Pilkada Bisa Rawan Konflik, Jika Ada ‘Hantu-hantu Media’

Ponticity

Editor Andrie P Putra Dibaca : 512

Pilkada Bisa Rawan Konflik, Jika Ada ‘Hantu-hantu Media’
Direktur Eksekutif LPSP-AIR, Ahmad Sofian. (SP/Umar)
PONTIANAK, SP - Jika ditinjau dari perkembangan media saat ini, maka secara gamblang media dapat dipisah menjadi dua kutub yang saling berlawanan. Perbedaan di antara keduanya, sesungguhnya lebih kepada sifat dari isi yang diberitakan.

Direktur Eksekutif Lembaga Pengkajian dan Studi Arus Informasi Regional (LPS-AIR), Ahmad Sofian mengatakan, pertama media mainstream yang berpedoman pada dasar jurnalistik, dan media sosial yang siapa pun bisa menjadi pewarta tanpa harus merujuk aturan main dalam membuat berita.

"Pertama media mainstream seperti koran, radio, TV. Nah, di satu sisi ada pemberitaan-pemberitaan yang kalau dibahasakan itu 'hantu-hantu' pemberitaan di media sosial," ujarnya kepada Suara Pemred, Kamis (23/11).

Mesti diakui, tidak semua media sosial seperti Facebook, WhatsApp, atau media online lainnya berisikan informasi negatif atau tidak sesuai fakta. Banyak juga yang layak untuk dibaca.

"Dari sisi dua media itu, sebenarnya kan yang perlu dicermati itu irisan-irisan. Jadi misalkan, isu yang ada di media sosial itu kemudian menetes ke masyarakatnya itu atau pemberitaan-pemberitaan di media mainstream," kata Sofian.

Lebih lanjut ia mengatakan, dalam kaitan Pilkada serempak dan Pemilu 2019, keberadaan media mainstream harus bisa menjadi penyejuk.

"Jadi dengan gerakan literasi media. Sebelum posting pemberitaan itu, setidaknya sudah ada opini-opini pembandingnya. Bagiamana tingkat kebenarannya, nanti dampaknya bagaimana," pungkasnya. (umr)