Maksimalkan RTH Taman Pasif, Pemkot Sasar Fasum dan Pemukiman

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 127

Maksimalkan RTH Taman Pasif, Pemkot Sasar Fasum dan Pemukiman
TAMAN KOTA - Sejumlah warga bermain dan bersantai di Taman Digulist Untan, belum lama ini. (Dok SP)
Anggota DPRD Kota Pontianak, Nurfadli
"Taman ini juga jadi upaya Pemkot untuk meningkatkan kebahagiaan masyarakat, makanya perlu ditambah dan tersebar di semua kecamatan"

PONTIANAK, SP - Pemerintah Kota Pontianak terus berupaya menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH) dengan penataan dan menyulap sejumlah lahan jadi taman hijau. Sejak beberapa tahun terakhir, sejumlah taman memang telah dibangun. Seperti dua yang diresmikan di malam pergantian tahun kemarin, yakni Taman Arboretum dan Taman A Yani di sekitar kawasan Bundaran Tugu Digulis, Universitas Tanjungpura. 

"Selain taman-taman besar atau taman aktif, tahun ini kita juga merencanakan pembangunan taman-taman di median dan sudut-sudut jalan, atau taman pasif," kata Kabid Pertamanan dan Manajemen Sistem Persampahan, Dinas PUPR Kota Pontianak, Iskandar, Rabu (25/4).

Sejumlah kawasan di sudut kota akan ditata tahun 2018 ini dan disulap jadi taman. Salah satunya taman di persimpangan jalan antara Jalan Ampera dan Jalan Danau Sentarum, Kota Baru. Lahan fasilitas umum di daerah itu akan dibuat ruang publik yang rindang, serasi dan indah. 

Tidak hanya di sudut kota, median-median jalan pun akan solek dengan hijau tanaman. Semua dilakukan untuk membuat nyaman warga yang melihat dan melintas. Secara tidak langsung, pohon-pohon yang ditanam bisa menjadi sumber oksigen yang menyegarkan dan menyehatkan.

"Secara psikologis hal ini dapat memberikan kesan tertentu. Jadi kami mulailah kawasan-kawasan yang fasilitas umumnya bisa dimanfaatkan kami manfaatakan (dibuat taman)," ujarnya.

Iskandar juga menjelaskan, pihaknya akan menyasar RTH dalam bentuk lain, seperti di kawasan-kawasan pemukiman warga. Untuk hal ini perlu koordinasi dengan masyarakat setempat, bagaimana agar kawasan tersebut bisa dijadikan RTH kawasan pemukiman. Saat ini, sudah ada percontohan di Komplek Mandau Permai.

"Di sana ada kawasan terbuka untuk bermain terutama untuk anak-anak," ucapnya.

Pihaknya berupaya menciptakan kawasan yang ramah anak di masing-masing pemukiman. Adanya tempat bagi anak-anak untuk bermain akan membuat mereka tak perlu lagi keluar jauh dari kawasan tempat tinggalnya. Jika dekat, orang tua juga akan lebih mudah memantau kegiatan sang anak. 

"Konsep ini juga kami gunakan, RTH berbentuk taman yang ramah anak. Yang seperti ini juga sudah banyak di kota lain RTH yang ramah anak," terangnya.

Untuk terus membuat Pontianak nyaman, Dinas berupaya berinovasi dengan menambah RTH di kawasan pusat kota. Konsep apa yang cocok, masih dalam perencanaan. Namun ada beberapa gambaran, seperti pemanfaatan teknologi untuk menanam tanaman di lokasi tertentu atau yang biasa dikenal dengan roof garden dan fly garden di gedung-gedung bertingkat.

Konsep ini menurutnya akan jadi solusi keterbatasan ruang dalam menyediakan RTH taman. Dengan demikian, alasan tak bisa menanam karena keterbatasan lahan bisa dihilangkan. Dia yakin hal ini bisa dilakukan sepanjang ada kemauan, walau dengan perawatan lebih. 

"Konsep roof garden di gedung-gedung bertingkat, ada tanaman. Seperti itu konsep RTH yang akan kami bangun ke depan," pungkasnya. 

