Mengembangkan Perdagangan Karet Berkeadilan

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 265

Mengembangkan Perdagangan Karet Berkeadilan
KARET WARGA - Aloysius saat memfasilitasi proses penjualan langsung karet kelompok tani ke pabrik karet di Sintang. Warga di Desa Apin Baru, Sintang terbantu dengan kehadiran para relawan untuk menjual karet warga. (Gemawan)

Gemawan Jadikan Karet Tulang Punggung Warga 


Tanaman karet yang tersebar merata di desa-desa di Kalbar, menjadi pekerjaan pokok sebagai pendapatan utama bagi rata-rata masyarakat desa. Begitu juga di Desa Apin Baru, Kecamatan Dedai, Kabupaten Sintang. Kebun karet menjadi warisan turun temurun bagi masyarakat. 

SP - Masyarakat di Desa Apin baru, rata-rata berprofesi sebagai penyadap karet. Pekerjaan itu diwariskan turun temurun. Klon atau jenis yang tumbuh juga merupakan generasi klon tahun 70-an. Penanaman untuk lahan baru dilakukan melalui cabutan batang yang tumbuh dari biji di sekitaran batang, cabutan ini yang mereka tanam ke kebun baru.

Karet tidak pernah dilakukan perawatan, seperti pemupukan maupun peremajaan tanaman, sehingga banyak yang terserang penyakit maupun virus tanaman, seperti Kering Alur Sadap (KAS), serangan anai, dan banyak juga terserang jamur akar putih yang membuat tanaman tumbang dengan sendirinya. 

Walaupun begitu, penyadapan kulat masih menjadi primadona. Rata-rata penyadapan dilakukan mulai pukul 04.00 hingga 08.00 pagi, dengan hasil berkisar 5 hingga 10 KG karet basah. 

Menurut Yosep, BPD Apin Baru, potensi kulat per hari jika dikumpulkan bisa menghasilkan minimal satu ton kulat. Artinya, dalam 20 hari kerja sebulan bisa terkumpul minimal 20 ton kulat. 

“Potensi yang cukup menjanjikan untuk desa yang tidak memiliki jalan beton, akses listrik dan sinyal telepon yang kurang,” kata Yosep.

Namun, pendapatan itu tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan dan penghasilan petani. Kebijakan nasional dan lokal sampai sekarang, belum memberikan perlindungan bagi petani. 

“Petani masih terjebak dalam kebijakan global, dimana harga ditentukan oleh perusahaan dalam penetapan dan pelelangan harga internasional,” ungkap Aloysius, pendamping petani karet Sintang dan Kapus Hulu.

Harga lokal kulat di desa berkisar Rp5-6 ribu. Harga ini selain didapatkan dari perhitungan dan pembayaran dari penampung, tetapi jenis bahan olahan karet (bokar/kulat) yang dihasilkan petani. 

“Jenis ini yang melahirkan branding khusus bagi desa yang dinilai pabrik karet. Artinya, dari pabrik membuat penilaian khusus, seperti hasil olahan karet yang dihasilkan,” ujarnya. 

Karet di Desa Apin Baru memiliki kualitas yang kotor dan basah. Penilaian ini berdampak kepada penetapan harga ditingkat penampung desa dan pabrik karet.

Tak hanya di Apin Baru, budaya pengolahan kotor dan penyimpanan yang belum memenuhi standar, juga dilakukan petani karet di desa lain di Kalbar. Masih banyak sisa potongan sadapan kayu karet dalam bokar, penyimpanan biasa dengan cara rendam di kolam maupun sungai, menyebabkan kandungan airnya relatif tinggi, dan mengubah struktur, serta kandungan getah dalam karet.

Dulunya, petani juga pernah mengolah karet dengan bersih dan tipis. Mungkin perubahan cara pengolahan dan kualitas, juga disebabkan oleh penemuan alat pencacah karet yang digunakan oleh pabrik karet, hingga produksi karet bersih juga berpengaruh kepada permintaan karet oleh pabrik karet. 

Teknik penyimpanan berpengaruh kepada kualitas. Kulat yang direndam jika dilihat dan diraba, jauh sekali dengan karet dikeringkan. Baik itu dari sisi kelenturan disaat ditarik, hingga warna.

Tomas, tim pemberdayaan PT Kirana Prima, Sintang, saat FGD (focus group discussion) menyatakan, pengolahan karet kering dan bersih menjadi penting bagi petani dan karet. 

“Bagi petani, karet bersih ini akan berpengaruh kepada harga yang diberikan pabrik karet. Sedangkan bagi pabrik, akan berpengaruh kepada standar hasil pengolahan kualitas pesanan dari pembeli,” ungkap Thomas.

Paska FGD dan sosialisasi pengolahan karet kering, kegiatan dilanjutkan dengan praktek lapangan menilai kualitas karet petani. Ada kesepakatan harga dengan perusahaan. Harga karet rendaman hanya berkisar Rp4.000. Karet bersih bernilai Rp11 ribu per kilonya. 

Bahkan, 10 November 2017, sebanyak 1,7 ton karet kering yang dikumpulkan kelompok sejak dua bulan, dijual langsung ke pabrik karet PT Kirana Putra. Selain mendapatkan harga yang cukup adil, proses ini juga akan memberikan dampak yang begitu besar bagi desa. Seperti, peningkatan pendapatan keluarga rumah tangga. 

Sistem pembelian karet kelompok ini melalui sistem penetapan harga tertingggi. Artinya, kelompok dapat mendapatkan harga disaat esok hari saat mengantar, dengan harga yang telah ditetapkan sebelumnya. 

Thomas menegaskan, sistem perdagangan tersebut bersifat adil. Dimana petani bisa mengetahui langsung harga dari pembeli pertama. Sistem ini yang menjadi model pembangunan berkelanjutan. 

“Ada kehendak bersama maupun kesepakatan bersama terkait kebutuhan apa yang diinginkan oleh petani, serta kebutuhan apa yang diinginkan juga oleh pembeli,” ujar Thomas. (Rilis Gemawan/lis)