Pelayanan Rehabilitasi Sosial, UPRS Pontianak Kepenuhan

Ponticity

Editor Andrie P Putra Dibaca : 255

Pelayanan Rehabilitasi Sosial, UPRS Pontianak Kepenuhan
Kondisi UPRS Pontianak. (SP/Balasa)
PONTIANAK, SP - Bau apak dan pesing menyeruak dari bangunan bercat kuning berpagar hijau di Gang Romansa, Pal V, Pontianak Barat, Rabu (21/2). Di sisi kiri pagar, jemuran pakaian menyambut kedatangan, selain seorang perempuan dengan gangguan kejiwaan yang sudah mendingan. Dia membukakan pintu pagar saat mobil yang kami tumpangi tiba di Unit Pelayanan Rehabilitasi Sosial (UPRS) Kota Pontianak.

Di teras UPRS yang terbuat dari keramik, enam orang paruh baya duduk diam. Sebagian dari mereka merupakan orang dengan gangguan kejiwaan. Sebagian lagi orang terlantar, yang masuk kategori Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Walau waras, air muka mereka murung. Malah ada satu di antaranya yang buta. Namun yang pasti, mereka tak tahu di mana alamat mereka sebenarnya.

Masuk ke dalam, lantai kayu dan semen bangunan yang punya tujuh kamar itu dipenuhi penghuni lain. Total ada 39 jiwa dengan 13 di antaranya perempuan. Enam orang dari jumlah total itu adalah orang terlantar. Sisanya orang dengan gangguan kejiwaan. Saat kami tiba, mereka anteng saja. Semua diam sambil melihat kedatangan kami yang ditemani dua orang petugas Dinas Sosial Kota Pontianak.

Laku mereka seperti kosong. Ada beberapa yang bicara ngelantur, tapi lebih banyak yang bertingkah layaknya orang tafakur. Rupa-rupanya mereka baru saja minum obat. Di ruang tengah yang memiliki satu buah televisi, beberapa penghuni tengah asyik menonton. Di sisi kanannya terdapat satu kamar khusus yang berpintu jeruji. Ada empat orang di dalamnya.

"Mereka kadang suka mengamuk. Sengaja kita kurung, karena kalau sudah jalan suka lari lompat pagar," kata Hasan, pengelola UPRS.

Hasan adalah pegawai honor yang mengurusi penghuni UPRS. Dibantu dua orang petugas jaga, lelaki berkumis itu memastikan penghuni mendapatkan kebutuhan mereka. Malah tak jarang dia ikut mencari di mana keluarga para penghuni tinggal. Apalagi dari jumlah total, ada 13 orang yang tak jelas alamatnya.

"Satu mau disayang, satu mau dikeras. Sebanyak orang, sebanyak itu karakter pendekatan," ceritanya soal bagaimana buat para orang dengan gangguan jiwa itu mau menurut.

Bau apak di bangunan seluas 30x20 meter persegi itu sepertinya bisa dimaklumi. Para penghuni UPRS tak mandi kalau tak disuruh. Jika pun mandi, bila tak diminta pakai sabun, mereka asal guyur. Setiap hari penghuni makan tiga kali. Di pagi dan malamnya mereka minum obat. Ada yang dua kali, ada yang tiga. Obat-obat itu diberi atas petunjuk dokter.

Di sela waktu, para penghuni biasanya tidur atau menonton televisi. Sebagian yang tak tidur, duduk atau jalan di halaman. Pagar sengaja dibuat tinggi agar penghuni tak kabur. Hasan mengatakan, jika dilihat, mungkin pekerjaannya berat. Apalagi harus mengurusi jumlah penghuni yang membeludak. Tapi dia yang menjalankan terbukti bisa. Ada kepuasan baginya jika bisa melayani sesama.

"Sampai dokter pun geleng kepala saking banyaknya. Urusan tidur, mereka selera saja. Kecuali perempuan, itu harus masuk kamar. Yang lain, yang penting mereka mau tidur," ucapnya.

