Aparat Belum Temukan Narkoba untuk Anak

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 219

Aparat Belum Temukan Narkoba untuk Anak
Ilustrasi. Net
M Ekasurya Agus, Plt Kepala BNNP Kalbar 
“Tidak ada yang terbebas dari penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika,” 

Kombes Pol Purnama Barus, Dirserse Narkoba Polda Kalbar
“Saat ini penyebaran narkoba jenis baru, seperti narkoba cair berpotensi kecil di Kalbar. Pada umumnya yang beredar di Kalbar, masih jenis-jenis lama seperti sabu dan ekstasi,”

PONTIANAK, SP
- Badan Narkotika Nasional (BNN) mengidentifikasi 68 narkoba jenis baru selama 2017. Parahnya lagi, sebagian besar narkoba itu ditargetkan pada anak-anak. 

Plt Kepala BNNP Kalbar, M Ekasurya Agus membenarkan bahwa, saat ini sudah ada 68 narkoba jenis baru atau New Pshycoactive Substances (NPS). Namun, saat ini sejumlah 60 jenis yang sudah masuk dalam lampiran Permenkes. 

“Delapan jenis lainnya belum masuk,” ujarnya kepada Suara Pemred, Rabu (7/3). 

Contoh narkotika jenis baru itu antara lain, LSD, dan tembakau gorilla. Sementara untuk yang lainnya, saat ini belum terdeteksi.

Jadi, saat ini baru beberapa jenis saja yang menurut informasinya masuk ke wilayah Kalbar. Namun, saat ini belum ditemukan oleh petugas BNNP Kalbar. 

Terkait ada tidaknya instruksi khusus dari BNNP Pusat mengenai peredaran narkoba jenis baru di Kalbar, dia mengatakan bahwa hal itu sama saja dengan di daerah lain. Sebab tidak menutup kemungkinan beredar di seluruh wilayah Indonesia.

“Kita tetap waspada, memantau kondisi. Tidak menutup kemungkinan narkoba jenis baru itu masuk ke wilayah kita,” ujarnya. 

Pihaknya sudah menjalin komunikasi dengan BPOM dan pihak terkait lainnya. Sehingga apabila pihak-pihak tersebut lebih awal menemukan, dapat berbagi informasi dengan BNN.

Mengenai sasaran target peredaran narkoba, dia mengatakan bahwa semua kalangan berpotensi menjadi target sasaran. Mulai dari orang dewasa, anak-anak, pegawai swasta, dan lain-lain. “ Tidak ada yang terbebas dari penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika,” katanya.

Berdasarkan pengakuan para tersangka yang tertangkap, sebagian besar narkoba yang masuk ke wilayah Kalbar, masuk dari Malaysia dengan berbagai modus yang sudah dijumpai. Mulai dari menggunakan ban di dalam kabin mobil, di dalam makanan, di kemasan-kemasan paket dan lain-lain. Hal itu merupakan modus-modus yang digunakan oleh para oknum pengedar, dalam penyelundupan dan pengiriman narkotika.

Apalagi dengan banyaknya jalur tikus yang sudah diketahui berjumlah 52, dari sepanjang 900 kilometer disepanjang perbatasan antara Indonesia dan Malaysia. “Cuma tetap ada upaya, disamping jalur-jalur resmi. Tetap ada upaya mereka akan melalui jalur itu. Karena melihat keterbatasan kita,” ujarnya.

Dalam hal ini, yang menjadi kendala menurutnya untuk mendeteksi masuknya narkoba jenis baru ke wilayah Kalbar dikarenakan tidak memungkinkan bagi petugas di lapangan untuk terus membawa alat di lapangan untuk membuktikan bahwa sesuatu merupakan narkotika.

Ia menegaskan, untuk mengungkap narkotika-narkotika jenis baru di Kalbar, diakuinya cukup susah dikarenakan bahan yang ada cukup terbatas, mulai dari referensi dan petugas yang terbatas. 

