Mangrove Indonesia Kritis

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 26

Mangrove Indonesia Kritis
LANGKA - Tumuk Putih atau Bruguiera hainesi dengan status critically endangered (terancam punah), ditemukan di Bentang Pesisir Padang Tikar, Kubu Raya tahun 2017 lalu. (Sampan Kalimantan)

Bentang Pesisir Padang Tikar Tekan Perubahan Iklim


Di tengah kritisnya hutan mangrove Indonesia, Bentang Pesisir Padang Tikar atau wilayah hutan mangrove di Kabupaten Kubu Raya, ternyata mampu jadi penekan perubahan iklim. Hal itu didapat dari penelitian karbon yang dilakukan Sahabat Masyarakat Pantai (Sampan) Kalimantan.

SP - Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, dari 3,48 juta hektare lahan mangrove Indonesia, 1,8 juta hektare diantaranya rusak. 

Direktur Jenderal Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Hilman Nugroho menyebut, kerusakan mangrove disebabkan dua faktor, yakni alam dan manusia. Faktor alam seperti bencana dan abrasi. Sementara faktor manusia akibat pembalakan liar dan alih fungsi lahan.

Direktur Sampan Kalimantan, Dede Purwansyah mengatakan, pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah mangrove, jadi hal penting untuk dilakukan. Dari data analisis spasial Sampan Kalimantan Oktober 2016, tutupan hutan mangrove Kalimantan Barat seluas ±153.592 hektare. 

Kabupaten Kubu Raya jadi kabupaten dengan luas tutupan hutan mangrove terbesar seluas ±115.142 hektar (75 persen). Disusul Kabupaten Kayong Utara ±19.914 hektare (13 persen), Kabupaten Sambas ±9.153 hektare (6 persen), Kabupaten Ketapang ±7.511 hektare (4,9 persen), Kabupaten Mempawah 1.611 hektare (1 persen), Kabupaten Bengkayang 183 hektare (0,12 persen) dan Kota Singkawang 78 hektare (0,05 persen).

Kabar gembiranya, dari studi karbon yang dilakukan Sampan Kalimantan di Bentang Pesisir Padang Tikar, Kabupaten Kubu Raya, wilayah mangrove ini punya potensi sangat tinggi dalam menyerap dan menyimpan karbon. Angkanya 244,21 ton/Ha untuk kelas mangrove primer dan 94,87 ton/Ha mangrove sekunder. 

"Nilai kandungan karbon ini jauh melebihi batas rerata kandungan karbon tingkat nasional yakni 188.3 ton/ Ha untuk mangrove primer dan 94.07 ton/Ha untuk mangrove sekunder," kata Dede, Kamis (11/1).

Total kemampuan hutan mangrove Bentang Pesisir Padang Tikar dalam menyerap karbon (Carbon Sink) CO2 sebesar 31.955.261,2 ton CO2 ha-1 eq dan karbon tersimpan (Carbon Storage) di dalam hutan mangrove Bentang Pesisir Padang Tikar yakni sejumlah 8.707.155,64 ton C. Angka ini menunjukkan bahwa hutan mangrove Bentang Pesisir Padang Tikar berkontribusi besar dalam menghambat laju perubahan iklim.

Tak berhenti sampai di situ. Dari hasil riset Sampan Kalimantan, 67 jenis spesies mangrove teridentifikasi di Bentang Pesisir Padang Tikar. Rinciannya 33 jenis mangrove sejati dan 34 jenis mangrove ikutan. Yang istimewa, Juni 2017 lalu, Tim Sampan dan LPHD Tanjung Harapan menemukan jenis mangrove langka yaitu Bruguiera hainesi dengan status critically endangered (terancam punah) di titik koordinat E109024’38.50” S0055’25.38.

"Penemuan ini menggemparkan karena mengacu pada IUCN redlist, Tumuk Putih tercatat hanya terdapat di 3 negara dengan jumlah populasi tidak lebih dari 203 pohon, 80 pohon di Malaysia, 3 pohon di Singapura dan 120 pohon di Papua Nugini," jelasnya.

Dede menambah, Bentang Pesisir Padang Tikar juga jadi habitat bagi spesies terancam punah. Terdapat empat tumbuhan yang masuk dalam kategori mengkhawatirkan yaitu Tumuk Putih (Bruguiera hainesi) yang masuk dalam kategori Crtically Endangered (CN); Dungun (Heritieria globosa) yang masuk dalam status Endangered (EN); Gedabu (Sonneratia ovata) dengan status Near Threatened (NT); dan Terumtum (Aegiceras floridum) dengan status Near Threatened (NT).

"Keseluruhan, mangrove Kalbar kondisinya masih bagus. Kami juga sepakat mangrove tidak hanya sekadar memiliki nilai ekologis saja melainkan memiliki nilai ekonomi. Untuk menuju sana, bentuk pengelolaan tentulah dengan prinsip hutan lestasi," pungkasnya. (kristiawan balasa/ind)