Kapolda Sikapi Protes Pekerja PETI di Kapuas Hulu

Ponticity

Editor K Balasa Dibaca : 1793

Kapolda Sikapi Protes Pekerja PETI di Kapuas Hulu
Kapolda Kalbar, Irjen Pol Didi Haryono. (SP/Anugrah)
PONTIANAK, SP - Kapolda Kalbar, Irjen Pol Didi Haryono menyikapi insiden dari aksi yang dilakukan oleh para pekerja Penambang Emas Tanpa Izin (PETI) yang terjadi di Kantor DPRD Kabupaten Kapuas Hulu, Selasa (25/4).

Dia menyampaikan, PETI dapat berakibat pada rusaknya ekosistem lingkungan hidup, ditambah lagi, karena menggunakan zat kimia merkuri atau air raksa yang sangat berbahaya dan berpengaruh terhadap kesehatan makhluk hidup.

“Oleh karenanya, kegiatan penambangan emas tanpa izin ini harus diluruskan dulu. Dalam arti aturan hukum sudah mengatur tambang-tambang tanpa izin yang dapat merusak lingkungan atau ekosistem dan kesehatan manusia ataupun makhluk hidup itu harus dicegah, harus ditanggulangi dan harus dicarikan solusinya,” ujarnya, Rabu (25/4).

Pada aksi yang terjadi di Kabupaten Kapuas Hulu tersebut, dikatakannya sempat terjadi resistensi dari para pekerja PETI yang sempat melakukan pemaksaan kehendak dengan melakukan perusakan terhadap kantor DPRD Kabupaten Kapuas Hulu.

“Ini sama sekali bukan budaya warga kita, bukan budaya bangsa Indonesia,” imbuhnya.

Perlu diketahui juga menurutnya bahwa akibat PETI dapat berdampak dengan waktu hingga 200 tahun untuk mengembalikan kondisi lingkungan pada tataran normalnya.

“Contoh sudah ada, beberapa tahun lalu terjadi di salah satu kabupaten kita di Landak, sampai sekarang kita lihat, semuanya sudah tidak bisa digunakan sama sekali lahannya. Lahannya mati, tidak bisa dimanfaatkan atau digunakan apapun. Kita tidak ingin itu terjadi lagi,” tegasnya.

Untuk itu, Polri melakukan upaya-upaya penertiban terhadap PETI. Polri akan bekerja sama dengan stakeholder terkait, Pemda dan DPRD untuk bersama-sama mencarikan solusi yang terbaik, agar masyarakat dapat menyejahterakan dirinya melalui kegiatan-kegiatan yang sifatnya bukan ilegal.

Dia mengatakan bahwa pihaknya dalam waktu dekat akan melakukan rapat bersama untuk mencarikan solusi.

“Mungkin bisa membuka lahan dengan kabin karet atau apa di sekitar lokasi itu. Masih banyak cara-cara lain ataupun usaha-usaha lain yang bisa kita gunakan, yang bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.

Didi mengimbau kepada masyarakat, bahwa semuanya memiliki keluarga, anak, saudara dan orang tua. Jangan sampai karena kegiatan PETI tersebut berdampak pada kesehatan keluarga. Sebab penggunaan air raksa tersebut sudah sangat masif.

“Kemarin sudah dilarang bapak Presiden. Bapak Kapolri juga sudah menyampaikan penggunaan air raksa sama sekali tidak boleh digunakan, apalagi untuk penambangan emas tanpa izin,” tegasnya.

Sekian tahun ke depan menurutnya penggunaan air raksa juga dapat berdampak bagi kesehatan masyarakat, seperti air sungai yang menjadi tercemar.

Untuk itu, jenderal bintang dua ini mengimbau kembali kepada pekerja PETI agar jangan mau diiming-imingi oleh para pemodal, serta pihak yang memberikan harapan dan penadah. 

“Bahaya dan dampaknya sangat besar bagi kita semua, bagi makhluk hidup. Hewan-hewan pun mati,” ucapnya.

Makhluk hidup yang berada di sekitar lokasi penambangan yang juga berfungsi untuk menjaga keseimbangan juga akan turut mati. Untuk itulah disampaikannya negara melarang PETI. (rah)