Berdayakan Masyarakat Beting, FPWA Kalbar Bikin Program Rumah Batik

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 77

Berdayakan Masyarakat Beting, FPWA Kalbar Bikin Program Rumah Batik
MEMBATIK – Seorang ibu sedang membatik. Forum Pemerhati Wisata Alam (FPWA) Kalbar melakukan pemberdayaan masyarakat di Kampung Beting dengan Program Rumah Batik. (SP/Giat)
Forum Pemerhati Wisata Alam (FPWA) Kalbar melakukan pemberdayaan masyarakat di Kampung Beting dengan Program Rumah Batik. 

SP - Salah satu pengelola Rumah Batik Beting, M. Fahmi Abror mengatakan Program Pemberdayaan tersebut sudah berjalan lima bulan. Kampung Beting sendiri dipilih karena nilai historisnya yang tinggi. 

Menurut Fahmi, selama ini batik dengan desain khas Kota Pontianak, belum ada yang memberdayakannya. Berangkat dari hal tersebutlah FPWI untuk melakukan pemberdayaan dengan memproduksi batik. 

Pemberdayaan dimaksud untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) di Kampung Beting, sekaligus meningkatkan perekonomian rakyat dengan menjadi pengrajin batik. Sejauh ini Rumah Batik Beting baru memiliki satu kelompok dengan beranggotakan empat orang yang sebelumnya hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga.

“Ibu-ibu ini awalnya, sama sekali tidak tahu cara membatik. Bisa dibilang mereka ini hanya ibu rumah tangga yang kegiatannya hanya di rumah, jadi coba kita kordinasikan dengan RT dam RW setempat untuk memberdayakan ibu-ibu, supaya mereka mendapatkan penghasilan lebih,” kata Sekretaris FPWA Kalbar, Minggu (15/4)

Anggota Rumah Batik Beting tersebut dibina oleh pelatih lokal. Dua kali pertemuan dalam seminggu. Fahmi menuturkan, pelatihan dilakukan pertahap, berawal dari dasar melukis batik sampai dengan tingkat mahir membantik.

Sampai saat ini pengrajin yang diberdayakan sudah selesai melalui tahap dasar membatik. Bahkan sampai sekarang mereka sudah mampu memproduksi  beberapa batik dan dapat mendatangkan penghasilan dari produksi batik tersebut.

Fahmi menambahkan, selanjutnya akan dilakukan pelatihan ke tahap lanjutan. Nanti pihaknya akan membuka tahap kedua untuk kelompok baru yang beranggota warga lainnya.

“Sistemnya seperti TOT (training of trainer), jadi ibu-ibu yang sudah dilatih, nantinya akan melatih ibu-ibu lainnya,” ungkapnya.

Pihaknya juga merencanakan menghadirkan pelatih dari luar, yang sudah expert. Namun sebelum itu, pengrajin harus menguasai setidaknya dasar membantik. Agar mereka bisa membagikan ilmunya pada yang lain, setelah semuanya menguasai dasar membatik, barulah pihaknya menghadirkan pelatih dari luar. 

Ketika ditanya kenapa memilih batik, Fahmi mengungkapkan, kita pikir batik dengan desain khas Pontianak, belum ada yang memberdayakan, jadi peluang untuk meningkatkan perekonomian warga di Beting lebih tinggi.

“Tidak hanya batik yang kita inginkan tapi kedepan yang lain juga. Namun sekarang masih fokus dengan mengembangkan pemberdayaan batik terlebih dahulu,” ungkapnya

Desain khas Rumah Batik Beting itu sendiri, tidak terlepas dari nilai budaya di Beting khususnya budaya Melayu di Sungai Kapuas. Sampai saat ini baru dua desain khas batik yang dipatenkan yaitu Riak Kapuas dan Payung Istana Betumpuk.

Namun Rumah Batik Beting berencana akan mengembangkan juga desain batik khas Kota Pontianak yaitu Corak Insang yang akan dibuat lebih kekinian tanpa menghilangkan khas Kota Pontianak. Sampai sejauh ini produksi batik belum mampu memproduksi secara massal dengan cepat, namun pihak pengelola ke depan berencana mengadakan alat cetak batik.

Untuk pengadaan alat dan bahan produksi sampai dengan pemasaran. Fahmi mengaku, pihaknya perlu gerakan kolaborasi dengan cara bekerjasama dengan beberapa komunitas atau organisasi, instansi, yayasan maupun lembaga swasta. 

“Pemkot maupun Pemrov kita sudah beberapa kali berkomunikasi, dan pihak pemerintah sudah ada yang pernah berkunjung. Hanya saja untuk masuk program pemerintah baru tahun ini kita ajukan, mungkin tahun depan baru bisa diprogramkan, karena kalau pemkot dan pemprov bisa berkolaborasi produksi dan pemasarannya bisa lebih besar,” katanya.

Ke depan tidak hanya sebatas mengupah para pengrajin, FPWA memastikan output dari pemberdayaan ini, para pengrajin yang sudah expert atau sudah standar dalam membuat batik, nantinya akan diberikan modal. Hal itu dilakukan, menurut Fahmi, agar mereka bisa mandiri dan tidak dibawah FPWA lagi.

Langkah selanjutnya para pengrajin sudah harus masuk ke rumah jahit, artinya di rumah jahit tersebut sudah masuk dalam produksi yang beragam tidak hanya batik bentuk kain saja seperti sekarang ini. Namun sudah mampu memproduksi seperti pembuatan baju, tas dan sebagainya, tentu dengan bahan dasar batik yang mereka buat.

Fahmi juga berharap kepada pemerintah agar ke depannya selalu mendorong gerakan yang bersifat produktif, karena membangun kota tidak hanya cukup dengan gagasan saja, namun yang terpenting bagaimana produktifitas itu terus berkembang dan tumbuh. 

Ketua Kelompok Pengrajin Rumah Batik, Mas Nurmah merasa terbantu dengan adanya pemberdayaan dari FPWA tersebut. Satu kain hasilnya membatik, dirinya dibayar Rp200 ribu. Dalam seminggu dirinya mampu menghasilkan satu kain batik, olahan tangannya sendiri.

“Kita ndak ada ngeluarkan ape-ape, alat dan bahan sudah disiapkan oleh mereka. Istilah kita hanya keluarkan tenaga jak untuk lukis kain jadi batik,” ungkap Nurmah

Sejak tiga bulan yang lalu sampai saat ini dirinya sudah mampu menghasilkan sembilan karya batik.  Nurmah sampai rela menjadikan rumah pribadinya untuk dijadikan tempat latihan setiap minggunya dan bahkan dijadikan base camp Rumah Batik Beting.

Harapan Nurmah, ini terus berjalan dan berkembang, agar dirinya tidak hanya nganggur. Ada kegiatan tersebut dirinya merasa terbantu. hasil dari tersebut ditabung untuk biaya sekolah anaknya atau sekedar uang jajan sekolah.

Pengamat ekonomi di Kalbar, Muhammad Fahmi mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh FPWA. Sekalipun lingkupnya masih kecil, namun jika ada manfaat ekonomi yang dirasakan, maka warga yang lain akan termotivasi

Menurutnya perlu dipikirkan juga Road Maap-nya ke depan seperti apa dan semua perlu terlibat, baik itu masyarakat di lokasi pemberdayaan, pemerintah, kelompok atau masyarakat yang peduli sampai dengan lembaga pendidikan tinggi.

“Tantangan pasti ada, dari situlah kita perlu bekerjasama melakukan mapping, seperti apa maunya dibuat barang ini,” ungkapnya. (giat anshorrahman/ind)