Tekan Kasus Gizi Buruk, Pantau Perkembangan Anak lewat m-Posyandu

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 138

Tekan Kasus Gizi Buruk, Pantau Perkembangan Anak lewat m-Posyandu
Aplikasi mPosyandu
Dinas Kesehatan Pontianak sejak dua tahun lalu memiliki aplikasi pemantauan perkembangan tumbuh kembang anak bernama m-Posyandu (mobile Posyandu). Pemanfaatan aplikasi berbasis Android ini akan makin digencarkan tahun 2018.

SP - Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Sidiq Handanu menjelaskan aplikasi tersebut merupakan kerja sama dengan Wahana Fisik Indonesia (WFI). Kebetulan, tahun ini kerja sama itu usai dan jadi kewajiban Dinkes untuk membina dan mengembangkan di puskesmas yang lain.

"Jadi dengan aplikasi ini, kita bisa memantau yang bulan ini beratnya naik berapa, turun berapa, terus siapa yang tidak datang," katanya, Selasa (23/1).

Pemanfaatan aplikasi tak sampai di situ. Ada kegiatan-kegiatan pendukung lain yang dilakukan. Misalnya pelatihan kader kesehatan. Sebagai contoh, di Pontianak Barat, sudah ada 40 lebih Posyandu yang menerapkannya. Ke depan, program ini akan terus dikembangkan.

"Jadi tahap dua tahun ini, kita lakukan, kita ingin melihat dulu dampaknya. Setelah kelihatan, kita mempunyai data-data. Dengan aplikasi ini secara administrasi Posyandu jadi lebih bagus,"ucapnya.

Adanya aplikasi membuat pemantauan bayi yang datang dan tak datang pemeriksaan bulanan, pertumbuhan berat badan dan sebagainya, bisa didapat. Hasil dari pemantauan itu, jumlah bayi di Kota Pontianak tetap.

"Masalah kita inikan pada balita berat badannya di bawah standar. Kalau kita tidak ambil tindakan, dia akan jatuh kepada gizi buruk," ucapnya.

Saat ini, dia mengklaim angka gizi buruk masih dalam kondisi normal, yakni 1,9 persen dari jumlah balita yang berkisar 50an ribu. Sementara berdasarkan rata-rata nasional tahun 2017, adalah 2 persen.

"Yang gizi buruk yang benar-benar dirawat di Puskesmas ini ada sekitar 40 an kasus. Gizi buruk yang ada itu, bukan gizi buruk primer yang kurang makan asupan, tapi karena pengaruh penyakit," katanya.

Kebanyakan, gizi buruk terjadi karena penyakit bawaan. Namun ada pula yang diakibatkan oleh pola asuh.

"Gizi buruk di Kota Pontianak sudah di bawah 15 persen. Semua kecamatan sudah di bawah 15 persen," pungkasnya. (kristiawan balasa/ind)