Stunting Dipengaruhi Malnutrisi dan Bumil Anemia

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 458

Stunting Dipengaruhi Malnutrisi dan Bumil Anemia
Ilustrasi. Net
PONTIANAK, SP - Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Kalbar, Andy Jap mengungkapkan, malnutrisi (kekurangan nutrisi) masih menjadi masalah besar, sehingga untuk stunting atau kondisi anak dengan gangguan pertumbuhan di Kalbar terbilang tinggi.

"Untuk Kalbar ini, salah satu permasalahan malnutrisi itu cukup tinggi. Kita Kalbar memang termasuk provinsi yang mendapat prioritas," ujarnya, kemarin.

Namun, kata dia, upaya menekan stunting telah dilakukan, antara lain dengan pemantauan status gizi anak di setiap daerah.

"Itu setiap tahun, Kementerian Kesehatan mengalokasikan anggaran yang dilakukan oleh teman-teman Poltekes. Itu kita pantau, setiap tahun menunjukkan penurunan. Memang masih tinggi, tapi upaya kita setiap tahunnya untuk menurunkan sudah ada hasilnya," terangnya.

Lebih lanjut Andy mengatakan, mengurai masalah stunting, sesungguhnya faktor utama yang patut menjadi perhatian adalah sektor hulunya. Di mana tingkat ibu hamil (bumil) yang mengalami anemia atau berkurangnya jumlah kandungan hemoglobin di dalam darah, masih cukup tinggi.

"Data juga menunjukkan bahwa anemia ibu hamil kita juga masih tinggi," ucapnya.

Karena stunting dipengaruhi sejak dalam kandungan, maka Diskes saat ini fokus pada seribu Hari Pertama Kehidupan (HPK). "Kita akan garap ibu hamil," katanya.

Bahkan sekarang, lanjut dia, Kementerian Kesehatan programnya sudah lebih ke hulu lagi.

"Ibu sebelum hamil sudah kita garap. Sehingga nantinya remaja-remaja putri akan kita berikan tablet penambah darah, supaya pada saat hamil itu benar-benar sudah siap," pungkasnya.

Sebelumnya, Andy menyebutkan bahwa data pemantauan stunting di Kalbar pada 2016, angkanya masih di bawah nasional.

Untuk kasus stunting, Kalbar berada di 34,9 persen. Sementara stunting nasional 27,5 persen. Sedangkan WHO merekomendasikan, angka ideal stunting yakni di bawah 15 persen. 

Sebelumnya, anggota Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi), Tatang S Falah menyebutkan, risiko terjadinya stunting tidak hanya dialami oleh masyarakat miskin, bahkan juga terjadi pada warga yang terbilang mampu.

Hal ini diungkapkannya saat kegiatan Editor Gathering, Kampanye Gizi Nasional, yang digelar IMA World Health bekerja sama dengan Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK) Kalbar beberapa waktu lalu.

Tatang mengungkapkan, dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, 2010 dan 2013, terungkap fakta jika satu dari tiga anak balita di Indonesia mengalami pertumbuhan tubuh pendek atau stunting. 

"Stunting merupakan tanda kekurangan gizi kronis, yaitu kekurangan gizi dalam jangka waktu yang lama dan sejak dalam kandungan sampai usia dua tahun," ujarnya.

Salah satu faktor, yaitu dari tingkat kesenjangan masyarakat, khususnya warga miskin yang masih belum memahami tentang hal ini, namun juga tak dipungkiri bahwa masyarakat mampu juga mengalaminya.

"29 persen warga mampu juga mengalami stunting," ujarnya.

Tatang menerangkan, selain diakibatkan asupan gizi pada ibu hamil serta anak yang belum tercukupi dengan baik, stunting juga terjadi karana pola asuh anak yang belum memenuhi standar minimal PBMA.

Tatang menjelaskan, selain pola asuh yang tidak tepat, gizi yang tidak mencukupi, terjadinya infeksi juga merupakan penyebab lain terjadi stunting. Artinya seseorang harus higienis.

"Seperti sanitasi lingkungan, ini juga harus diperhatikan oleh ibu dan anak," ucapnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Bina Masyarakat, Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Trisnawati mengatakan, sejauh ini dalam penanganan stunting di wilayah kerjanya, dilakukan berbagai program. 

Salah satunya pendampingan pada ibu hamil, dengan pendekatan mulai dari 1000 hari pertama kehidupan, melalui program 1000 HPK.

"Dari kehamilan hingga anak usia dua tahun tentang bagaimana anak mendapatkan pertumbuhan perkembangan sesuai dengan usianya, tentu melalui personal dan kelompok pada masyarakat kita lakukan penanggulangan stunting," katanya.

Dia menyebutkan, stunting di Kota Pontianak menurun. Dari 56 ribu balita yang ada, hanya  17 persen anak yang mengalami pertumbuhan tumbuh pendek. (umr/ova/and)

Komentar