Sejumlah warga Kota Pontianak pun setuju dengan langkah pemerintah yang ingin menambah taman atau ruang terbuka hijau. Salah satunya Indah (27) warga Pontianak Barat. Saat ini menurutnya pemerintah memang sudah membangun taman, tapi lebih banyak di pusat kota. Perlu ada penyebaran di semua kecamatan. 

"Selain biar tidak perlu jauh dari rumah, juga tidak semua bertumpuk ke taman-taman seperti di Digulis Untan," ucapnya. 

Dia juga berharap pemerintah menyediakan lapangan-lapangan bermain untuk anak. Selama ini katanya, tidak banyak lagi lokasi anak bermain. Akhirnya mereka bermain di jalanan. 

"Kalau pun ada lapangan, ya cuma lapangan kosong," kata dia.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Pontianak, Nurfadli meminta Pemerintah Kota Pontianak membangun taman-taman di banyak tempat dan tersebar di semua kecamatan. Dia mengapresiasi langkah pemerintah yang sudah membangun sejumlah taman. Malah kebanyakan berada di lokasi yang berlalu lintas padat. 

"Taman itu memberi kesan indah untuk Pontianak, tapi kita juga ingin taman ada di semua wilayah," katanya, Rabu (25/4).

Keberadaan taman menurutnya juga membantu dalam menciptakan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Apalagi dalam undang-undang diatur bahwa luas RTH harus 30 persen dari total luas wilayah. 

"Taman ini juga jadi upaya Pemkot untuk meningkatkan kebahagiaan masyarakat, makanya perlu ditambah dan tersebar di semua kecamatan," imbuhnya. 

Politisi PDI-Perjuangan ini mengungkapkan DPRD mendukung penuh upaya yang dilakukan Pemkot, tapi penyediaan taman dan ruang terbuka publik perlu ditingkatkan. Saat ini, masalah lahan memang jadi kendala utama dalam membangun taman. Ada banyak taman yang dibangun dengan memanfaatkan lahan fasilitas umum atau kerja sama dengan instansi lain. 

"Kalau memang memungkinkan, lahan-lahan milik pemerintah yang tidak digunakan, bisa diubah jadi taman, terutama yang lokasinya jauh dari taman yang ada sekarang," katanya. 

Taman menurutnya bukan sekadar ruang terbuka hijau, tapi juga tempat interaksi antar masyarakat. Ada banyak kegiatan positif yang bisa dilangsungkan di sana. Apalagi belakangan, banyak anak hanya punya tempat main ketika berada di sekolah. Sementara lahan-lahan tempat bermain mereka di rumah, telah berubah jadi bangunan. 

"Keberadaan tempat bermain anak ini saya pikir juga jadi syarat dalam pemenuhan hak anak. Apalagi Kota Pontianak saat ini gencar dengan Kota Layak Anak," pungkasnya.

Tak Ada Master Plan Taman Kota 

Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Kalimantan Barat, Roffi Faturahman mengungkapkan permasalahan utama taman di Kota Pontianak adalah belum adanya master plan rencana taman-taman. Baik tentang lokasi taman yang akan dibangun ataupun tema atau identitas taman. Walau pemerintah dalam beberapa tahun gencar melakukan pembangunan taman, pelaksanaannya tidak mencerminkan suatu perencanaan matang. 

"Sehingga pembangunan taman hanya berupa fisik saja, atau istilahnya yang penting asal bangun," ucapnya, Rabu (25/4).

Dalam beberapa tahun terakhir Pontianak memang gencar membangun taman. Ada beberapa taman yang dibangun dengan alihfungsi yang kerja sama dengan Universitas Tanjungpura. Misalnya Taman Digulis, Taman Arboretum, Taman A Yani dan lokasi jogging track Untan. 

Roffi menilai, semestinya taman dibangun per wilayah dengan identitas masing-masing. Selain itu, harus ada rancangan jelas titik-titik lokasi pembangunan yang direncanakan dengan matang. 

"Pada akhirnya tiap taman akan bervariatif serta memiliki fungsi yang langsung dirasakan oleh masyarakat," pungkasnya. (bls/bob)