Promenade BML Terkendala Pembebasan Lahan

Ponticity

Editor Andrie P Putra Dibaca : 179

Promenade BML Terkendala Pembebasan Lahan
Proyek Promenade di BML. (SP/Balasa)
PONTIANAK, SP - Lurah Benua Melayu Laut (BML), Kecamatan Pontianak Selatan, Lestari menjelaskan pembangunan promenade di wilayahnya saat ini baru mencapai 44 persen, padahal proyek multi years pusat itu harus selesai Agustus 2018. Ada deviasi atau penyimpangan dari target sebesar 21 persen.

Promenade sendiri adalah tempat berjalan-jalan, yang akan dilengkapi dengan sejumlah fasilitas. Semacam musala, taman dan lainnya.

Sejumlah masalah jadi penyebab dalam proyek Promenade tersebut. Di antaranya posisi promenade dan turap yang dalam rencana dibangun lurus dari Gang Asean sampai Gang Kamboja. Promenade itu dibangun selebar 10 meter. Lebar itu mengenai geretak yang jadi akses warga dengan lebar 60 sentimeter sampai 1,4 meter.

"Untuk mengganti geretak yang terkena itu maka akan mundur sehingga terkena lokasi rumah, teras rumah warga, tanah kosong," ucapnya Senin (26/3).

Dia pun berujar perlu sosialisasi lebih untuk memberikan pengertian kepada masyarakat karena ini merupakan kepentingan umum. Bagaimana agar mereka mau mengikhlaskan lokasi yang terdampak pembangunan promenade.

"Untuk komunikasi kepada masyarakat, Alhamdulillah. Begitu didatangi secara persuasif, door to door, diberikan penjelasan, mereka sebenarnya sangat mengerti cuma terkendala rumah yang ditempati, tanah lokasi yang terkena itu sifatnya masih kepemilikan waris," jelasnya.

Setidaknya ada 20 lokasi yang masih dilakukan negosiasi dengan pemilik. Lokasi itu terdiri dari tanah kosong, rumah warga, warung, teras, dan surau. Bedanya, lokasi-lokasi itu merupakan lahan yang punya hak milik. Sementara sebelumnya, bangunan yang ditertibkan dengan kesadaran pemilik berada di Garis Sempadan Sungai (GSS) dengan jumlah 41 bangunan. Terdiri dari kafe, rumah, warung, dermaga, tangga mandi, dan fasilitas jembatan untuk angkutan air.

Masalah lain ada di akses masuk promenade sepanjang 826 meter tersebut. Akan ada tiga akses masuk, yakni Jalan Barito, Gang Irian dan Gang Kamboja. Di Jalan Barito, ada 10 ruko yang harus dibongkar. Kini baru dua yang sepakat. Sementara tujuh ruko lain masih dalam tahap komunikasi. Satu ruko lain sudah lama kosong, dan tak ada kontak yang bisa dihubungi.

Untuk Gang Irian, akan berubah jadi Jalan Irian dengan lebar sembilan meter. Namun jika selebar itu, ada 32 bangunan sepanjang jalan itu yang terdampak. Tentu ini makan waktu. Akan tetapi, sudah ada keputusan dari pusat, jalan yang dibangun nantinya hanya tujuh meter. Bangunan yang terdampak pun hanya 16 saja. Pendekatan persuasif sudah dilakukan dan warga setuju. Dalam waktu dekat, pembangunan segera dimulai.

"Sedangkan di Gang Kamboja kami belum melaksanakan sosialisasi. Karena menyelesaikan satu per satu dulu. Kalau di Gang Irian sudah selesai dibangun, kita lakukan sosialisasi di Gang Kamboja," katanya.

Nantinya di promenade akan dibangun dua surau. Ada pula taman, anjungan, dua buah perangkap air menyerupai wadah obor yang di bawahnya dilengkapi dengan tandon air dengan kapasitas 8.000 meter kubik. Air ini akan digunakan untuk keperluan warga. Selain itu ada pula pos polisi, pos babinsa. Dengan lebar 10 meter, enam meter di tengah akan digunakan untuk taman dan surau.

"Banyak lokasi untuk wisata, selain ada taman-taman ruang terbuka hijau, kemudian ada lokasi permainan meriam karbit satu titik saja," tambahnya.

Selain itu, dia punya rencana di luar proyek pusat itu untuk membangun bangunan khusus wisata kuliner. Rencananya di dekat Gang Kamboja.

"Ke depannya akan kita bicarakan apakah diperuntukkan untuk warga yang terkena (dampak pembangunan), terutama pemilik kafe yang bertanya kapan mereka bisa usaha lagi di lokasi yang mana diperbolehkan. Nanti kita bicarakan dengan pemerintah atau pimpinan," pungkasnya. (bls)