Hari Pertama BBM Nontunai

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 186

Hari Pertama BBM Nontunai
BELI BBM - Pengendara sepeda motor tengah mengarahkan kendaraannya ke jalur pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan nontunai di SPBU Jalan Tanjungpura, Pontianak, Senin (1/1). Per 1 Januari 2018, membeli BBM harus dengan e-money. Tapi sayang, masih bany

SPBU Terkendala Mesin EDC


Warga Pontianak Timur, Syaroni 
"Ternyata lama, ndak seperti penerapan nontunai di tol Jakarta, kalau di sana tinggal ditempel. Kalau di sini, pegawai SPBU yang melakukan transaksi, jadi tidak praktis"

PONTIANAK, SP - Kota Pontianak menerapkan kebijakan pemberlakuan e-money di semua stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) mulai 1 Januari 2018. Namun di hari pertama berjalannya kebijakan ini, sejumlah kendala masih ditemui. 

Walau warga antusias membeli kartu nontunai (e-money), pelayanan yang diharap tak menjadi lebih cepat. Belum lagi soal mesin Electronic Data Capture (EDC) yang kerap ngadat.

Satu di antara warga Pontianak Timur, Syaroni (24), harus menunggu lima menit untuk menyelesaikan pengisian BBM jenis Pertalite di SPBU Jalan Tanjungpura, Senin (1/1). 

"Ternyata lama, ndak seperti penerapan nontunai di tol Jakarta, kalau di sana tinggal ditempel. Kalau di sini, pegawai SPBU yang melakukan transaksi, jadi tidak praktis," ujarnya.

Menurutnya, penerapan nontunai bukan sekadar mengurangi dan mengefisiensikan jumlah uang yang beredar. Tapi juga memberi kemudahan dalam transaksi. Sebagaimana yang dilakukan di pintu-pintu tol di Jakarta.

"Harusnya ada perbaikan, mesinnya jangan seperti itu, kalau antre nanti makin panjang. Lebih cepat malah pakai uang cash," sebutnya.

Sebenarnya, jika dia ingin membeli dengan uang tunai, bisa saja. SPBU ini masih menyediakan layanan untuk itu. Namun dia penasaran dengan kebijakan yang digadang dekat akhir tahun 2017 tersebut.

Mahadi Sumpri, warga yang menggunakan e-money mengatakan, hingga saat ini dirinya belum mendapat kendala dalam penggunaan e-money. Namun dia sedikit menemui kesulitan ketika akan melakukan pengisian saldo (top up).

“Isi saldo yang online kan masih terbatas. Paling itu kendalanya,” kata Mahadi.

Menurut Mahadi, hanya beberapa mesin ATM saja yang dapat digunakan untuk melakukan pengisian saldo e-money. Sementara jika dengan cara manual mendatangi bank yang mengeluarkan kartu tersebut, juga harus antre dengan nasabah lain.

“Kadang kita harus satu antre dengan nasabah yang datang ke petugas bank dengan urusan lain. Jadi harus nunggu lagi,” ucapnya.

Warga lain asal Pontianak Kota, Agustiandi (26) malah mengaku tak tahu harus membeli kartu nontunai di mana. Walau tahu kebijakan itu akan diterapkan di awal tahun, namun lantaran masih banyak SPBU menerima transaksi tunai, dia pun enggan bertransaksi nontunai.

"Sekarang masih banyak yang terima tunai. Selain itu saya juga merasa tidak ada masalah dengan beli tunai," ucapnya.

Sementara warga lainnya Shauqi mengaku sampai saat ini masih nyaman membeli BBM dengan pembayaran tunai. Menggunakan e-money katanya, cukup ribet karena harus melakukan pengisian saldo terlebih dahulu. 

"Jika saldo tidak mencukupi saat melakukan pembayaran maka akan ribet juga, harus mengisi dahulu atau ditambah pembayaran manual. Dia menilai hal itu akan membuat pekerjaan berkali-kali,” tuturnya.

Shauqi juga mempertanyakan masalah keamanan kartu, karena berdasarkan sepengetahuannya jika kartu e-money hilang, maka saldo yang ada akan hangus karena tidak dapat dilakukan pemblokiran atau klaim.

Selain itu, dia juga menyoroti masih kurangnya sosialisasi dan edukasi yang dilakukan pihak terkait kepada masyarakat. Karena dirinya hanya mengetahui e-money melalui media massa.

