Bawalah Kamera dan Bersiap Bahagia!

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 755

Bawalah Kamera dan Bersiap Bahagia!
SWAFOTO - Warga ramai berswafoto di Taman Ahmad Yani, Komplek Universitas Tanjungpura, Pontianak. Taman ini baru saja diresmikan bersama Taman Arboretum Sylva Untan oleh Wali Kota Pontianak, Sutarmidji tepat di malam pergantian tahun 2018. (SP/Balasa)

Menjelajah Taman Baru Kota Pontianak


Jika Anda datang ke kota ini dan melihat perubahan, yakinlah itu bukan cuma perasaan. Bundaran Tugu Digulis Untan yang sebelumnya megah sendiri, kini dilengkapi dengan taman yang indah.

SP - Jika melakukan perjalanan dari Bandara Supadio menuju arah kota, Anda akan lihat jembatan setengah jadi di sisi kiri, tapi berhias bunga warna-warni dengan tulisan "Taman Arboretum Sylva Untan Pontianak". Di bawahnya, diorama perjuangan di zaman Belanda terbentuk dalam empat bidang.

Menepilah sebentar. Masuk ke pintu gerbang Universitas Tanjungpura, kemudian belok kanan. Parkirkan kendaraan dan bersiap melihat perubahan itu. Taman yang sebelumnya dikelola pihak universitas, dialihkelolakan ke Pemerintah Kota Pontianak. Namanya kini Taman Ahmad Yani. Bersama taman yang disebut sebelumnya, taman itu diresmikan di malam pergantian tahun 2018 kemarin.

Bila Anda masih tahan penasaran, lanjutkan menyusur jalan. Berhentilah di depan jejeran 30 kayu yang membentuk pagar, menoleh ke kanan dan lihat tulisan "Pontianak Punye Cerite". Luapkan rasa ingin tahu Anda dan siapkan kamera!

Begitu masuk taman, Anda akan melihat papan catur. Bukan papan catur yang biasa Anda lihat. Bentuknya lebih besar, dengan bidak-bidak yang tak mungkin Anda jentikkan jari sambil teriak "skak". Papan senada kain Bali itu dikelilingi 20 bola-bola aneka warna. Besarnya, dua kali perut badut ulang tahun.

Sekarang Anda boleh bingung, pilih jelajah ke sisi kanan atau kiri. Keduanya punya jalan petak-petak, selang-seling rumput semen. Di kanan, mata Anda akan menubruk bangunan bundar besar. Di dalamnya ada delapan perangkat komputer dan 18 tablet untuk mengakses buku-buku dari perpustakaan nasional. Ya, itu perpustakaan digital pertama Kota Pontianak!

Teruslah maju, dan lihat belah kanan. Papan dari bahan tembus pandang yang memamerkan wajah, nama dan tahun. Deretan pemimpin, Wali Kota Pontianak dari zaman R Soepardan (1946-1948), saat Pontianak masih berstatus stadsgemeente atau landschaap gemeente, setara dengan kotamadya pada zaman kependudukan Belanda, sampai Wali Kota sebelum Sutarmidji.

Teruslah maju. Di hadapan Anda ada bangku beton melingkar dengan papan sama yang memuat gambar gedung dan tempat wisata kota. Anda bisa membaca sebentar kemudian berjalan memutar. Jika lurus terus, Anda sampai di beranda Bundaran Tugu Digulis. 

Tak perlu takut panas, pohon sepanjang kiri-kanan jalan taman dijamin akan membuat Anda nyaman. Apalagi jika terus menekuni lantai, banyak balai-balai yang bisa dipakai santai. Mau yang beratap dengan cat cokelat, atau sebatas bangku menghadap tanaman rendah.

Susuri saja terus, sampai Anda kembali ke titik awal. Sekarang, untuk menikmati taman di seberang, dua jalur bisa Anda gunakan. Yang paling kiri, akan mengajakmu bertemu dengan papan wajah Wali Kota tadi. Abaikan sementara tempat santai berbentuk setengah lingkaran di sebelah kanan.

Teruslah melangkah sampai menjumpai bangku beton berbentuk lingkaran. Duduk dan amati satu-satu papan tembus pandangan di depan Anda. Tapi hati-hati, jaga-jaga liur menetes melihat gambar makanan khas Pontianak. Tak perlu dijelaskan, Anda pasti ingat rasanya.

Sementara di kiri, kalau-kalau baterai ponsel habis, Anda bisa isi di sana. Ada Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) yang disiapkan PLN dengan banyak colokan. Walau tandanya berbayar, jangan khawatir. Wali Kota Pontianak, Sutarmidji ketika malam peresmian berujar akan membuat layanan itu gratis. Pemkot yang garansi, toh duit pajak juga.

Untuk menunggu baterai penuh, ada bangku-bangku. Biar tak bosan, Anda bisa lihat papan tembus pandang besar yang berjudul "Pontianak Heritage". Kapan-kapan datanglah ke bangunan-bangunan itu. Belajar sejarah di tempatnya. Malu cuma tahu nama.

Berjarak setengah lapangan futsal, terdapat dua arena basket 3 on 3. Ajak teman Anda main di sana, gratis. Berjarak setengah lapangan futsal lagi, terhampar skate park kira-kira seluas dua kali lapangan bulu tangkis. Dilukis macam-macam. Dari khas corak insang, sampai yang tiga dimensi. Konon, fasilitas skate lapangan itu sudah masuk standar.

Ketakjuban ditahan dulu. Untuk menuju lapangan skate itu, Anda akan melewati pilar bingkai jendela yang hanya kosennya. Itu tempat bagus untuk ambil gambar. Percayalah. Kosen besar itu berjumlah 13. Di bagi dua baris terpisah dengan masing-masing enam dan tujuh. Luas mata memandang, Anda boleh terkesima. Oh ya, bila ingin berkemih, ada toilet di kiri skate park.

Bagaimana, sudah cukup bahagia? Sebab itu tujuan taman-taman ada. Tahun sebelumnya, Taman Digulis Untan lengkap dengan arena bermain anak, perpustakaan, lapangan BMX dan jogging track diresmikan juga di malam pergantian tahun.

Tiga taman kota ini berada di lahan Universitas Tanjungpura. Sang Rektor, Prof Thamrin di malam peresmian (31/12) berkata peruntukan lahan di kawasannya memang sudah dibagi-bagi. Alih kelola taman yang sebelumnya mereka garap, semata-mata ikut menyediakan lahan terbuka hijau untuk Pontianak.

"Lahan yang tadinya tidak menarik, jadi ruang terbuka hijau yang sangat menarik. Fasilitas yang ada menjanjikan kenyamanan bagi kita semua yang tinggal dan datang ke Pontianak," kata Prof Thamrin.

Taman kota menurutnya jadi tempat destinasi wisata baru. Kini, ketika punya saudara yang datang, atau jadi pelancong seperti Anda, tak usah bingung mesti jalan ke mana. Kucuran total dana Rp6,1 miliar yang dikerjakan dalam tiga bulan terakhir jelang tutup tahun, berhasil menyulap si lahan tidur.

Wali Kota sendiri berharap taman baru ini bisa memecah kunjungan masyarakat. Tak melulu di Taman Digulis Untan. Tapi paling penting katanya, keberadaan taman bisa bikin kebahagiaan warga meningkat. (kristiawan balasa/ind)