Klarifikasi SMA Mujahidin Soal Alasan SMP Mujahidin Gagal Ikut UNBK

Ponticity

Editor Andrie P Putra Dibaca : 325

Klarifikasi SMA Mujahidin Soal Alasan SMP Mujahidin Gagal Ikut UNBK
Waka Bidang Kesiswaan SMA Mujahidin, Irham Chandra. (SP/Balasa)
PONTIANAK, SP - Waka Bidang Kesiswaan SMA Mujahidin, Irham Candra menjelaskan alasan mengapa SMP Mujahidin tak ikut UNBK. Dia menjelaskan untuk pelaksanaan UNBK, laboratorium komputer SMA tidak pernah tertutup untuk unit mana pun.

"Semua bisa memakai, SD kah, SMP kah  MTs kan, hanya perlu dipahami bahwa setiap unit minimal harus memiliki server. Tapi kliennya atau unit komputernya bisa dipakai kapan saja dan oleh siapa saja," katanya, Kamis (22/2).

Irham menerangkan server itu adalah modal utama dan bahan utama, juga alat yang menyimpan semua hasil ujian para siswa. Jika digunakan secara bersama dengan unit lain, atau dua tingkatan yang berbeda, maka akan berisiko pada hilangnya data. Termasuk hilangnya penyimpanan dan lain sebagainya.

"Pada prinsipnya juga, kami sudah sampaikan kepada pihak lembaga bahwa Lembaga Pendidikan Mujahidin akan membantu menyediakan server apabila SMP Mujahidin melakukan pengajuan," ucapnya.

Dia berharap kebersamaan dan keterbukaan masing-masing unit akan membuat kemajuan buat lembaga. Pihaknya yang mengelola laboratorium komputer SMA pun, menegaskan fasilitas itu terbuka untuk siapa saja. Jumlahnya kini ada 60 unit.

"Mungkin untuk UNBK saja, bahwa supaya mengamankan data hasil peserta ujian maka wajib setiap unit menyediakan server," imbuhnya.

Bila belum mampu menyediakan server, dia menyarankan agar mengajukan ke lembaga. Karena sejatinya salah satu server milik SMA juga bantuan dari Lembaga Pendidikan Mujahidin. Dia berharap informasi ini bisa berguna untuk semua pihak.

Sebelumnya, dalam pemberitaan Suara Pemred, Selasa (20/2), Kepala SMP Mujahidin Pontianak, Abdul Karim Lubis menjelaskan pihak sekolah memang tidak memiliki laboratorium komputer. Selama ini pihaknya biasa belajar komputer di laboratorium milik SMA Mujahidin yang masih satu yayasan.

"Kalau mau ikut UNBK tidak boleh pakai server SMA, maka kami putuskan tahun ini tetap ikut Ujian Nasional Kertas Pensil (UNKP), karena kami tidak siap untuk membeli server," ucapnya, Selasa (20/2). (bls)





Namun demikian, dia menjelaskan sebenarnya server SMA itu juga bisa dipakai oleh SMP. Sebagaimana di sekolah lain yang yayasannya punya SMP dan SMA dan laboratorium hanya satu. Semestinya bisa dipakai bergantian.

"Saya kira mungkin keterbatasan kemampuan teknisinya. Di situ masalahnya, makanya kita tidak ikut UNBK," ucapnya.

Dia menjelaskan di laboratorium komputer yang dimaksud, ada 40 unit dengan dua buah server. Jika pun dipinjam, masih bisa lebih. Apalagi di SMP Mujahidin hanya 23 siswa yang jadi peserta ujian.

"Karena masih ada UNKP, kami ya ikut UNKP saja. Kecuali tidak ada pilihan lain, mungkin kami harus beli server. Tapi karena ada UNKP dan beberapa sekolah masih UNKP, kami UNKP saja tidak mau terlalu repot," jelasnya.

Sebenarnya, dia menyatakan semua siswa sudah siap. Tiap minggu mereka belajar komputer dan paham cara mengoperasikan. Dia menyakini semua anak sudah melek IT. (bls)