Atraksi Lumba-lumba Ditentang Pegiat Konservasi

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 1252

Atraksi Lumba-lumba Ditentang Pegiat Konservasi
ATRAKSI LUMBA-LUMBA - Atraksi lumba-lumba yang digelar di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, belum lama ini. (Ist)
PONTIANAK, SP - Indonesia adalah negara terakhir yang masih memperbolehkan pentas lumba-lumba diadakan. Aktrasi ini telah dilarang di hampir seluruh dunia karena dianggap akan mengancam mamalia tersebut secara psikis dan fisik. 

Adanya rencana atraksi lumba-lumba yang akan digelar di Paradis-Q Water Park, Kubu Raya, Kalbar, 15 Februari-18 Maret 2018 mendatang, mendapat kecaman dari sejumlah aktivis lingkungan dan hewan di Kalbar.

Direktur Yayasan Titian Lestari, Sulhani misalnya, menentang agenda tersebut. Menurutnya lumba-lumba yang memiliki kecerdasan tinggi, bukan alasan bagi mamalia tersebut untuk dieksploitasi.

Walau ada dalih penyelenggara memiliki izin dan sebagai media edukasi bagi masyarakat terutama anak-anak, atraksi lumba-lumba tidak boleh dilakukan. Dia pun mengajak pihak sekolah untuk tidak memobilisasi siswa, menonton pentas tersebut.

"Kita yang menonton atraksi tersebut memang tertawa dan merasa terhibur. Tapi, kita tak pernah tahu bahwa begitu tersiksanya lumba-lumba tersebut," kata Sulhani, Kamis (1/2).
Jika ingin belajar soal lumba-lumba, menurutnya jauh lebih arif jika melihat langsung kehidupan mamalia itu di laut lepas. Tidak dalam tempat sempit dan habitat yang bukan semestinya. Dengan dipawangi langsung oleh Tuhan.

Indonesia jadi satu-satunya negara yang masih ditemui atraksi lumba-lumba. Sulhani sendiri menjelaskan beberapa alasan mengapa masyarakat harus perduli dan tidak menonton atraksi lumba-lumba atau satwa liar lain. 

Pertama, atraksi lincah lumba-lumba melompat ke udara sebenarnya melibatkan diet ketat. Mamalia ini dibuat lapar, dipaksa bergerak sesuai arahan, demi mendapatkan ikan atau makanan.

"Lumba-lumba yang tampil di pentas, dilatih dengan sistem reward and punishment dengan membiarkan lumba-lumba merasa lapar, dan juga dipaksa melompat dan mengikuti intruski dengan iming-iming beberapa ikan sebagai imbalan," terangnya.

Kedua, kolam tempat mereka melakukan atraksi, jauh dari habitat asli. Tak hanya sempit, kesehatan penglihatan hewan ini pun terancam. Secara alami, lumba-lumba binatang penjelajah yang berenang aktif hingga ratusan kilometer dalam sehari. Tapi saat menjadi anggota atraksi, mereka justru harus tinggal di kolam dan itu pun masih harus berbagi ruang dengan lumba-lumba lain.

Dengan kecerdasannya, lumba-lumba bisa mendeteksi keberadaan lumba-lumba lain pada jarak 220 km dengan sistem sonar. Mereka akan melihat dan berkomunkasi dengan menggunakan getaran suara yang merambat di perairan yang tenang. Suara tepuk tangan dan riuh tawa penonton akan mengganggu keseimbangan indera pendengaran lumba-lumba yang juga berfungsi sebagai indera penglihatan mereka.

"Gangguan resonansi yang datang dari riuh rendah penonton di sekeliling bisa membuat lumba-lumba mudah stres, hingga berujung pada kematian," katanya.

Ketiga, sebagai hewan koloni, membiarkan lumba-lumba tampil atraksi sama saja memisahkan mereka dari kelompok. Dalam habitatnya, mereka akan berkenalan dengan lumba lumba lain, mencari makan bersama, dan gotong-royong untuk tetap hidup. Memang ada fase berkelana dan membuat lumba-lumba itu memisahkan diri. Namun ini sebagai proses mereka masuk ke komunitas baru. Hewan ini juga dikenal sebagai penjelajah samudra handal.

"Hidup alaminya akan terpasung saat mereka dijadikan bintang di pentas," ucapnya.

Keempat, bagaimana proses pelatihan dan pengangkutan lumba-lumba sangat menyiksa. Saat latihan, mereka terpaksa hidup di kolam sempit bersama lumba-lumba lain. Proses perpindahan dari satu lokasi atraksi ke lokasi lain juga bukan dengan berenang, melainkan diangkut dalam kotak sempit yang dimasukkan dalam truk. Bahkan kulit mereka pun harus dilapisi mentega agar tetap lembab, ditutupi handuk basah, sambil sesekali disiram air.

"Ini perlakuan yang sangat jauh berbeda dengan cara hidup di habitat asli mereka, ini jelas-jelas bukan upaya pelestarian, melainkan sebuah aksi yang menyebabkan lumba-lumba stres berkepanjangan," sesalnya.

Menurutnya, dengan melihat lumba-lumba melompat, melempar bola, menghitung, melewati cincin api dan lainnya, bukanlah sebuah bentuk atraksi, melainkan ekploitasi. Di alam liar, tindakan itu tidak mereka lakukan. 

Sulhani menerangkan, di habitatnya, lumba- lumba akan memberikan karangan rumput laut untuk para betinanya sebelum mereka melakukan perkawinan. Mereka hanya melompat untuk mengambil nafas dan sesekali bergurau dengan suara ultrasonik. Hal macam itu yang seharusnya ada, jika bicara soal edukasi.