Sebelumnya, Deputi Pencegahan BNN, Ali Johardi di Jakarta, Selasa (6/3), mengatakan bahwa, narkotika jenis baru semakin marak. “Pada 2017, ada 68 jenis narkotika baru. Pada awal Maret sampai dengan minggu lalu, sudah ditemukan tiga narkotika baru," katanya.  

Dengan jumlah tersebut, Ali menyimpulkan rata-rata setiap bulan muncul narkotika jenis baru. Bahkan dia mengakui teknologi yang digunakan oleh para sindikat narkoba juga seperti yang dimiliki oleh BNN.

Selain jenisnya, Ali juga menyebutkan modus operandi sindikat dalam mengedarkan narkoba juga semakin banyak, khususnya untuk menyasar pecandu pemula.

Ali menerangkan, beberapa teknik yang digunakan, bisa berupa zat yang dicampurkan ke dalam makanan atau minuman, tinta spidol dengan aroma kuat, tinta yang digunakan di majalah, bahkan melalui tato mainan anak-anak.

Para sindikat terus menciptakan narkoba jenis baru, dan membuat modus operandi baru dalam mengedarkan narkoba.

Dari data yang ada, hingga akhir 2017, BNN mengungkap lebih dari 46.000 kasus narkoba dengan barang bukti 4,7 ton sabu, lebih dari 151 ton ganja, dan 2,9 juta butir ekstesi. Jumlah ini meningkat drastis dari tahun sebelumnya. 

Selain mengungkap kasus narkoba dengan sejumlah barang buktinya, BNN juga mencatat bahwa jumlah pemakai narkoba meningkat drastis tiga tahun terakhir. Pada tahun 2014, tercatat 4,9 juta pengguna narkoba. Tahun 2016, melonjak sekitar 6 juta jiwa. Celakanya lagi, dari semua kasus narkoba, peredaran narkoba di kalangan pelajar/siswa dinilai paling mengkhawatirkan.

Kepala Subdit Pengawasan Produk Tembakau Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), Moriana Hutabarat menegaskan, narkoba yang disebut-sebut berada pada permen atau makanan lain tidak terbukti.

Namun dia menjelaskan adanya kandungan narkoba, karena dicampurkan pada makanan atau minuman secara individu oleh oknum tidak bertanggung jawab, lalu diberikan pada anak-anak.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Kesehatan, Siti Hikmawatty mengatakan adanya satu kasus pencampuran zat narkotika pada minuman teh yang dituang ke plastik minum.

Praktik tersebut dilakukan pada satu warung di sekitar sekolah, sehingga menyebabkan anak-anak tersebut ketagihan dan selalu ingin membeli minum di warung bersangkutan.


Belum Ditemukan


Direktur Reserse Narkoba Polda Kalbar, Kombes Pol Purnama Barus mengatakan, saat ini pihaknya belum menemukan narkoba jenis baru di Kalbar.

“Saat ini penyebaran narkoba jenis baru, seperti narkoba cair berpotensi kecil di Kalbar. Pada umumnya yang beredar di Kalbar, masih jenis-jenis lama seperti sabu dan ekstasi,” ujarnya.

Ia menegaskan, narkoba jenis baru masih kecil kemungkinannya. Bisa saja orang mau mencoba-coba, tapi sementara ini belum didapatkan.

Namun, pihaknya tetap melakukan berbagai sosialisasi dan koordinasi dengan berbagai pihak, seperti BNNP, sosialisai melalui brosur-brosur, radio dan sebagainya untuk mencegah peredaran narkoba jenis baru di Kalbar.

“Kita upaya preventifnya,” ujarnya.


Tak Ada Aduan 


Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kalbar, Ruminah menjelaskan, selama ini pihaknya belum pernah menerima pengaduan langsung untuk korban narkoba.

"Paling sekadar konsultasi saja, ada pun korban narkoba biasa langsung ditangani oleh pihak BNN," ucapnya.

Namun, sebagai tindak pencegahan, KPAID sudah sering datang ke sekolah-sekolah, baik SMP maupun SMA. Walau tidak secara menyeluruh setiap sekolah, sosialisasi mereka berikan. Termasuk pengertian kepada para siswa, tentang batasan pergaulan dalam dunia anak remaja.

