Dinkes Klaim Kasus DBD Menurun

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 393

Dinkes Klaim Kasus DBD Menurun
DIRAWAT - Tampak seorang bocah usia 8 tahun penderita DBD sedang dirawat di salah satu rumah sakit di Kota Medan, Sumatera Utara. Di Kota Pontianak, dinas kesehatan setempat mengklaim angka DBD menurun. Antara Foto
PONTIANAK, SP - Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Sidiq Handanu mengklaim dalam beberapa pekan belakangan, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di kota ini menurun. Sebelumnya, di pekan ke 37-38 tahun ini, kasus tersebut memang sempat naik.

"Minggu ke 37-38 ada naik sedikit. Kemudian kita lakukan intervensi dan dua pekan ini sudah menurun. Jadi minggu kemarin baru kita temukan tiga (kasus). Sebelumnya kita temukan di atas sepuluh," katanya, Senin (23/10).

Dari awal tahun hingga pekan kedua bulan Oktober ini, setidaknya sudah 119 kasus DBD terjadi di Pontianak. Angka ini pun jauh lebih banyak dibanding tahun 2016 kemarin. 

Sidiq menyebutkan, perubahan cuaca memang ikut berpengaruh. Walau ada peningkatan, berangsur-angsur jumlah itu berkurang.

"Mudah-mudahan kalau cuaca bagus dan kita konsisten dengan pencegahan dan pemberantasan, ya mudah-mudahan bisa kita kendalikan," katanya.

Sidiq menuturkan, upaya pencegahan dan pemberantasan memang menjadi komitmen sejak awal tahun. Alasannya lantaran Pontianak merupakan kota endemis penyakit menular DBD. Malah tak jarang penyakit yang ditularkan nyamuk ini merenggut korban jiwa.

Upaya tersebut dengan menggerakkan masyarakat. Minimal mau membersihkan pekarangan mereka. Menerapkan pola hidup bersih dan sehat, serta rutin gotong-royong merawat lingkungan. 

Tak cuma itu, pihaknya juga dalam beberapa waktu sekali, membagikan bubuk abate ke rumah-rumah warga.

"Yang ditemukan kasus positif, segera kita lakukan fogging, itu alhamdulillah bisa menurunkan kasus," imbuhnya.

Dari pemetaan Dinkes, penularan kasus DBD bisa terjadi di mana saja. Bisa di sekolah-sekolah, atau tempat tinggal pribadi. Namun yang paling banyak ditemukan memang di rumah penduduk. 

Hingga saat ini, Kecamatan Pontianak Barat masih menjadi kecamatan dengan jumlah kasus terbanyak. Baru kemudian disusul Pontianak Kota.

"Setiap tahun kita terus antisipasi. Penyakit demam berdarah adalah penyakit menular yang jadi perhatian kita. Dari awal tahun kita sudah komitmen, mengingatkan terus kalau kita ada progam satu rumah satu jumantik dan kartu pengendali jentik. Sudah kita sosialisasi ke masyarakat," paparnya. 

Saat ini, vaksin untuk DBD memang sudah ditemukan. Namun harganya masih mahal. Beberapa warga di Indonesia memang sudah menggunakannya. Tapi masih hanya pada golongan orang mampu.

"Vaksin DBD kita menunggu dari Kementerian Kesehatan agar bisa diproduksi di dalam negeri. Kalau bisa tentu harga murah. Karena ini penemuan baru, dan masih diproduksi di luar, masih ada hak paten, Indonesia jadi sulit produksinya," pungkasnya.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Pontianak, Satarudin meminta Dinkes bisa terus melakukan antisipasi. Sebisa mungkin gerak peredaran nyamuk aides aigepty dipersempit. Lantaran sudah terjadi tiap tahun, dia yakin Dinkes punya cara dan lebih inovatif.

"Tapi semua upaya Dinkes itu tidak ada artinya kalau masyarakat tidak mendukung. Yang penting adalah dukungan masyarakat, minimal, kalau ada kasus didekat rumah, rumahnya mau di fogging," ucapnya.

Dia menjelaskan, memang agak sulit untuk menghilangkan kasus demam berdarah di Pontianak. Tapi bagaimana agar angkanya bisa ditekan dan tidak menimbulkan korban jiwa. 

"Kita sudah anggarankan di dewan, kalau memang kurang, tinggal diusulkan," pungkasnya. (bls/and)