Perpisahan SD Muhammadiyah 2 Pontianak, Memupuk Bakat Seni Anak Sejak Dini

Ponticity

Editor Andrie P Putra Dibaca : 544

Perpisahan SD Muhammadiyah 2 Pontianak, Memupuk Bakat Seni Anak Sejak Dini
Pentas seni murid SD Muhammadiyah 2 Pontianak di Rumah Melayu, Rabu (16/5). (SP/Muhlis)
PONTIANAK, SP - Beragam acara kesenian ditampilkan dalam acara ‘Penyerahan Kembali Siswa-Siswi Kelas VI SD Muhammadiyah 2 Pontianak Tahun Ajaran 2017-2018’ di Rumah Melayu Pontianak, Rabu (16/5).

Kemeriahan dan kesenduan perpisahan, saling bertaut di acara itu. Menimbulkan efeknya sendiri, tawa dan tangis bocah.

Di atas panggung pementasan yang sekira lapangan basket, Tegar, siswa kelas 4 CI (Cerdas Istimewa) di SD Muhammadiyah 2, mementaskan pantomim. Bila siswa lainnya tampil beregu, berdua, bertiga bahkan berpuluh jumlahnya, ia tampil sendiri.

Dengan rasa percaya diri, bocah itu mengikuti musik yang seakan membawanya pada sebuah cerita.
Wajahnya dibalur warna putih, serupa topeng.

Diiringi musik instrumentalia dan bebunyian dari pengeras suara, bocah berpostur kecil itu, dengan lincah menggerakkan tubuhnya. Ada gerakan patah-patah. Ada gerakan lembut. Gerakan mengagetkan, dan rupa-rupa gerakan pantomim lainnya.

Para penonton yang sebagian besar adalah orangtua siswa, anak-anak kelas VI dan guru, seolah dibuatnya tersihir. Sesekali tersenyum dan tertawa lepas.

Sepagi itu, ruangan di Rumah Melayu Pontianak, gegap gempita oleh suara tawa, nyanyian, tari, serta pelukan persahabatan dari para siswa, orangtua dan guru. 

Di sekolah SD Muhammadiyah 2, bakat-bakat berkesenian murid digali dengan cara diikutkan dalam berbagai kegiatan ekstra kurikuler. Ada kegiatan mingguan yang bisa diikuti siswa.

Tak heran bila mereka dengan percaya diri, tampil dalam berbagai pementasan sekolah atau lomba antar sekolah.

Dalam sambutannya di podium, Kepala Dinas Pendidikan Kota Pontianak, Dr Mulyadi berharap, SD Muhammadiyah bisa memberikan manfaat bagi seluruh warga Kalbar.

“Saat ini kita prihatin dengan hal-hal yang terjadi di lingkungan sekitar kita,” ujarnya.

Ia memberikan contoh. Di warkop yang tersebar di Kota Pontianak, hingga pukul 23-an, masih banyak anak-anak perempuan yang nongkrong di warung kopi. Oleh karena itu, ia berharap anak-anak dibekali dengan pendidikan yang lebih. Tak hanya ilmu pengetahuan, namun juga ilmu agama.

Ia menyatakan apresiasinya. Anak-anak di SD Muhammadiyah 2, tidak hanya dibekali ilmu pengetahuan. Juga pendidikan agama yang baik. Contoh, mereka yang lulus kelas enam SD, ada 14 anak yang sudah bisa menghafal Alquran hingga satu juz, dari 30 juz Alquran.

“Paling tidak dengan hapal satu juz, itu jadi bekal bapak dan ibu sekalian,” ujarnya.

Kepala Sekolah SD Muhammadiyah, Slamet Riyanto mengatakan, menuntut ilmu harus dimulai sejak anak-anak masih kecil. Sebab, menuntut ilmu sejak kecil itu, laksana mengukir di atas batu.

Kunci menghadapi persoalan-persoalan dunia, adalah ilmu pengetahuan. Slamet menjelaskan, salah satu program SD Muhammadiyah 2 adalah tanfiz Alquran atau menghafal Alquran. Alquran adalah petunjuk dan bekal bagi orang yang bertaqwa.

“Kalau Alquran dijadikan pedoman, itulah filter yang paling baik,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Rendrayani, orangtua murid yang merupakan ASN di Dinas Pendidikan Kota Pontianak bercerita, ketika akan mencari sekolah anaknya, dia bertanya pada seorang Kepala Seksi di kantornya.

Sang Kasi balik bertanya, “Ibu memasukkan anak untuk apa? Kalau yang banyak kegiatan ekskulnya, masukkan ke sekolah A. Kalau ingin anak digali bakatnya, masukkan ke sekolah B. Tapi kalau ingin anak bagus akhlaknya dan memiliki ilmu pengetahuan, masukkan ke SD Muhammadiyah.”


Karenanya, dia segera saja memasukkan anaknya ke SD Muhammadiyah. Dan, dia mengakui, saat ini tak perlu lagi harus memberi perintah pada sang anak, ketika sudah masuk waktu salat, misalnya. Si anak sudah menjalankan perintah agama itu, dengan kesadaran diri.

Tak terasa, matahari sudah hampir di atas wuwungan. Sebelum masuk waktu salat dhuhur, kegiatan itu berakhir. Semua bersalaman. Berpelukan. Menumpahkan segala persahabatan selama enam tahun sekolah. Dan, anak-anak pulang dengan wajah ceria. Sebagian lagi berurai air mata. Melepas persahabatan masa kanak. (muhlis suhaeri)