BAZNAS Sambut Baik Wacana Zakat Profesi 2,5 Persen

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 186

BAZNAS Sambut Baik Wacana Zakat Profesi 2,5 Persen
Ilustrasi. Net
PONTIANAK,SP - Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi Kalimantan Barat, Uray M Amin mengungkapkan saat ini sudah ada Undang-undang (UU) Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat. 

Selama ini kata dia,  pelaksanaan zakat profesi sudah jalan namun masih belum maksimal.Untuk itu, ia sangat mendorong adanya  wacana zakat profesi 2,5 persen yang dipotong dari gaji PNS beragama Islam.

"Pemerintah melihat ada peluang meningkatkan penerimaan zakat. Untuk itu, kami sangat  menyambut baik wacana ini. Memang ini masih wacana. Melalui Keputusan Presiden (Kepres), nantinya diharapkan bisa meningkatkan kesadaran umat," ungkapnya, Senin (12/2).

Ia mengatakan, berkaitan dengan wacanan ini, pemerintah diakuinya masih berupaya untuk memfasilitasi, dan belum mewajibkan.

"Dalam konteks agama, zakat adalah kewajiban. Kami siap memfasilitasi dengan menerima amanah dan menjalankannya," tutur dia. 

Uray M Amin menambahkan, jika wacana ini terealisasi, maka tentunya akan mendongkrak sisi pengumpulan zakat, khususnya di Provinsi Kalimantan Barat. 

Untuk itu regulasi terkait wacana ini patut ditunggu. Karena ketika 2,5 persen gaji PNS diperuntukkan untuk zakat profesi, umat Islam lain yang berprofesi di luar PNS tentu akan terpacu mengeluarkan zakat profesi. 

"Dengan begitu secara otomatis pengumpulan zakat meningkat," harapnya. 

Diterangkannya pada tahun 2017 lalu BAZNAS Provinsi Kalbar  sudah nengumpulkan zakat sebesar Rp3 miliar. Proporsi itu terdiri dari Rp1,5 miliar dari PNS dan Rp1,5 miliar dari di luar profesi PNS. 

"Kalau wacana ini diterapkan zakat akan meningkat. Bayangkan saja, khusus lingkungan Pemprov Kalbar ada sekitar 15 ribu PNS. Kalikan saja," katanya. 

Namun, ia mengungkapkan tujuan paling utama adalah ketika sudah dihimpun, maka zakat-zakat akan disalurkan kepada orang-orang yang memerlukan dan masuk dalam delapan asnaf atau golongan penerima zakat. 

"Zakat ini adalah suatu upaya mengentaskan kemiskinan. Ini juga upaya menjawab persoalan negara. Ketika delapan asnaf ini, terutama fakir dan miskin menerima zakat. In ShaAllah bisa mengangkat derajat. Zakat juga bisa digunakan untuk pemberdayaan ekonomi umat," pungkasnya. (jek/bob)