Putra Teluk Pakedai Luncurkan Kumpulan Puisi

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 451

Putra Teluk Pakedai Luncurkan Kumpulan Puisi
Gunawan Penulis Buku Kumpulan Puisi

Gunawan Bangga Bisa Menerbitkan Karya  


Putra kelahiran Teluk Pakedai meluncurkan kumpulan puisi tunggalnya. Sebelumnya, Gunawan pernah menerbitkan dua antologi puisi, dan satuan tologi cerpen bersama Klub Menulis Pena Merah (KMPM).

SP - “Kali ini ada yang berbeda saja. Saya merasa sangat senang setelah menunggu sekian lama, akhirnya bisa punya karya tunggal,” ungkapnya di sela-sela mengerjakan tugas kuliah.

Sebagai putra daerah, Gunawan patut dibanggakan. Bagaimana tidak, di sela-sela kesibukannya, ia masih menekuni dunia tulis menulis. Selain itu, ia juga aktif dalam membangun literasi di Kalbar. Atas dasar itu pula, ia semakin rajin menulis.

“Sebenarnya saya sudah lama belajar menulis. Namun tak punya kesempatan untuk menerbitkan buku. Saya merasa beruntung setelah mengikuti berbagai komunitas. Di komunitas-komunitas tersebutlah, tempat saya belajar dan menumbuhkan semangat saya untuk menerbitkan buku,” paparnya.

Puisi-puisi yang ditulis ini merupakan pencapaian yang membanggakan. Berdasarkan pemaparannya, puisi ini telah lama ia kumpulkan. Sekitar tiga tahun yang lalu. Sedangkan inspirasi menulis puisi, berdasarkan keadaan pada saat itu. Adapun kesulitan yang dihadapinya ialah, pemilihan sajak yang pas dan diksi yang sesuai dengan keadaan. Walaupun demikian, ia masih punya cara untuk mengatasi hal tersebut, yakni dengan membaca ulang mengubah diksi-diksi yang sesuai.

Dalam buku yang berjudul “Perempuan Sehabis Hujan”sebenarnya Gunawan membicarakan berbagai macam tema. Namun, ketika membuka lembar demi lembar buku tersebut, kita akan lebih mudah menemukan tema yang romantis. Mungkin itulah genre yang sedang didalaminya.

Di era serba canggih, puisi romantis sangat mudah ditemukan. Apalagi di jejaring sosial. Namun, puisi yang ditulis oleh Gunawan ini berbeda. Ia tidak hanya berkutik pada satu tema. Ia pandai dalam menyampaikan sesuatu, sehingga pembaca bisa terbawa suasana.

Ada pembeda kumpulan puisinya dengan puisi lainnya, ia seringkali  menuliskan nama tempat. Walau pada umumnya memang seperti itu. Tapi, Gunawan menuliskan semuanya berdasarkan tempat ia mendapatkan ide menulis puisi. Seperti halnya, ketika ia berada di Kapuas Hulu. Ia pun menuliskan puisi yang berkaitan dengan daerah tersebut. Begitu juga ketika ia berada di tempat lainnya. 

“Di mana pun aku berpijak, di situ aku berpuisi,” ungkapnya menjelasan.

Ia ingin buku puisi itu bukan karya terakhir. Kumpulan puisi itu, diharapkan juga menjadi rekam jejaknya, ketika telah tiada nanti. “Saya harap kedepannya akan ada lagi orang seperti saya. Apalagi orang kampung saya, khususnya di Teluk Pakedai,” paparnya.

Ketika ditanya puisi yang mana paling berkesan, dengan cepat Gunawan menjawab puisi di halaman 26, berjudul “Puisikan Saja”. Puisi itu kerap dibaca ketika diminta membacakan puisi. Puisi itu dibuat ketika ia sedang rindu. Rindu pada seseorang. Rindu kampung halaman. Bahkan, rindu pada Tuhan.

Terbitnya kumpulan puisi, menjadi kebanggaan Gunawan. Di kampungnya, buku ini tersusun rapi dan berjejer dengan beragam buku lainnya. Ia telah menyumbang beberapa bukunya ini di rumah baca yang digarap bersama komunitasnya.

Rumah baca tersebut diberi nama “Kampung Dongeng Pakedai”. Di sana, hampir setiap hari anak-anak datang dan membaca buku yang sudah ada. Ia berharap, kehadiran buku kumpulan puisinya, bisa memotivasi anak-anak di daerahnya, sehingga bisa mengikuti jejaknya dalam menulis. (agus wahyuni/lis)

Komentar