Penumpang KM Dharma Kencana II Tiba di Pontianak

Ponticity

Editor Kiwi Dibaca : 383

Penumpang KM Dharma Kencana II Tiba di Pontianak
DIDATA - Petugas Pelabuhan Dwikora Pontianak, mendata penumpang di ruang tunggu pelabuhan. Mereka diangkut dari Pelabuhan Kumai, Kalteng, setelah kapal yang ditumpangi, KM Dharma Kencana II terbakar
Kapal KM Dharma Kencana II berangkat dari Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang dengan tujuan Pontianak, terbakar di perairan barat laut Pulau Karimun Jawa, Minggu, 29 Oktober 2017, sekitar pukul 04.15 WIB. Seluruh penumpang dievakuasi dan selamat. Mereka sempat transit di Pelabuhan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, sebelum diberangkatkan dengan dua bis menuju Pontianak.  

Sepagi itu, Pelabuhan Dwikora Pontianak mulai terlihat ramai. Dua bis mengangkut para penumpang KM Dharma Kencana II, tiba di halaman pelabuhan. Petugas langsung mendata dan mengece penumpang langsung didata dan dicek petugas pelabuhan. Selanjutnya, para penumpang diberikan konsumsi.  

Wajah mereka terlihat lelah. Ada raut cemas menggurat. Kursi ruang tunggu Pelabuhan Dwikora seolah mengamini. Musibah terbakarnya kapal yang ditumpangi, menyisakan trauma dan kisah drama, dan perjuangan anak manusia.  

Adalah Miskun Rujito, warga Desa Mega Timur, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. Ia mengaku yang pertama kali melihat kebakaran di KM Dharma Raya II di bagian bawah kapal.  

"Pertama-pertamanya itu jam 03.24 WIB, aku keluar. Pas keluar itu, tiba-tiba kombong yang besar itu ngebul ada asap putih berbau koran. Lalu, karena saya ini panik, punya istri langsung ndak ingat apa-apa,” ujarnya bercerita.  

Ia bergegas menemui kru kapal. Kebetulan ada Satpam. Ia menceritakan kondisi yang dilihatnya. Setelah mendapat laporan, Satpam segera membangunkan para penumpang di kapal.  

“Yang saya heran itu kejadian dari bawah, mengapa itu tahu-tahu sudah kebul dari atas, berarti bawah itu tak ada yang ngontrol," katanya.   Asap segera memenuhi sebagian besar ruangan penumpang. Dibantu para petugas kapal, penumpang mendapat jaket keselamatan. Mereka dipandu menuju tangga kapal, turun ke bawah menuju liferaft atau sekoci penyelamat.  

"Masalah evakuasi itu langsung semuanya diturunkan sekoci yang berbentuk karet (liferaft), semuanya itu yang terjun-terjun, yang muda-muda terjun, yang tua-tua seperti kami ini, ya dibantu sama petugas dimasukkan ke sekoci yang ada kombongnya," ujarnya.      

Di sebuah kamar kapal, Suhandi asal Kelurahan Siantan, Pontianak Timur, masih terlelap bersama istri dan anaknya yang berumur empat tahun. Saat kejadian, tak ada alarm darurat kapal. Penumpang tahu kebakaran dari asap yang memenuhi ruangan. Asap bergumpal dengan pekat. Baunya seperti koran terbakar. 
 

"Trus kita pikiran sudah panik ada bau asap nggak enak, kita keluar ternyata memang ada asap lebih besar,” katanya bercerita.   Dia melihat ada ABK di bagian atas diam saja. Begitu pun dengan penumpang lainnya, tidak tahu dan tidak membangunkan penumpang lain. Dia terakhir meninggalkan kamar kapal, ketika para penumpang sudah mulai turun dievakuasi.  

Ketika itu, dalam benaknya hanya satu asa, bagaimana menyelamatkan anak dan istrinya. Sialnya lagi, tak ada alat untuk menurunkan anaknya dari kapal. Seorang ABK hanya berteriak, supaya dia berusaha sendiri membawa anaknya supaya bisa turun.   Ia berjalan di lantai besi yang mulai memanas. Tak ada alat bantuan untuk menurunkan anaknya.

Si anak mulai rewel dan menangis karena menghirup asap. Dia pun disuruh pakai pelampung. Repot mau gendong anaknya. Untungnya, dia bawa sarung. Itulah yang menjadi alat untuk menurunkan anaknya dari tangga ke sekoci penyelamat.  

Dan, akhirnya dia bersama istri dan anaknya, bisa selamat naik sekoci. Meski, seluruh barang bawaan dan sebuah sepeda motor, harus direlakan ikut terbakar. Yang tersisa hanya baju melekat di badan.   

Penumpang lain, Sungadi asal Sragen menuturkan, ia tertidur di cafe bagian belakang saat kejadian. Sekuriti kapal membangunkannya. Namun, saat akan mengambil tas tidak diperbolehkan. Api sudah membesar.   "Aku tengok tasku di dalam, tak bisa diambil lagi, mau ke sana tak boleh,” katanya.  

Petugas menyuruhnya ke atas mengambil pelampung. Orang berebut mengambil pelampung. Suasana chaos. Seorang petugas memberi ultimatum. “Kalau yang berani loncat, kalau tak berani turun dari tangga,” kata petugas.   Setelah mengenakan pelampung, Sungadi melompat dari dek kapal bagian atas ke laut lepas. Tinggi dek hingga air laut belasan meter.    

Seluruh dokumen yang akan digunakan mengurus Jamsostek di Sanggau terbakar. KTP, surat nikah, STNK, KK, Sim uang Rp2,5 juta, seluruh pakaian habis semua.  

Setelah dievakuasi dengan sekoci, Miskun Rujito, Suhandi, Sungadi dan para penumpang kapal lainnya, dipindah ke tugboat. Selanjutnya, mereka diangkut dengan kapal tangker. Setelah itu, rombongan pindah ke tugboat lagi, sebelum akhirnya dipindah ke Kapal Kirana I menuju Pelabuhan Kumai, Kalteng. (anugrah ignasia/lis)

Komentar