Memang ada beragam latar belakang para orang dengan gangguan jiwa itu. Misalnya saja Agus, bila ditaksir, usianya kurang lebih 30 an. Setelah didalami, ternyata pamannya juga mengalami gangguan kejiwaan. Agus diamankan ke UPRS lantaran suka main api di rumah. Dikhawatirkan, hal ini akan mengancam keselamatan dirinya dan warga.

"Ada juga yang kemarin itu kasus bakar rumah di Jalan Palem, itu kalau ndak salah lebih dari sepuluh rumah," jelas Hasan.

Rata-rata mereka yang diamankan di UPRS memang berdasarkan laporan warga. Kebanyakan karena sudah berulah. Apalagi dengan total 39 penghuni, sebenarnya UPRS kepenuhan. Maka bila ada orang dengan gangguan kejiwaan yang tidak mengganggu dan membahayakan, usai diamankan, mereka dikembalikan ke rumah keluarga.

"Di sini ada orang Pontianak, ada juga yang bukan. Kadang ada keluarga yang tidak mengakui, ada juga yang keluarga tidak ada," ucapnya.

Bukan hanya orang dengan gangguan kejiwaan, mereka yang terlantar pun ada yang tidak diakui keluarga. Contohnya, Apin Candra yang berusia 60 an. Walau bisa diajak komunikasi, keluarganya seperti tak ingin dia kembali. Hasan bercerita, aslinya Apin ini pemabuk. Ketika mabuk, dia jadi korban tabrak lari di daerah Jeruju. Disangka orang dengan gangguan jiwa, akhirnya dia diamankan ke UPRS. Apin mengaku punya banyak saudara. Ada yang tinggal di Gang Kenari II, dan daerah Sungai Raya

"Abangnya ditelpon bilang di Singkawang, jawabannya 'lemparkan jak tempat kemarin', kan tidak boleh seperti itu," kesal Hasan.

Kepala Bidang Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, Dinas Sosial Kota Pontianak, Edy Haryanto mengungkapkan sebenarnya UPRS merupakan tempat penampungan sementara orang dengan gangguan jiwa. Terutama yang berada di wilayah Kota Pontianak yang bisa menyebabkan orang tersebut tidak selamat atau kesehatannya terganggu. Mereka diamankan dari jalanan.

"UPRS yang ditumpangi sekitar 39 orang sebenarnya kepenenuhan. Untuk mengatasinya bagi mereka yang sudah bisa dikatakan sembuh, diantar ke rumah keluarganya. Serta ada kesepakatan bagaimana untuk dibawa ke Singkawang yang terpenting mengurus BPJS Kesehatan," terangnya.

Dia menjelaskan, bagi orang dengan gangguan jiwa yang memiliki keluarga akan dihubungi untuk pembuatan BPJS Kesehatan. Orang ini akan dibawa ke Rumah Sakit Jiwa Pontianak. Namun demikian, ada batasan waktu hanya sampai 30 hari. Setelahnya akan dipulangkan ke rumah.

"Terkadang ada juga anggota keluarga yang takut akan aktivitas dari orang yang mengalami gangguan jiwa tersebut seperti suka bermain api. Demi keselamatan warga lainnya akhirnya di masukan kembali ke UPRS," katanya.

Untuk orang dengan gangguan jiwa yang bukan warga Pontianak, tetap akan ditampung. Namun jika sudah bisa berkomunikasi dengan baik, dan tahu dari mana dia berasal, akan dikembalikan ke daerahnya. Pengembaliannya dilakukan dengan koordinasi ke Dinas Sosial, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), dan pihak kelurahan setempat.

"Di UPRS orang yang mengalami gangguan jiwa banyak dari kabupaten lain. Bahkan orang yang terlantar juga banyak dari kabupaten lain," pungkasnya. (bls)