"Kami juga sering mengingatkan guru-guru, untuk lebih mengarahkan siswa pada pelajaran ekstrakulikuler di sekolah supaya ruang kosong mereka berkurang," ucapnya.

Namun, dari hasil assesment mereka yang konsultasi, diketahui anak usia 12-17 tahun, atau usia SMP-SMA yang paling banyak jadi korban narkoba. Modus yang biasa digunakan untuk mencekoki mereka, mendekati korban seperti memberi permen atau makanan kecil yang di dalamnya terkandung narkoba.

"Jika ini berhasil, terus didekati dengan iming-iming diberi uang dan lain," imbuhnya.

Ruminah menjelaskan, latar belakang keluarga bukan faktor dominan anak jadi korban narkoba. Yang utama adalah faktor lingkungan dan pergaulan.

"Faktor keluarga, kalau pun ada, sedikit. Kalau orangtuanya pemakai bisa juga. Tapi lebih banyak faktor lingkungan atau pergaulan," katanya. 


Aset Bangsa


Priyono Pasti, Guru SMP dan SMA Asisi Pontianak, Kalbar mengatakan, bencana narkoba yang kian meningkat, tentu membuat orang prihatin. Penyalahgunaan narkoba merupakan kejahatan kemanusiaan yang luar biasa. 

“Penggunanya akan mengalami gangguan perilaku, emosi, cara berpikir, kerusakan fisik, psikis, dan spiritual permanen karena narkoba menyerang susunan saraf pusat.

Pengguna akan kehilangan pegangan hidup, mudah terombang-ambing, dan tidak otonom dalam bersikap dan menentukan pilihan moralnya. Penyakit akut yang disebabkan oleh narkoba tidak bisa disembuhkan, hanya bisa dipulihkan. 

“Dengan mengonsumsi narkoba, penggunanya telah menyia-nyiakan hidupnya yang begitu indah itu. Untuk itu, melawan narkoba adalah pilihan bijaksana yang mutlak dilakukan,” katanya. 

Jerat narkoba, kini bak genggaman jari-jari gurita yang begitu kuat cengkeramannya, dan sulit sekali untuk dilepaskan. Narkoba adalah kejahatan yang paling berbahaya dibandingkan jenis kejahatan lainnya, karena narkoba adalah kejahatan yang terorganisir dalam skala dunia.

Jerat gurita narkoba juga tak pandang bulu. Pengangguran, preman, anak sekolah (dari SD sampai SLTA), mahasiswa, ibu rumah tangga, eksekutif muda, politikus, dan artis tak luput dari jeratannya. Kini, penyalahgunaan narkoba yang berbuntut pada penyebaran HIV/AIDS kian marak di kalangan generasi muda (usia produktif) kita.

Upaya untuk memproteksi generasi muda dari barang laknat ini mutlak dilakukan. Generasi muda adalah aset bangsa. Peran mereka sangat vital bagi eksistensi suatu bangsa. Generasi muda merupakan pewaris regenerasi dan agen perubahan kehidupan berbangsa, bernegara, dan kepemimpinan nasional. 

Generasi muda juga merupakan sumber daya produktif pembangunan dan kelompok strategis dalam struktur demografi. “Tak bisa dibayangkan bagaimana keberadaan dan nasib suatu bangsa, kalau generasi mudanya banyak yang menjadi hamba narkoba,” ujarnya. 


Hukum Tegas


Ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Kota Pontianak, Hasan Basri meminta pemerintah dan aparat, tegas dalam memerangi kejahatan tindak pidana narkoba di Kalbar.

Oleh karenanya, ia menegaskan bahwa LKKNU mendukung sikap tegas pemerintah, untuk memberlakukan eksekusi mati terhadap terpidana penyalahgunaan narkoba, terlebih lagi yang pelakunya berasal dari beberapa negara.

