tempat penyimpanan air, menutup tempat-tempat air hingga menggunakan barang-barang bekas agar tidak menjadi tempat nyamuk berkembang biak. 

Sementara plusnya, aktivitas lain yang dapat menekan perkembangbiakan nyamuk. ?Seperti dengan menanam pohon penolak nyamuk, pemberian abate atau pemasangan kelambu, hingga pemakaian pelembab penolak nyamuk saat tidur. 

"Jadi, kader melakukan tindakan-tindakan mencegah nyamuk berkembang biak. Harapannya, satu rumah satu kader jumantik," ucapnya.

Diskes Kalbar menargetkan ke depan, satu rumah terdapat satu kader jumantik. Viktorius mengatakan, target ini sejalan dengan imbauan dari Kementerian Kesehatan.

"Sebelumnya pun, program kader Jumantik sudah ada. Tapi sekarang, konnsepnya lebih diperdalam. Jika dulu satu kader menangani puluhan hingga ratusan rumah, sekarang malah satu rumah. Jadi diharapkan partisipasi masyarakat sebagai kadernya," ujarnya.

Program satu rumah satu kader di Kalbar, baru Kota Pontianak yang menerapkannya. Program ini terbilang baru, dimulai sejak April 2017 lalu. Sedangkan Diskes Kalbar, baru menyosialisasikan program ini kemarin. 

Dikatakan Viktorius, Kabupaten Kubu Raya dan Kota Pontianak menjadi sasaran sosialisasi peran kader Jumantik. Dalam sosialisasi kemarin, Diskes mengundang seluruh Puskesmas di dua wilayah tersebut.

Keterlibatan puskesmas, terang dia, berada pada posisi penting sebab bisa menjadi perpanjangan tangan untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat. 

Pasca sosialisasi, Dinkes akan mengevaluasi sebagai tindak lanjut. Dalam tiga bulan ke depan, diharapkan sudah ada petugas yang ditunjuk sebagai koordinator dan supervisor kader Jumantik.

Koordinator dan supervisor ini, jelasnya, akan berinteraksi langsung kepada masyarakat sebagai kader Jumantik untuk pemberantasan jentik-jentik nyamuk. 

"Selama ini masih ragu karena bagaimana menggerakkan masyarakat sebanyak ini. Sudah pasti mengeluarkan anggaran yang tidak sedikit. Tapi bisa dilakukan, karena ada teman-teman dari Tangerang yang menyosialisasikan gerakan ini. Dipilihnya Tangerang karena ada wilayah di sana yang bebas dari jentik-jentik nyamuk," terangnya. 

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Sidiq Handanu mengutarakan, sejak pekan pertama bulan Agustus hingga sekarang terdapat 99 kasus DBD.  

“Ini salah satu penyakit yang memang kita proritaskan jadi perhatian kami. Dan peningkatan kasus ini berada di akhir-akhir tahun dan awal tahun,” ujarnya, Jumat (29/9).

Terkait peran kader Jumantik, menurutnya juga masih terbatas pengawasan. “Kami sebagai petugas juga terbatas dalam pengawasan itu sendiri, perlu adanya kesadaran masyarakat agar jentik-jentik itu sendiri tidak berkembang biak di rumah,” ujarnya.

Dia meminta, warga selalu menjaga tempat yang memang rawan terhadap perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti pembawa penyakit demam berdarah.

Upaya penanggulangan lainnya, juga dilakukan fogging atau pengasapan di beberapa wilayah endemis. “Karena nyamuk itu tidak boleh diberikan celah, sedikit saja dia sudah bisa berkembang biak,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga telah membagikan kartu kendali jentik di daerah-daerah endemis. Dari data yang diperoleh di lapangan, persentase jentik-jentik berada di 60 sampai 70 persen. Angka ini masih di bawah angka aman jentik yaitu 95 persen.

Sidiq menambahkan, daerah yang termasuk rawan perkembangbiakan nyamuk adalah di bantaran Sungai Kapuas. 

“Ini sangat sulit, karena airnya pasang surut. Apalagi sampah itu sangat potensial tumbuh kembang nyamuk. Salah satu solusinya obat abate, yang terpenting adalah cegah nyamuk itu sendiri sejak awal dan sedini mungkin,” pungkasnya. (umar faruq/mbr/and)