“Kalau untuk pemerintah langsung memberikan sosialisasi saya belum pernah liat. Misalnya menyediakan tempat khusus untuk informasi. Ini kan sampai sekarang belum ada,” ujarnya.

Meski demikian, sebenarnya ada banyak warga kota yang sudah bersiap menghadapi kebijakan itu sejak akhir tahun. Di SPBU Jalan Gusti Hamzah, salah seorang pegawai SPBU menyebut kartu nontunai sudah habis sebelum malam tahun baru.

"Mungkin besok baru ada lagi, Bang," ucapnya.

SPBU itu sebenarnya jadi salah satu stasiun pengisian yang menerapkan pembelian BBM dengan nontunai sejak awal. 

Sama hal dengan SPBU di Jalan Tanjungpura. Pengawas SPBU Jalan Tanjungpura, Rustam bercerita, pihaknya sudah memberlakukan layanan fintech itu mulai 19 Desember 2017. Jumlah transaksinya pun lumayan, yakni di atas Rp50 juta per hari.

"Tapi ada banyak kendala di top up (isi saldo), tadinya kita terima top up, jadi kita setop dulu sementara, kita alihkan ke (rekanan) yang bersedia, karena ada yang bersedia, ada yang tidak," kata Rustam.

Kendala di top up atau isi saldo ada di mesin EDC. Penggunaan mesin itu kerap terjadi kesalahan (error). Malah ada beberapa dari salah satu bank yang tidak bisa dipakai.

"Untuk sementara jadi lambat pelayanan, tidak tahu lah ke depannya, kemungkinan ke depan ada perbaikan, dan kita harap ada perbaikan, terutama dari banknya. Mesin banyak kendala," ucapnya.

Mesin dan kartu transaksi nontunai memang disediakan pihak bank. Di SPBU itu, ada empat bank yang jadi rekanan, yakni BRI, BCA, BNI dan Mandiri. Tapi, tidak semua mesin itu datang awal. Ada bank yang baru mengantar tanggal 31 Desember 2017 kemarin.

"Kadang kita top up, dari rekening sudah dipotong, tapi di e-Money belum masuk. Jadi orang komplain ke kita. Sedangkan uang sudah berkurang, rugi jadinya. Makanya kita setop," jelasnya.

Padahal, ketika pertama kali diberlakukan, per hari transaksi dengan nontunai bisa Rp50 juta ke atas. Sementara setelah tak lagi menyediakan fasilitas isi saldo, besaran transaksi berkurang jauh. Alasan lain, kata Rustam bisa jadi akibat pihaknya masih menerima transaksi tunai.

"Entah sinyal atau mesin kita tidak tahu. Ada mesin satu, tak bisa diapakan sama sekali, dimatikan juga tidak bisa. Tapi kalau masyarakat bayar tunai kita masih terima. Takut juga kita kan, orang marah," ungkapnya.

Rustam berujar, antusias masyarakat bertransaksi nontunai cukup tinggi. Kartu nontunai yang dititipkan di SPBU itu, banyak terjual. Untuk kartu nontunai dari BRI, total 590 kartu ludes. BNI sebanyak 50 kartu, dan Flazz BCA 100 buah. Sementara untuk bank Mandiri, belum pernah mengantarkan kartu nontunai.

"Padahal yang mau beli banyak, kita pesan belum diantar lagi. Harga kartu beda-beda, BRI Rp20 ribu, tapi saldo kosong. BCA Rp30 di dalam sudah ada Rp20 ribu. Top up ada kena biaya Rp1.500," pungkasnya. 

Jauh hari sebelumnya, Kepala Kantor Wilayah (KPw) Bank Indonesia (BI) Kalbar, Dwi Suslamanto mengungkapkan bahwa sosialisasi serta pemahaman terhadap petugas SPBU terkait penggunaan mesin EDC perlu dilakukan mengingat masih banyak petugas yang belum memahami penggunaan mesin tersebut.

Hal itu ia kemukakan saat kegiatan sosialisasi kepada Forum Jurnalis Ekonomi Khatulistiwa (Fojekha) dalam Ektronifikasi Pembelian BBM secara Non Tunai di seluruh SPBU Kota Pontianak pada September 2017 lalu.

Dwi menambahkan, di awal tahun 2018 sistem pembayaran BBM di Pertamina sudah mewajibkan konsumen menggunakan uang elektronik. Namun masih banyak masyarakat yang masih belum familiar terhadap e-money. Untuk itu, sosialisasi memang perlu intens dilakukan.

