Produk Olahan Limbah Pontianak Mejeng di INACRAFT

Ponticity

Editor Andrie P Putra Dibaca : 148

Produk Olahan Limbah Pontianak Mejeng di INACRAFT
Stan Pemkot Pontianak di INACRAFT. (ist)
JAKARTA, SP – Produk berbahan dasar limbah dari Kota Pontianak mejeng di pameran produk kerajinan International Handicraft Trade Fair (INACRAFT) 2018 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, sejak Rabu (25/4). Produk itu di antaranya terbuat dari pipet bekas dan limbah kayu belian. Berbagai produk itu lahir dari kreativitas para pengrajin lokal.

Salah satu pengrajinnya, Zulkardianti dari Bank Sampah Rosella. Dia membawa dompet yang terbuat dari pipet. Sampah plastik yang sehari-hari jadi sisa pakai masyarakat.

“Sampah yang masih bisa digunakan untuk meningkatkan perekonomian dengan cara didesain sedemikian rupa sehingga ada ketertarikan orang untuk membelinya,” ceritanya, Kamis (26/4).

Walau terdengar sederhana, dompet buatan ibu-ibu di Bank Sampah Rosella ini tinggi peminat. Sebelum mejeng di INACRAFT, daur ulang limbah ini sudah dijual ke luar negeri. Tidak hanya dompet, kerajinan dari koran dan kantung kresek bekas juga sudah melalang buana ke Brunei Darussalam, Swedia dan Australia.

“Alhamdulillah, barang limbah yang kami tekuni orderan tidak pernah berhenti. Kadang untuk memenuhi permintaan sampai stoknya kosong,” katanya.

Dalam pembuatan, semua masih manual. Tak heran jika permintaan dan waktu pembuatan sering kejar-kejaran. Dia menjelaskan saat ini tengah mempersiapkan souvenir untuk acara di Kabupaten Mempawah.

“Mudah-mudahan usaha ini bisa terus lancar dan bermanfaat terutama untuk menekan limbah yang tadi nya tidak berguna sekarang bisa bernilai ekonomis,” harap Zulkardianti. 

Bank Rosella bukan satu-satunya pengrajin yang karyanya dipamerkan di Stand Kota Pontianak. Ada pula olahan limbah dari kayu belian. Pengrajinnya Idi Ahmad. Dia bercerita, karyanya digandrungi konsumen Malaysia dan Singapura.

“Untuk permintaan tergantung kesanggupan kita memenuhi permintaan mereka karena bahan dasar kayu ulin dengan ukuran besar, kan sudah jarang ditemui,” katanya.

Selama ini, dia hanya manfaatkan kayu bekas atau pecah yang tidak terpakai. Produknya bermacam-macam. Mulai dari lesung, tongkat sampai saji.

“Biasa kita kirim (luar negeri) per minggu itu kalau lesung 10 buah, tongkat 20 hingga 30 buah, kalau saji 30 sampai 50 buah," imbuhnya. 

Meskipun menggunakan bahan kayu bekas, Idi Ahmad menjamin produknya berkualitas sehingga bisa bersaing dengan produk sejenis. Produk yang dibuat 100 persen alami. Tidak ada pemolesan dengan zat kimia. Paling-paling cuma minyak goreng. Malah yang polos, paling diminati konsumen.

Pameran tersebut akan berlangsung hingga 29 April 2018. Ajang ini pun dimanfaatkan Pemerintah Kota Pontianak untuk mempromosikan produk unggulan khas dari Kota Pontianak terutama produk dari pelaku usaha Industri Kecil Menengah (IKM) yang menjadi binaan Dekranasda Kota Pontianak dan Dinas Koperasi Usaha, Mikro dan Perdagangan Kota Pontianak.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan Kota Pontianak sekaligus Plh. Ketua Umum Dekranasda Kota Pontianak, Haryadi S Triwibowo mengungkapkan bahwa produk unggulan yang ditampilkan pada pameran Inacraft tahun ini masih menampilkan produk unggulan yang menggambarkan ciri khas Kota Pontianak.

“Dengan memanfaatkan bahan dasar limbah, produk itu memiliki nilai jual untuk memenuhi permintaan pasar,” katanya.

Beberapa yang dibawa di antaranya corak insang, miniatur Tugu Khatulistiwa, kerajinan meriam karbit, kerajinan dari limbah kayu belian serta produk dari Bank Sampah Rosella. Dia menjelaskan saat ini, yang menjadi perhatian nasional maupun international adalah produk kerajinan dengan memanfaatkan bahan dasar limbah.

Industri kecil menengah di Pontianak katanya terus berkembang. Sebagai dukungan, pihaknya memberikan pelatihan manajemen, pelatihan pemanfaatan teknologi serta memfasilitasi promosi produk kerajinan yang dihasilkan oleh pelaku IKM.

“Kita terus mendukung para pelaku industri kecil khususnya kerajinan tangan, apalagi sekarang ini kan sudah masuk era ekonomi kreatif, tentu ke depannya bagaimana kita meningkatkan industri biasa menjadi industri kreatif karena industri kreatif ini lah yang akan mempunyai pangsa pasar international,” ungkapnya.

Saat ini Pemkot Pontianak telah menjalin kerja sama dengan BUMN, BUMD, perhotelan dan toko modern untuk memberikan fasilitas tempat bagi usaha industri kecil khususnya produk kerajinan. Tujuannya mempermudah produk dikenal dan dipasarkan secara luas. Kerja sama itu tertuang dalam Perda tentang keberpihakan pada usaha kecil. (bls)