Kondisi Lantai Dua Pasar Tengah Sepi, Pedagang Tak Diizinkan Buka Lapak di Jalan

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 498

Kondisi Lantai Dua Pasar Tengah Sepi, Pedagang Tak Diizinkan Buka Lapak di Jalan
PASAR TENGAH - Pasar Tengah Kota Pontianak sudah dibenahi oleh Pemerintah Kota (Pemkot). Sejumlah pedagang di lantai dua pasar ini mengeluh sepinya pengunjung, sehingga mereka turun berjualan di Jalan Asahan. (Dok SP)
Pengunjung, Wahab (46)
"Pemerintah mau pasar ramai, bisa bersaing, syaratnya pemerintah tegas, siapa yang tidak pakai kios akan diambil alih pemerintah."

PONTIANAK, SP – Sejumlah blok lantai dua Pasar Tengah, Pontianak sepi. Walau aktivitas di pelataran pasar ramai, kondisi di lantai atas malah berkebalikan. Salah satu pengunjung, Wahab (46) menyanyangkan kondisi tersebut. Padahal sepengetahuannya, pasar yang dibangun tujuh blok itu menggunakan anggaran besar.

“Di Ciliwung atas itu, kayaknya malah ada yang dipakai tinggal siang-siang,” katanya, Rabu (16/5).

Paling tidak, seminggu dua kali Wahab ke pasar. Dia kerap berbelanja untuk kembali dijual. Tak adanya pedagang yang buka kios di lantai dua, menurutnya sangat disayangkan. Dia berharap pemerintah tegas untuk melakukan manajemen pasar agar ekonomi di sana bisa maksimal.

“Pemerintah mau pasar ramai, bisa bersaing, syaratnya pemerintah tegas, siapa yang tidak pakai kios akan diambil alih pemerintah,” usulnya.

Ketika pedagang kembali ke pasar usai revitalisasi, pemerintah memang ingin Jalan Asahan jadi kawasan pedestrian. Para pedagang yang semula jualan di sana pun diberi kios di lantai atas. Saat itu pemerintah tegas mengatakan tidak boleh ada yang berjualan di Jalan Asahan dan pedagang yang tidak buka kios akan dipertimbangkan kepemilikannya. 

“Kios itu maju sebenarnya, tapi karena orangnya tidak mau, makanya tidak maju,” pungkasnya.

Namun kenyataan di lapangan bertolak belakang. Lantaran merasa lantai dua sepi, sejumlah pedagang lantai dua blok Ciliwung, turun gelar lapak di Jalan Asahan. Mereka berdagang tepat di ruang antara parkir motor di depan kios.

"Semenjak dikasih blok baru di atas, kita sudah pernah coba tapi hasil minus karena konsumen tidak mau naik ke atas," kata Agus (43) yang berdagang arloji tak jauh dari turunan jembatan penyeberangan.

Penelusuran Suara Pemred di lantai dua blok Ciliwung, dari 50 lebih kios, hanya lima yang buka. Itu pun kios yang menyajikan makanan dan warung kopi. Sisanya tutup rapat seperti tanpa penghuni. Suara-suara di lantai dua itu hanya terdengar dari obrolan penjual di kios kuliner yang buka dan, dua orang anak kecil yang tengah main.

Padahal, di bawah cukup banyak pembeli. Kios pakaian yang berada di lantai dua seberang blok Ciliwung pun sepi peminat. Meski buka, tak ada yang menjamah dagangan mereka.

"Terpaksa untuk kover semua kebutuhan kita (dengan) jualan di bawah," keluh Agus.

Walau harus berjejalan dengan motor parkir, mereka tak punya pilihan lain. Risiko jualan di Jalan Asahan pun lebih besar. Dagangan bisa kena panas dan hujan. Namun Agus hakulyakin dengan pilihannya turun ke bawah, lantaran urusan periuk. Apalagi jelang Ramadan dan lebaran.

"Di atas, bahkan satu hari satu konsumen pun sulit," katanya.

Dia menjelaskan sebenarnya sudah ada pembagian kios untuk semua pedagang. Tapi selain kuliner, tak ada yang tahan. Kuliner jika enak, ke mana pun dicari. Tapi jika barang macam pakaian dan jam, mana yang dekat, pasti lebih dulu didatangi.

"Kalau barang macam kita punya, selain sembako, susah. Sekarang banyak yang melapak di bawah. Di bawah masih ada lah konsumen, bisa untuk cukup sehari-hari, kalau untuk lebih, belum," tutup pedagang yang sudah tujuh tahun melapak di Pasar Tengah ini.