"Tentu kita harus yakin per 1 Januari 2018 sistem pembayaran BBM dengan e-money bisa tercapai, apalagi jumlah SPBU di kota yang tidak banyak hanya 21 SPBU, namun memang kendalanya digolongan yang belum familiar dengan e-money," sebutnya.

Dwi juga berharap pihak perbankan turut menyosialisasikan e-money, serta penggunaan mesin EDC di SPBU yang ada. Melakukan pengecekan secara rutin sehingga penggunaan mesin e-money menjadi lebih lancar.

"Jadi kalau bisa perbankan yang sudah bekerjasama dalam sistem pembayaran BBM ini juga melakukan pengecekan terhadap mesin EDC-nya di masing-masing SPBU, bahkan juga menyediakan sarana informasi terkait uang elektronik, baik itu dalam bentu debit maupun kartu kredit," tukasnya.


Kota Percontohan


Area Manager Communication and Relation Pertamina Kalimantan, Alicia Irzanova mengatakan, saat ini konsumen bisa melakukan transaksi tunai dan nontunai di seluruh SPBU di Pontianak. Penerapan wajib e-money di semua SPBU ini adalah program Pemkot Pontianak.

"Terkait perintah dari Pemkot Pontianak, bahwa tahun 2018 semua transaksi di SPBU harus tunai, Pertamina sudah membantu sosialisasi baik, langsung di SPBU maupun di media kepada masyarakat," ujarnya, belum lama ini.

Menurut Alicia, Kota Pontianak merupakan satu-satunya kota yang menerapkan kebijakan wajib e-money di semua SPBU.

"Pontianak satu-satunya kota yang Pemkotnya menerapkan aturan tersebut," ungkapnya.

Saat penandatanganan nota kesepakatan September lalu, Pontianak digadang dapat menjadi role model bagi kota-kota lain. Setidaknya ada 21 SPBU di Pontianak yang hanya menerima pembelian dengan e-money pada 2018. Ini merupakan bentuk dukungan Gerakan Nasional Nontunai yang dicanangkan pemerintah tahun 2014 lalu oleh Bank Indonesia. 

Penggunaan e-money sebenarnya sudah dilakukan di beberapa SPBU sejak Juli 2017 lalu. Adanya terobosan ini diharap jadi solusi mengurangi penggunaan cash dan jauh lebih praktis saat mengisi bahan bakar. Tidak perlu memakan waktu lama untuk melakukan transaksi menggunakan e-money.

Sedikitnya ada sepuluh bank yang menjalin kerja sama. Pembelian bisa dilakukan di sana atau, modern market, dan SPBU. Sedangkan, untuk penambahan saldo dapat dilakukan di ATM, internet banking, modern market, dan beberapa SPBU. 


Mengisi Voucher


Vice President Bank Mandiri Kalbar, Ahadi Subri mengatakan ada beberapa cara untuk melakukan pengisian voucher e-money Bank Mandiri.

"Itu pertama bisa melalui mesin ATM kita, ada petunjuknya pengisian e-money di mesin ATM. Kedua, di Indomaret. Itu kita ada kerjasama, untuk pengisian e-money juga bisa. Yang ketiga, pengisian e-money bisa melalui handphone, tapi handphone Samsung yang android. Juga bisa diisi di tellernya kita di Bank Mandiri," ujarnya kepada Suara Pemred.

Ia menjelaskan, terkait cara pengisian e-money via handphone, terlebih dulu harus memiliki account Mandiri. "Terus diaktifkan Mandiri onlinenya," kata dia.

Ia mengatakan, bagi yang telah mengisi saldo di e-money, saldo tersebut tidak terbatas waktu penggunaannya. Akan tetapi, saldo dibatasi dengan sejumlah nominal.

"Dibatasin maksimal Rp1 juta, minimal Rp1 rupiah," ucapnya.

Ia menerangkan, e-money sendiri layaknya uang, namun dalam bentuk kartu prabayar. Apabila terjadi kehilangan, maka otomatis tidak bisa diklaim.

"Makanya dari OJK dan Bank Indonesia membatasi. Karena memang kalau hilang, itu memang hilang. Jadi itu kayak punya uang di dompet, kalau hilang ya hilang," jelasnya.

"Tujuannya sebenanya untuk memudahkan transaksi pembayaran," katanya.

