Bekraf Lirik Potensi e-Commerce Solusi Pemodalan UKM

Ponticity

Editor Andrie P Putra Dibaca : 145

Bekraf Lirik Potensi e-Commerce Solusi  Pemodalan UKM
Fadjar Hutomo saat diwawancarai di sela acara. (SP/Mariyadi)
PONTIANAK, SP— Deputi Akses Permodalan, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Fadjar Hutomo mengatakan bahwa selama ini terjadi permasalahan pada pelaku usaha dalam mendapatkan modal pada bank yakni collateral get. Salah satu celah solusinya adalah dengan e-Commerce.

Fadjar mengatakan selama ini bank mensyaratkan jaminan kolateral. Sebanyak 73 persen lembaga keuangan di Indonesia mensyaratkan jaminan berupa tanah dan bangunan sedangkan 27 persen mensyaratkan jaminan berbentuk movable property seperti mesin, kendaraan dan sebagainya.

Hal tersebut pastinya akan sulit dijangkau oleh pelaku-pelaku UKM di Indonesia.


Menurut data IFC tahun 2015, menunjukkan bahwa 22 persen aset UKM di Indonesia berbentuk tanah dan bangunan, 33 persen berbentuk invoice (tagihan), dan 45 persen berbentuk movable property.

 Keadaan tersebut otomatis mempersulit pelaku UKM untuk mendapatkan modal sehingga menyulitkan perkembangan UKM itu sendiri.

“Kita melihat ada solusi. Peluangnya ada di digital,” ungkap Fajdar saat diwawancarai di sela acara Business Matching, di Hotel Aston Pontianak, Selasa (17/4).


Sebuah lembaga pemberi pinjaman pastinya harus memikirkan jaminan untuk memberikan pinjaman. Selain itu, mereka harus punya dasar, punya rasional agar tidak memberikan pinjaman secara asal-asalan.

Hal tersebut dapat diatasi dengan melihat aktivitas transaksi yang telah dilakukan pelaku UKM lewat e-Commerce. Dengan itu lembaga peminjam modal dapat menggunakan e-Commerce menjadi alat pengendali resiko.

“Pastinya kita tidak meminta bank untuk memberikan pinjaman tanpa ada jaminan,” tambah Fadjar.

Dengan memanfaatkan e-Commerce diharapkan bank dapat melihat potensi yang ada pada pelaku usaha. Contohnya memanfaatkan data pembelian pada aplikasi belanja online pada UKM kuliner.

Pihak Bekraf terus memberikan solusi terbaik bagi pelaku-pelaku kreatif di tanah air. Salah satu dengan terus melakukan edukasi kepada pelaku ekonomi kreatif dan melakukan sinergi dengan perbankan konvensional untuk memenuhi kebutuhan permodalan pelaku ekonomi kreatif.

Hal tersebut terbukti pada saat agenda  Bussines Matching yang diselenggarkan di Pontianak. Acara tersebut dihadiri oleh beberapa pelaku usaha di Pontianak dan bank-bank konvensional di Kalimatan Barat.

“Kegiatan ini untuk menjambatani para pelaku Ekraf di Pontianak dengan perbankan nasional. Acara ini diharapkan bisa digunakan secara maksimal bukan hanya oleh pelaku Ekraf untuk mengakses pembiayaan, juga perbankan untuk menyalurkan pembiayaan ke pelaku Ekraf,” ungkap Fadjar. (adi)