Diskusi Mengatasi Banjir

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 256

Diskusi Mengatasi Banjir
DISKUSI – Aktivis lingkungan Demanhuri dan Anggun Racmawati dari komunitas arsitektur Cawan saat mengikuti diskusi Fordeb di Balaikopi Muzakki, Selasa (16/1) malam. (SP/Balasa)

Parit di Kota Pontianak Unik


Secara keseluruhan, Kota Pontianak memiliki 3.500 parit, terdiri dari parit primer, tersier dan sekunder. Bila disambungkan, panjangnya 650 kilometer. 

SP - Aktivis lingkungan, Demanhuri yang dalam beberapa tahun terakhir bersama komunitasnya menggali pengetahuan tentang parit di Kota Pontianak dari warga sekitar bercerita, tiap nama parit punya sejarahnya masing-masing.

"Parit adalah identitas kota," katanya dalam diskusi Fordeb di Balaikopi Muzakki, Selasa (16/1) malam.

Misalnya parit Sungai Putat, nama itu konon lantaran di sepanjang parit ditemukan pohon putat. Sama hal dengan Sungai Jawi. Di mana dulunya banyak ditemukan Pohon Jawi-jawi. Atau Parit Pangeran, di mana lokasi itu jadi tempat pelarian para pangeran kerajaan.

"Kota Pontianak 0-1,5 meter di atas permukaan laut dan di kelilingi lahan gambut. Gambut penting untuk menjaga dan mendistribusikan air. Jadi harus cukup hati-hati membangun kota, jangan sampai gambut habis," jelasnya.

Selain keunikan nama, dari hasil ekspor yang dilakukan, dulunya banyak wilayah di Pontianak jadi penghasil buah. Misalnya di kawasan Bansir, buah cempedak Bansir dan langsat sangat terkenal. Namun lambat laun hilang tergerus pembangunan.

Dia menyatakan parit bukan sekadar saluran air, tapi juga lokasi komunikasi warga. Dulu, para pedagang yang menggunakan sampan, punya seruling khas masing-masing sebagai penanda, layaknya tukang bakso dengan suara denting sendok dan mangkuk. Suling besar berasal dari pedagang Kakap dan Segedong. Sementara suling kroak, pasti pedagang Pontianak.

"Di perda tidak ada parit, tapi drainase. Perlakuan drainase dan parit beda," sebutnya.

Untuk belajar bagaimana mengatasi banjir, menurutnya tak melulu harus dari ilmu luar. Pelajaran dari masyarakat asli kawasan tepian parit bisa dicontoh. Misalnya di kawasan Sungai Putat, warga di sana membangun rumah dengan jarak rata-rata sepuluh meter dari parit.

"Waktu banjir kemarin, ada waktu Sungai Kapuas kering dari pagi sampai sore. Langganan banjir di Jalan Gajahmada kecil air. Jadi memang ada problem di beberapa parit kita. Jadi bagaimana menggali ilmu dari masyarakat, karena kalau ilmu dari luar, belum tentu cocok dengan lokalitas," pungkasnya.

Sementara itu, Anggun Racmawati dari komunitas arsitektur Cawan, menjelaskan dari susur sungai yang pernah dilakukan beberapa tahun lalu, parit punya banyak fungsi sesuai tempat. Misalnya parit Tokaya. Dari arah hilir, parit jadi tempat mandi, komunikasi warga. Sampai di Jalan Media, selain untuk mandi, parit juga jadi tempat pembuangan limbah.

"Di Jalan Perdana, banyak rumah mewah, parit hanya jadi pembuangan limbah. Di hulu, belum banyak pembangunan, masih asri," ucapnya.

Dia menerangkan dalam ilmu arsitektur, tak hanya dikenal ruang terbuka hijau, tapi juga ruang terbuka biru. Untuk mengatasi atau mengelola banjir, perlu ada pembagian keduanya. Dan saling koneksi antara ruang hijau dengan drainase alami, dari skala lokal ke kota.

"Kota Pontianak seribu parit, dulu saling terkoneksi, sekarang apakah masih terjaga sebagaimana dulu? Sebenarnya menarik untuk melihat, memanfaatkan potensi ruang biru. Banjir saat ini bisa jadi berkah untuk turun ke lapangan dan meneliti," ucapnya.


Banjir Bisa Dikelola


Dosen Hidrologi Lingkungan, Untan, Kiki P Utomo dalam paparnya menjelaskan sebenarnya, Pontianak merupakan tempat berkumpulnya air. Wilayah Kota Khatulistiwa ini demikian rendah dan jadi muara Sungai Kapuas. Pada dasarnya, orang memang bermukim di dataran banjir seperti Pontianak. Wilayah ini merupakan daerah produktif, menyediakan makanan, air dan transportasi pada masanya.

"Ketika makin ramai, manusia dan air harus berbagi ruang. Banjir pasti terjadi, tapi kapan? Masalah jika banjir di luar perkiraan, waktu, kedalaman," ucapnya.

Banjir sejatinya hanya disebut ketika di lahan itu ada kepentingan manusia. Bila genangan air ada di semak gambut, tak akan dikatakan sebagai banjir. Dulunya, Pontianak punya banyak ruang air, tapi semakin gencar pembangunan, air perlu mencari ruang baru untuk mencari keseimbangan.

"Itu sebab sebagai kota yang ada pembangunan, kita harus berbagi ruang dengan air," ucapnya.

Dalam fungsi hidrologi, fungsi yang tertinggal dari parit di Pontianak kini, katanya adalah sebagai drainase, fungsi pembuangan, dan jadi penampung air saat pasang. (kristiawan balasa/ind)