Untuk mendapatkan e-money, terang dia, apabila diproses di Bank Mandiri tidak dikenakan biaya. Akan tetapi, biaya tambahan akan dibebankan jika diproses di tingkat ritel.

"Kalau di Alfamart dan Indomaret, itu dikenakan Rp1.000 karena kita bekerjasama dengan mereka. Kalau melalui ATM atau Bank Mandiri, itu tidak dikenakan biaya," katanya.

Subri mengatakan, e-money bisa didapat oleh siapapun tanpa adanya persyaratan administrasi seperti mendaftar dengan menggunakan identitas.

"Kalau hanya sekadar memperoleh e-money, (identitas) itu tidak diperlukan kalau hanya untuk membeli kartunya. Cukup bisa dibeli saja sih. Kalau di Indomaret masih ada stoknya, tinggal beli saja," katanya.

Bank Mandiri di Kalbar, cukup banyak menyediakan stok e-money ini. Bahkan, minat masyarakat semakin tinggi untuk menggunakan setelah adanya dorongan dari Pemkot.

"Dari kartu yang sudah beredar dari Bank Mandiri, itu kita sudah di atas, kalau 10 ribu lebih itu sudah pasti. Dan ini terus kita tambah," katanya. (bls/umr/rah/ova/ind)

Minta Pertamina Proaktif


Wali Kota Pontianak, Sutarmidji meminta pihak Pertamina lebih proaktif. Salah satunya dengan terus melakukan sosialisasi. Dia yakin, bila masyarakat sudah merasa nyaman, kebijakan itu akan mudah berjalan.

"Kalau masyarakat sudah merasa nyaman, saya rasa itu sudah jadi kebutuhan. Pokoknya upayakan jangan sampai simpan duit banyak-banyak di dompet," ucapnya.

Berbagai macam kendala yang ada, dia minta segera diatasi. Evaluasi terus-menerus mau tidak mau mesti dilakukan.

"Pokoknya semaksimal mungkin, kalau masih ada kendala, harusnya ada satu-dua SPBU yang masih melayani dengan tunai," usulnya.

Kota Pontianak sendiri sudah memproklamirkan diri sebagai pelopor fintech atau finansial teknologi dimana e-money merupakan salah satu bentuknya. Sutarmidji malah pernah diundang untuk menjadi pembicara di Singapura berkaitan dengan hal itu. Tentu akan sangat disayangkan bila kebijakan transaksi nontunai tidak berjalan optimal.

"Tol juga masih ada yang bisa pakai bayar tunai. Mungkin ya perlu sosialisasi maksimal," ujarnya.

Terkait penerapan e-money di semua SPBU di Pontianak, Wali Kota mengungkapkan pihaknya dalam hal ini hanya ikut menyosialisasikan. 

"Kita harus sudah biasakan diri dengan transaksi cashless. Di berbagai negara, sudah menerapkan. Bahkan keluar parkir dari Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, sudah tidak melayani cash, mereka tidak menerima tunai," katanya.

Soal sosialisasi, pihaknya sudah membantu. Dan dia pun meminta pihak Pertamina dan perbankan yang aktif memberikan pengetahuan pada masyarakat.
Sementara untuk penetapan biaya dalam pembuatan e-money dan biaya isi ulang, dia menyerahkan semua ke pihak perbankan.

"Ini berlaku secara nasional, bukan Pemkot, kita hanya ikut sosialisasikan. (Untuk biaya) bukan urusan kita, masalah bank ini, Pertaminalah yang teknis di lapangan, jadi sekali lagi ini program pusat," pungkasnya.

Ketika penandatanganan Nota Kesepakatan bersama Pertamina, Bank Indonesia Perwakilan Kalbar dan, Wali Kota Pontianak di Aula Bank Indonesia Kalbar, Sabtu (16/9) lalu, Sutarmidji berharap transaksi apapun di Pontianak sedapat mungkin nontunai. Ada beberapa keuntungan yang bisa didapat. Utamanya membantu negara dalam mengurangi biaya cetak uang.

"Cetak uang biayanya mahal, kalau kumal dimusnahkan. Kemudian ada pengamanan transaksi, dan bergengsi juga kota dengan teknologi," ucapnya.

Dia pun mengingatkan menyimpan uang dalam jumlah besar dalam dompet bisa mengganggu kesehatan bila disimpan dalam saku celana bagian belakang. Contohnya jadi penyebab penyakit saraf terjepit. (bls/ind)

Komentar