Kawasan Agrobisnis Terlarang untuk Perumahan

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 448

Kawasan Agrobisnis Terlarang untuk Perumahan
WISATA AGROBISNIS – Ketua Tim penggerak PKK Kota Pontianak, Lies Maryani Sutarmidji saat memantau kawasan wisata agrobisnis di Kecamatan Pontianak Utara, beberapa waktu lalu. Antara Foto
PONTIANAK, SP – Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Peternakan dan Perikanan Kota Pontianak, Bintoro menyatakan pembangunan perumahan yang tengah marak di kota ini, dilarang memasuki kawasan agrobisnis. 

Guna menerapkan peraturan, Pemerintah Kota Pontianak membatasi perizinan pembangunan perumahan di kawasan tersebut. 

"Kalau perizinan perumahan di kawasan ini agak sedikit dipersulit, karena itu tadi dibatasi untuk sentra-sentra pertanian, namun ada beberapa seperti rumah walet yang diberi izin untuk dibangun di kawasan ini," katanya, kemarin.

Bintoro memaparkan, hal ini berguna untuk keberlangsungan pertanian di Kota Pontianak. Meski bukan daerah sentra pertanian, namun Pontianak masih memiliki potensi yang diperhitungkan.

Di kota ini, potensi lahan tanaman padi sebesar 226 hektare. Dari total tersebut, didominasi di wilayah Kecamatan Pontianak hingga 68 persen.

"Sementara di Pontianak Barat 20 persen, Pontianak Tenggara lima persen dan sisanya di Pontianak Timur. Namun untuk Pontianak Kota dan Pontianak Selatan tidak ada," sebutnya.

Kawasan Pontianak Utara, oleh Pemkot Pontianak memang telah ditetapkan sebagai daerah kawasan sentra agrobisnis. Kawasan ini juga dipersiapkan sebagai kawasan cadangan di bidang pertanian.

"Dengan luas kawasannya sekitar 800 hektare yang letaknya berada di Siantan Hulu, Siantan Hilir dan Siantan Tengah. Maka dari itu untuk pembangunan perumahan di kawasan ini dibatasi oleh pemerintah," ungkapnya.

Produktivitas pertanian di kota ini, disokong melalui upaya khusus serapan gabah pada masa tanam 2016/2017 yang mampu melebihi target ditetapkan hingga lima kali lipat.

"Targetnya 67 ton di masa tanam 2016/2017. Kondisi saat ini serapan gabah mencapai 362,38 ton," katanya.

Sementara itu, dari tanaman holtikultura, pihaknya juga mengupayakan agar komoditi-komoditi penyumbang inflasi dapat ditekan. Terutama komoditi sayur-sayuran seperti bayam dan sawi.

"Sebab kalau untuk sayur-sayuran ini biasanya kalau naik sedikit, langsung mendorong inflasi. Dan tak sedikit dari komoditi ini biasanya menjadi penyumbang inflasi terbesar," pungkasnya. (ova/and)