Keluhan sama diungkapkan Norma, pedagang pakaian yang juga turun tangga. Dia berharap pemerintah lewat Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan mengatur dan memfasilitasi mereka yang berdagang di bawah. Selama ini pedagang sudah ikut aturan dari pemerintah, tapi hasil yang diharap sejak naik ke lantai dua April 2017 lalu, belum kunjung didapat.

"Kalau bisa kami minta boleh dagang di tengah (Jalan Asahan), cuma sebulan sampai lebaran," pintanya.

Setahun lebih jualan di lantai dua, hasil yang didapat jauh dari cukup. Dia berharap dibolehkan berdagang di Jalan Asahan dengan lokasi yang diatur. Permintaannya, mereka dibolehkan buka lapak di tengah Jalan Asahan dengan tetap menyisakan ruang jalan di kanan-kirinya.

"Cuma itu yang kami harap," pungkasnya.

Pasar Tengah yang berdiri saat ini merupakan hasil revitalisasi proyek pusat dengan nilai pembangunan Rp54 miliar. Kucuran dana dari pusat itu digunakan untuk membangun tujuh titik pasar dengan bentuk dua lantai. Setelah dibangun, pasar kini memiliki total 848 kios, yang terdiri dari 520 kios di bawah dan 328 kios di lantai atas.

Kontra Produktif dengan Rencana Revitalisasi 

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan Kota Pontianak, Haryadi Tri Wibowo mengungkapkan tidak akan mengizinkan pedagang lantai dua blok Citarum, Pasar Tengah untuk berjualan sementara selama bulan puasa di Jalan Asahan. Tindakan pedagang dinilainya kontra produktif dengan rencana revitalisasi yang menginginkan Jalan Asahan untuk pedestrian, bukan lokasi dagang.

“Mereka mau turun buat lapak-lapak di tengah (Jalan Asahan). Saya sebagai Kepala Dinas tidak akan mengizinkan. Karena kita membangun Pasar Tengah itu salah satunya mengosongkan akses Jalan Asahan. Kalau Kepala Dinas mengizinkan, kan kontra produktif,” ungkapnya, Rabu (16/5).

Para pedagang yang semula berjualan di Jalan Asahan, memang diberi kios di lantai dua pasar. Haryadi menjelaskan saat ini Pasar Tengah merupakan pasar resmi dan sebagai percontohan pasar representatif. Pasar dibangun untuk pedagang dan akses jalan yang sebelumnya tidak bisa dilewati, dijadikan lokasi masuk. Walau sekadar pindah untuk bulan puasa saja, dia tetap tidak mengizinkan.

“Artinya di bulan puasa, semua pedagang di mana-mana, pasti ada dispensasi, tapi jangan seenaknya, jalan ditutup. Kan mengganggu orang, itu tidak boleh. Kita juga harus mementingkan kepentingan umum, namanya saja fasilitas umum,” tegasnya.

Dia mencontohkan pasar juadah diberikan dispensasi untuk dibangun di mana saja. Tapi tentu tidak di tengah jalan atau di ruang terbuka yang mengganggu fasilitas umum. 

“Hanya untuk kepentingan, mohon maaf, 100 pedagang, mengorbankan kepentingan ribuan orang, kan tidak boleh seperti itu. Kita utamakan kepentingan orang banyak,” imbuhnya.

Hanya saja Haryadi mengungkapkan, akan lain hal jika pedagang menumpang di depan ruko pedagang lain di bawah, itu tidak ada masalah. 

“Itu tidak masalah, tapi kalau di tengah jalan, tentu jadi masalah,” katanya.

Ketika disinggung ketegasan pemerintah yang akan mengambil alih kios jika tak digunakan untuk berdagang, Haryadi menjelaskan pihaknya mendahulukan pembinaan. Bagaimana membuat lantai dua pasar hidup.

“Tidak selamanya pasar lantai dua itu tidak laku, contoh, habis lebaran di Ciujung lantai dua, (rumah makan) Mak Etek itu mau buka 12 kios, warung kopi dan lainnya juga. Artinya perlu kesabaran dan ketekunan untuk itu,” jelasnya.

Menurutnya, pedagang tidak perlu khawatir dagangan tak laku. Adanya media sosial dan perkembangan teknologi bisa membantu. Jika memang sudah punya pelanggan, di mana pun berdagang tidak akan masalah.

“Tapi kita tidak akan biarkan mereka tidak teratur. Terus ketika mereka turun ke bawah, yang di atas dikasih ke orang? Tidak, kita tidak ingin seperti itu. jangan nanti mereka sudah ramai, mereka ribut tidak ada tempat lagi,” pungkasnya. (bls/bob)