Permintaan Tinggi, Kepiting Bakau Perlu Pengelolaan Berkelanjutan

Ponticity

Editor Andrie P Putra Dibaca : 296

Permintaan Tinggi, Kepiting Bakau Perlu Pengelolaan Berkelanjutan
Kepiting Bakau. (SP/Balasa)
PONTIANAK, SP - Tingginya minat terhadap kepiting bakau Kabupaten Kubu Raya ditakutkan dapat memicu terjadinya pemanfaatan sumber daya perikanan secara berlebihan.

Saat ini sejumlah pihak pun terus memusatkan perhatiannya pada tata kelola kepiting bakau. Apalagi skema perbaikan perikanan tangkap (Fisheries Improvement Program) khususnya komoditas kepiting bakau, hingga kini belum dilaksanakan sesuai harapan.

Atas dasar itu, WWF-Indonesia menginisiasi pertemuan bersama Dinas Kelautan dan Perikanan Kalbar, Pemerintahan Desa Sungai Nibung, Dabong, Kuala Karang, Kubu, nelayan dan pengepul kepiting bakau di perairan Kubu Raya beserta lembaga terkait lainnya beberapa waktu lalu. Hasilnya, sejumlah rekomendasi dan kesepakatan, terutama dalam rencana pelaksanaan agenda perbaikan perikanan komoditas kepiting bakau di Kubu Raya didapat.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kalbar M Aminuddin mengatakan Kubu Raya adalah penghasil kepiting bakau terbesar. Kondisi ini tak terlepas dari kondisi hutan bakau di daerah tersebut yang terjaga dengan baik.

“Tentunya ini menjadi habitat terbaik bagi kepiting, udang dan ikan,” katanya.

Tata kelola kepiting bakau memang perlu dilakukan. Pengelolaan diharap bisa dilakukan bersama masyarakat. Di mana harapannya masyarakat pesisir tidak sebatas mengambil hasil perikanan ini sebanyak mungkin, tapi juga menjaga berkelanjutannya.

Manajer Program Kalbar WWF-Indonesia Albertus Tjiu mengatakan hasil identifikasi yang telah dilakukan pihaknya, dengan merujuk pada standar Marine Stewardship Council menunjukkan bahwa hasil produksi perikanan kepiting bakau di perairan Kubu Raya cukup tinggi.

Hanya saja, untuk pengelolaannya masih perlu pembenahan sehingga dapat memastikan aspek keberlanjutan dan di sisi lain meningkatkan pendapatan nelayan. (bls)