Rumah Sakit Diminta Bangun Jejaring untuk Pemenuhan Obat

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 102

Rumah Sakit Diminta Bangun Jejaring untuk Pemenuhan Obat
Ilustrasi. Net
PONTIANAK, SP - Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Andy Jap meminta rumah sakit yang ada di Kalbar membangun jejaring guna mengantisipasi kekosongan obat yang dibutuhkan pasien untuk peserta Badan Penyelenggara Jaminan (BPJS) Kesehatan saat di rumah sakit.

Menurut Andy, jejaring yang dimaksud adalah rumah sakit bekerjasama dengan apotik luar untuk pemenuhan obat yang kosong. Dengan begitu pasien yang menjadi peserta jaminan sosial tidak lagi direpotkan dalam mencari obat.

“Sebenarnya banyak solusi yang bisa dilakukan, salah satunya dengan membangun jejaring dengan apotik untuk memenuhi kebutuhan obat yang dicari pasien,” kata Andy di Pontianak, Selasa (9/1).

Menurut Andy, pasien tidak harus lagi mengeluarkan uang. Sebab sesuai mekanisme yang diatur, BPJS yang membayar melalui rumah sakit yang membangun jejaring tersebut.

“Jadi pasien tidak bayar, melainkan BPJS tetap bayar ke rumah sakit dan rumah sakit yang membayar ke apotik sehingga pasien tidak direpotkan,” jelas Andy.

“Ini dilakukan karena masyarakat tahunya mereka bekerjasama dengan BPJS untuk mendapatkan pelayanan medis hingga pemenuhan obat di rumah sakit yang bekerjasama dengan BPJS,” imbuhnya.

Andy menyebutkan ada beberapa faktor yang menyebabkan kekosongan obat di rumah sakit. Di antaranya rencana pengadaan obat tidak tepat. Misalnya rumah sakit membutuhkan satu jenis obat sebanyak satu juta butir. Begitu di perjalanan, hingga semester satu obat tersebut habis, sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan pada semester kedua. 

Di sisi lain, produsen obat juga tidak mau rugi. Mereka hanya memproduksi obat sesuai pesanan.

“Butuhnya satu juta, ternyata di produksi dua juta, siapa yang mau membeli sisanya. Akhirnya pasien yang membutuhkan tidak mendapatkan obat di rumah sakit dan beli di luar,” jelas Andy.

Faktor lain dari kenakalan produsen. Pada tahap awal menyanggupi pemenuhan obat sesuai kebutuhan, ternyata baru diperjalanan produsen tidak bisa memenuhi. Jika seperti, itu, lanjut Andy, sudah seharusnya menjadi catatan dan tidak lagi digunakan untuk memenuhi kebutuhan obat.

“Produsen seperti itu diberikan catatan sehingga tidak diperbolehkan lagi memproduksi obat,” jelas dia.

Andy menilai dalam persoalan seperti rumah sakit harus bijak mengantisipasinya. Misalnya dengan mencarikan alternatif obat yang lain sehingga pasien tidak bingung, terkecuali obat kosong semua.

“Misalnya satu kosong mungkin bisa diganti dengan yang lain,” kata dia. 

kedua dengan membangun jejaring apotik dalam pemenuhan obat, sehingga ketika kosong untuk satu obat bisa dipenuhi melalui jaringan yang sudah dibangun.

Kemudian, membangun jejaring seperti ini juga tidak hanya pada obat-obatan tapi juga laboratorium. Dengan begitu pelayanan kesehatan bagi masyarakat tetap terpenuhi dengan baik. 

“Sistem seperti ini sudah ada, tapi belum semua kerjasama ini bisa dilakukan,” ujarnya. (jek/ind)