Diskominfo Kalbar Gelar FGD Cerdas Bermedsos

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 96

Diskominfo Kalbar Gelar FGD Cerdas Bermedsos
DISKUSI - Diskominfo Provinsi Kalimantan Barat, menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertemakan "Cerdas dan Sehat Bermedia Sosial" di Aula Diskominfo, Rabu (25/4) sore. (SP/Nana)
PONTIANAK, SP - Tak semua masyarakat bisa memanfaatkan media sosial secara bijak, cerdas dan sehat. Salah satu faktornya adalah tingkat pemahaman setiap orang yang tidak semuanya sama dalam menanggapi isu-isu yang muncul di media sosial. 

Demikian disampaikan oleh Kepala Diskominfo Provinsi Kalimantan Barat, Anthony Sebastian Runtu di hadapan peserta Focus Group Discussion yang bertemakan "Cerdas dan Sehat Bermedia Sosial" di Aula Diskominfo, Rabu (25/4) sore.

Menurut dia, hal ini lah yang mungkin menjadi salah satu faktor mengapa isu hoaks sangat mudah berkembang di tengah masyarakat. Daya kritis yang lemah menyebabkan sebagian pengguna media sosial akan langsung menyebarkan setiap informasi yang mereka terima, tanpa berfikir lebih jauh serta mempertimbangkan benar tidaknya sebuah informasi tersebut. 

Terlebih, Kalbar saat ini berada dalam zona kuning soal informasi-informasi berbau hoaks

“Kenapa kuning, karena konten-konten yang ada di medsos itu sudah mengarah kepada disintegrasi bangsa. Kemudian pernyataan -pernyataan melecehkan para tokoh-tokoh nasional, melecehkan kepala negara,” kata Anthony.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa masih banyak masyarakat yang mudah termakan isu hoaks. Padahal, berita atau informasi hoaks cukup mudah dikenali, yakni umumnya berupa ajakan dan seruan.

“Hoaks ini secara umum biasanya berupa ajakan, seruan atau penekanan yang terkesan berlebihan, sehingga mempengaruhi pembaca. Jika tidak jeli, maka biasanya orang akan udah menshare, bahkan mungkin tanpa membaca isinya secara keseluruahan,” ungkapnya.

Ketika konten-konten berbau hoaks ini ditanggapi, tentu akan menjadi kemengan bagi individu atau kelompok yang menyebarkannya. Sebab tujuan mereka telah berhasil. Saat ini, kata Anthony orang-orang lebih mudah dan cepat menyebarkan berita-berita berbau negatif ketimbang  informasi berbau positif. Menurutnya, ini juga menjadi kelemahan tersendiri dalam menyerap informasi.

Kondisi ini, dikatakannya mempengaruhi situasi di Kalbar yang akan menyelenggarakan Pilgub, Pilwako dan Pilbup. ”Saat ini sudah ada yang menyerang satu sama lain,” katanya.

Untuk pengawasannya, diakui Anthony pihak Diskominfo memang mempunyai alat khusus untuk memantau perkembangam media sosial di Kalbar. Kendati demikian, untuk penindakan dan penutupan akun yang terindetifikasi menyebar berita bohong itu bukan wewenangnya.

“Kalau penindakan itu ada di Kepolisian. Makanya, kita intens komunikasi dengan aparat jika didapati ada akun-akun penyebar hoaks atau memecah belah. Untuk konten atau akun yang bermasalah, itu kewenangan penutupannya ada di Kementerian Komunikasi dan Informasi. Kita hanya bisa melaporkan saja dan meneruskan itu ke pusat,” jelasnya

Sementara itu, Anggota DPRD Kalbar, Maskendari menilai bahwa internet sejatinya memiliki banyak peran positif, jika penggunanya bisa lebih bijak dan lebih  bisa melihat peluang-peluang positif, seperti untuk berbisnis dan sebagainya, ketimbang untuk hal-hal negatif, yakni menyebarkan hoaks.

“Hanya memang sekarang ada segelintir orang yang menggunakan media sosial ini untuk kepentingan-kepentingan jahat, seperti menyebarkan hoaks, atau ujaran kebencian untuk keperluan kelompok dan pribadi. Inilah yang harus kita lawan,” ajaknya.

Pekerjaan melawan hoaks, kata Maskendari memang tidak bisa hanya diserahkan kepada satu pihak saja, melainkan merupakan pekerjaan kolaboratif yang harus melibatkan berbagai pihak dan elemen masyarakat itu sendiri.

“Kita bisa memulai dengan hal-hal sederhana saja, dari diri sendiri kalau menggunakan media sosial untuk hal-hal yang bersifat fun, menampilkan sesuatu yang benar, sehingga time line itu diisi oleh hal- hal yang bermanfaat,” imbuhnya.

Untuk itu, dirinya berharap, khususnya kepada masyarakat Kalbar, agar  dalam menggunakan internet dan media sosial bisa dilakukan secara cerdas, sehat dan bijak, sehingga kepentingan sebagai sebuah bangsa bisa terjamin keberlanjutannya.

Praktisi ITE Universitas Tanjungpura Pontianak, Herry Sujaini menilai isu hoaks acapkali lebih ketara muncul saat musim-musim menjelang Pilkada, seperti sekarang ini.

“Kalau kita lihat itu gencarnya musiman, trennya muncul pada musim- musim Pilkada,” ujarnya

Di Kalbar sendiri jelang Pilkada ini, sebut Herry, isu  yang banyak muncul kepermukaan adalah isu tentang kejelekan pasangan calon. (nak/bob)