"Jika narkoba ini dibiarkan, itu korbannya jutaan generasi muda terutama di Indonesia ini," katanya.

Alquran sudah menegaskan, barang siapa yang menghancurkan tatanan kehidupan di muka bumi ini, maka hukumnya tidak layak diberi kesempatan hidup. 

“Jadi kami mendukung sikap tegas pemerintah dan aparat," pungkasnya. (bls/jek/rah/umr/lis)

MUI Desak Hukuman Mati Narkoba Dipercepat


Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lebak mendesak pemerintah mengeksekusi hukuman mati bagi pelaku narkoba dipercepat dan tidak ditunda-tunda.

"Kami mendukung percepatan hukuman mati karena Indonesia menjadi darurat narkoba," kata Ketua MUI Kabupaten Lebak KH Baidjuri di Lebak, Rabu (7/3).

Saat ini, MUI Lebak merasa prihatin melihat peredaran narkoba di tanah Air.

Bahkan Indonesia sudah menjadi darurat narkoba sehingga pelaku narkoba yang divonis hukuman mati segera direalisasikan eksekusinya. Vonis hukuman mati itu tentu sudah inkrah secara hukum dan tidak melakukan pelanggaran.

MUI Lebak juga mendukung Badan Narkotika Nasional (BNN) perintahkan tembak ditempat bagi pelaku narkoba. Apabila penegak hukum tidak tegas terhadap pelaku narkoba maka menjadikan ancaman Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Selain itu juga akan menghancurkan generasi bangsa sehingga penegak hukum harus bertindak tegas terhadap pelaku narkoba. "Kami mendukung tembak ditempat bagi pengedar dan bandar narkoba," katanya.

Menurut dia, agama Islam memperbolehkan bersikap tegas kepada pelaku hingga melakukan tembak ditempat jika sudah diberlakukan kedaruratan. Sebab, lanjutnya, kedaruratan itu kondisinya sudah mengkhawatirkan dan harus dilakukan tindakan tegas bagi pelaku narkoba.

Selama ini, penerapan hukuman mati terhadap bandar narkoba,namun tidak memberikan efek jera. Peredaran narkoba di Tanah Air sulit dilakukan pemberantasan.

Karena itu, MUI mendukung hukuman mati segera dipercepat bagi gembong narkoba yang sudah divonis mati. 

"Kami mendesak eksekusi mati bisa dipercepat," katanya.

Kyai Baidjuri mengatakan, penggunaan narkoba harus diberantas hingga akar-akarnya karena bisa merusak generasi bangsa. Saat ini korban pengguna narkoba sudah merasuki aparat pemerintahan, seperti oknum anggota TNI, Polri, kepala daerah,artis dan politisi.

Selain itu juga peredaran narkoba bukan hanya menyentuh warga perkotaan saja, tetapi sudah merambah ke pelosok-pelosok desa. 

"Kami khawatir jika pelaku narkoba itu tidak segera dilakukan eksekusi mati dipastikan akan mengancam generasi bangsa," katanya.

Sekertaris Gerakan Antinarkotika Nasional (Granat) Kabupaten Lebak Iwan Mulyadi menegaskan pelaku narkoba yang sudah divonis hukuman mati agar tidak ditunda-tunda untuk dieksekusi karena memiliki kekuatan hukum atau inkrah.

Mereka para pelaku narkoba itu semakin bebas memasok menggunakan jalur pelabuhan, laut dan darat. Para pelaku tidak merasa efek jera dengan hukuman mati, sehingga pemerintah segera melaksanakan eksekusi terhadap pelaku narkoba yang divonis hukuman mati.

"Saya yakin hukuman mati bisa memutus mata rantai peredaran narkoba di Indonesia," katanya.

Iwan menyebutkan selama ini Indonesia menjadikan darurat narkoba karena pemakai dan pengguna hingga mencapai jutaan orang.

Bahkan, diperkirakan 50-60 orang per hari meninggal dunia akibat kecanduan dengan barang haram itu. "Kami setuju hukuman mati bandar narkoba dipercepat," katanya. (ant/lis)