"Edukasi seperti ini, kami meyakini tidak akan didapat oleh penonton dari pelatih lumba-lumba maupun Event Organizer (EO) penyelenggara pentas," katanya.

Indonesia adalah negara terakhir yang masih memperbolehkan pentas lumba-lumba diadakan dari satu kota ke kota lain. Banyak lumba-lumba yang ikut pentas mati karena stres, keracunan klorin, hingga karena perawatan yang kurang baik.

Direktur Sahabat Masyarakat Pantai (Sampan) Kalimantan, Dede Purwansyah mengatakan pada dasarnya atraksi lumba-lumba atau eksplorasi hewan, primata maupun mamalia yang tergolong dilindungi dilarang oleh hukum. Terlebih jika itu untuk meraup keuntungan.

"Akan terjadi gangguan psikis pada hewan tersebut. Bayangkan saja, lumba-lumba dipelihara di luar habitat aslinya sudah terasa sulit, harus dipaksa beratraksi pula," ucapnya, Kamis (1/2).

Jika atraksi lumba-lumba tersebut bertujuan untuk mengenalkan mamalia cerdas itu, menurutnya ada cara lain yang lebih bijak. Misalnya dengan menggunakan alat peraga, atau dengan membawa langsung mereka yang ingin tahu ke habitat asli lumba-lumba.

"Untuk izin, urusan dengan pemerintah yang berwenang seperti BKSDA atau instansi terkait," ucapnya.

Namun demikian, dalam konteks aturan, pemerintah sudah tegas mengatur dengan UU Nomor 5 Tahun 1990 mengenai konservasi keanekaragaman hayati. Di dalamnya, ditegaskan bahwa setiap orang dilarang memelihara, meniagakan, dan mengeksploitasi satwa langka.

"Tetapi ada ketentuan syarat jika diperbolehkan, nah syarat ini masih tergolomg mudah. Hal ini yang perlu diperbaiki regulasinya," pungkasnya. 

Sebelumnya, rencana adanya pentas Lumba-lumba di Paradis-Q Water Park Kubu Raya ini dipubikasikan oleh salah satu media online. Perwakilan Event Organizer (EO) MBC Production, Tatang, mengatakan pertunjukan tersebut bekerjasama dengan Pihak Taman Impian Ancol.

Selain lumba-lumba ada juga aneka satwa yang bakal ditampilkan di antaranya, singa laut dan berang-berang. Harga tiket ditawarkan mulai Rp40-80 ribu. Pengunjung juga dapat berinteraksi langsung dengan aneka satwa tersebut.

Pengunjung yang ingin berinteraksi langsung dan berfoto dengan aneka satwa akan dikenakan tambahan biaya. Sedangkan durasi pertunjukan per-show selama 1 jam. Semua umur dapat menyaksikan pentas tersebut.


Mesti Kantongi Izin


Terkait rencana akan diadakannya sirkus lumba-lumba dan beberapa hewan dilindungi ini, Kepala Balai KSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta mengatakan bahwa hal pengadaan sirkus hewan dilindungi memiliki aturan main.

Dia juga menyampaikan bahwa bukan hanya izin dari BKSDA Provinsi Kalbar saja yang dibutuhkan, namun dari BKSDA Jakarta dan pusat juga dibutuhkan.

“Dari BKSDA DKI juga harus ada surat angkutnya dan itu semua harus dipenuhi aturan mainnya. Jadi bukan hanya semata-mata izin BKSDA Kalbar saja,” katanya.

Saat dihubungi oleh Suara Pemred melalui sambungan telepon pada Kamis (1/2), Sadtata mengatakan bahwa hingga saat belum ada permohonan izin yang disampaikan kepada BKSA Kalbar terkait rencana atraksi lumba-lumba yang akan digelar di Paradis-Q Water Park, Kubu Raya. 

“Kami sudah memanggil penyelenggaranya untuk memberikan keterangan. Kami akan jajaki dulu apakah penyelenggaraan tersebut memenuhi prosedur dan konsep kesejahteraan satwa (animal welfare),” imbuhnya.

Saat dilakukan pengecekan ke BKSDA DKI Jakarta, dia juga menyampaikan bahwa pihak penyelenggara juga belum mengajukan permohonan izin.

“Memang mereka kesalahannya, mereka belum beres perizinan sudah publikasi. Itu masalahnya,” ujarnya.

Saat ini dikatakannya bahwa komitmen di Kementerian LHK akan melakukan aturan ketat untuk penggunaan satwa-satwa dilindungi yang dipergunakan untuk sirkus pertunjukan.

“Nanti kita lihat, kalo emang tidak memenuhi syarat, kita juga tidak ragu-ragu kok untuk membatalkan,” paparnya.

Saat ini pihaknya belum bisa memutuskan karena akan melihat terkebih dahulu apakah pihak penyelenggara tertib terhadap aturan yang ada.

Namun sepanjang persyaratan yang ada dipenuhi maka pihaknya tentu akan memberikan izin pelaksanaan pertunjukan tersebut.

Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh penyelenggara dikatakannya yaitu izin dari Dirjen, pihak penyelenggara harus memiliki kerjasama dengan pihak ancol sebagai pemilik satwa yang harus diketahui oleh pusat, saat pengankutan juga harus memiliki surat dari BKSDA DKI Jakarta apakah satwa tersebut layak untuk diangkut dan diperagakan. (bls/rah/ind)