Pemkot Wacanakan Dermaga Khusus Kontainer

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 146

Pemkot Wacanakan Dermaga Khusus Kontainer
KONTAINER - Truk kontainer berhenti di traffic light jalan Tanjungpura Pontianak, belum lama ini. Kepala Dishub Kota Pontianak berencana membangun dermaga penyeberangan khusus untuk kendaraan besar. (Dok SP)

Memecah Kepadatan Lalu Lintas 


Kepala Dishub Kota Pontianak, Utin Srilena Candramidi
"Dengan dermaga penyeberangan itu, jadi tidak lagi mereka masuk kota. Masuk kota khusus kendaraan roda empat ke bawah. Roda enam ke atas fokus lewat penyeberangan" 

PONTIANAK, SP - Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Pontianak, Utin Srilena Candramidi mengungkapkan, pihaknya berencana membangun dermaga penyeberangan khusus untuk kendaraan besar. Kendaraan roda empat ke atas, apakah truk atau kontainer nantinya tidak perlu masuk ke wilayah Kota Pontianak.

Lokasinya kemungkinan ada di Batu Layang, Pontianak Utara menyeberang ke Nipah Kuning, Pontianak Barat. Utin berharap rencana ini terwujud. Entah melalui provinsi, atau pemerintah kota. Sehingga, fokus kendaraan besar hanya di jalur itu saja.

"Dengan dermaga penyeberangan itu, jadi tidak lagi mereka masuk kota. Masuk kota khusus kendaraan roda empat ke bawah. Roda enam ke atas fokus lewat penyeberangan," ucapnya, Senin (8/1).

Jika berhasil, dia yakin kepadatan kendaraan di daerah Siantan bisa dipecah. Apalagi warga sekitar sempat menolak kendaraan besar itu melintas di Jalan Khatulistiwa dan Jalan Gusti Situt Mahmud, Pontianak Utara.

"Kemarin kita juga sudah bicara. Mudah-mudahan nanti ada investor, kalau tidak dari Pemkot atau Pemprov, ada investor yang bisa menanamkan usahanya di situ," ucapnya.

Bila investor masuk, mereka bisa mendapatkan keuntungan dari usaha penyeberangan khusus kendaraan besar. Jadi penyeberangan itu fokus pada kendaraan berat. Apalagi, gudang-gudang banyak berdiri di kawasan Jalan Kom Yos Soedarso. Nantinya, kendaraan besar hanya akan sampai di sana, tak lagi masuk kota.

"Tahun ini mungkin belum, tapi kita siapkan konsep Detail Enggenering Desain (DED)-nya, nanti kita jual. Dalam arti kasih kesempatan kepada investor melaksanakannya dan nanti dia yang mengelolanya," ucapnya.

Kalau sudah oke, baru akan ada perjanjian kerja sama antara pemerintah dan investor. Dalam hal ini, pemerintah akan mendapat Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari tiap jasa yang digunakan.

"Kalau saya sih resolusinya di situ. Jembatan Kapuas Tiga kan di sana lagi dan belum tahu kapan," pungkasnya. 

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Pontianak, Mashudi mengatakan jika rencana pembangunan dermaga penyeberangan kontainer benar dibangun di Batu Layang, tentu akan mengalihkan arus kendaraan besar yang selama ini melewati Jalan Khatulistiwa dan Jalan Gusti Situt Mahmud.

"Memang ini baik juga, tapi tentu masih lama, namun kita dukung," katanya, Senin (8/1).

Politisi Hanura ini mengungkapkan, belakangan, kendaraan bertonase besar kerap menyebabkan kecelakaan di Pontianak Utara. Tak jarang malah menimbulkan korban jiwa. Sebagai solusi jangka panjang, pembangunan dermaga penyeberangan khusus kontainer akan mengatasi hal itu.

Bila memang dibangun di kawasan Batu Layang dan dihubungkan ke Nipah Kuning, arusnya akan pas dengan lokasi pergudangan. Jika sudah bongkar muat di situ, yang masuk ke kota hanya boleh kendaraan kendaraan roda empat. Penyaluran ke distributor akan lebih mudah.

"Kalau memang jadi, ini cocok dengan pembangunan Pelabuhan Samudera di Kabupaten Mempawah. Tapi seperti Jembatan Kapuas Tiga, kita belum tahu juga kapan realisasinya," ucapnya.

Jika benar jadi, dia menegaskan mereka yang kemudian bekerja di dermaga tersebut harus diisi sebagaian besar untuk warga sekitar. Dia yakin di sana tersedia sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Dengan demikian, pembangunan yang dilakukan juga akan berpengaruh ke kesejahteraan masyarakat sekitar.

"Investasi yang masuk, sebisa mungkin harus memberi manfaat kesejahteraan untuk masyarakat sekitar," pungkasnya. (bls/ind)

Diprotes Warga Pontura  


Masalah arus lalu lintas kendaraan besar atau kontainer ini sebelumnya telah menimbulkan arus proses dari warga Pontianak Utara. Warga merasa jengah dengan berbagai kecelakaan yang terjadi di kawasan itu. 

Buntut dari protes tersebut adalah aksi damai yang digelar warga di simpang empat Siantan, Jumat (22/12) lalu.Warga menuntut agar arus lalu lintas kendaraan bertonase besar dialihkan sepenuhnya dari Jalan Khatulistiwa dan Jalan Gusti Situt Mahmud ke Jalan Budi Utomo dan Jalan 28 Oktober Pontianak. 

Menanggapi hal ini, Kepala Dishub Kota Pontianak, Utin Srilena Candramidi mengatakan bisa saja hal itu dilakukan dengan melakukan rekayasa lalu lintas.

"Mungkin truk kontainer yang tidak ada angkutan (beban bawaan), akan diarahkan ke Jalan Budi Utomo, namun yang membawa barang, akan tetap melewati Jalan Khatulistiwa, karena jalan itu dipelihara nasional atau pemerintah pusat," kata Utin.

Alasan hanya kendaraan besar tidak bermuatan saja yang kiranya akan diperbolehkan melewati Jalan Budi Utomo dan Jalan 28 Oktober, karena kekuatan jalan. Dua jalan itu merupakan jalan kota. Sementara berdasarkan Peraturan Wali Kota Pontianak Nomor 48 Tahun 2016, Jalan Khatulistiwa dan Jalan Gusti Situt Mahmud, memang masuk jalan nasional dan bisa dilewati semua jenis kendaraan.

"Namun melihat perkembangan jumlah kendaraan dan kepadatan penduduk berkembang, akan ada rekayasa lalu lintas, dan akan konsultasi ke Wali Kota Pontianak soal ini," jelasnya.

Utin juga menyebutkan pihaknya akan membahas soal pengalihan arus kendaraan ini dalam rapat Forum Lalu Lintas.

"Itu mungkin akan kita bahas untuk Perwa saja, waktu dan jadwalnya supaya jam yang sibuk dan ramai mereka (kendaraan besar) tidak boleh lewat," katanya, Rabu (3/1).

Jika ke depan kendaraan bertonase besar itu tetap lewat di jalan nasional tersebut, mau tidak mau jalan itu harus dilebarkan.

"Mudah-mudahan dengan rapat ini kita berikan rekomendasi ke Balai Nasional, minta diperlebar jalan itu karena sudah tidak sesuai antara tingkat volume dari kendaraan dan jalannya, sedangkan itu kewenangan Balai Jalan Nasional," jelasnya.

Dia berharap usulan pelebaran Jalan Khatulistiwa dan Jalan Gusti Situt Mahmud bisa diterima peserta rapat. Dengan diperlebar badan kendaraan besar tidak akan menghalangi kendaraan lain.

"Kalau semua dialihkan ke Jalan 28 Oktober, jalan kita bisa amblas," ucapnya.

Selain akan mengusulkan pelebaran jalan, Utin meminta masyarakat juga harus wawas diri. Jangan sampai tidak menggunakan kelengkapan kendaraan. Pihaknya sering melakukan patroli ke wilayah Pontianak Utara, kerap ditemukan pengendara tidak menggunakan helm. Keluar gang tanpa melihat kanan-kiri. Hal ini dia minta disadari masyarakat.

Anggota DPRD Kota Pontianak, Yandi mengatakan, Dishub dapat melakukan rekayasa lalu lintas di wilayah Pontianak Utara. Kendaraan besar dapat melalui jalur alternatif Jalan Budi Utomo dan Jalan 28 Oktober.

“Kenapa mereka (truk kontainer) tidak diatur untuk melewati jalur alternatif. Kan kendaraan besar memang sudah disiapkan jalur di belakang itu,” tuturnya.
Menurut Yandi, jika pengendara masih melanggar jam ketentuan jika telah diberikan aturan untuk pengalihan jalur bagi kendaraan truk kontainer, maka dapat ditindak.

“Ini sudah beberapa kali kejadian, kendaraan besar itu menghambat. Pertama macet, kedua memang kecelakaan yang mengakibatkan korban jiwa,” ujarnya.
Menurutnya, Dishub harus segera mengkoordinasikan terkait pengaturan jalur bagi kendaraan besar yang melewati Jalan Khatulistiwa dan Jalan Gusti Situt Mahmud.

“Ini sudah harus segera. Jadi Dishub harus mengkoordinasikan itu. Pokoknya semua yang berkaitan harus diatur. Kalau perusahaan-perusahaan yang punya kendaraan roda enam ke atas, harus melewati jalur alternatif yang sudah disiapkan. Kita sudah minta itu untuk segera dikerjakan,” pungkasnya. (bls/rah/ind)