Pengamat Sebut Isu Bom Pesawat Lion Air Miskomunikasi

Ponticity

Editor K Balasa Dibaca : 2772

Pengamat Sebut Isu Bom Pesawat Lion Air Miskomunikasi
Pengamat komunikasi Untan, Netty Herawati. (ist)
PONTIANAK, SP - Pengamat Komunikasi Untan, Netty Herawati, sekaligus dosen FN yang terlibat isu bom di dalam pesawat Lion Air, JT 687 tujuan Jakarta di Bandara Supadio, Senin (28/5), menanggapi kejadian tersebut.

Dia menyebutkan, meskipun secara pribadi jarang berinteraksi langsung dengan FN, namun sempat beberapa kali berkomunikasi dan mengajar yang bersangkutan.

Menurutnya, berdasarkan penuturan rekan-rekan dosen lain, FN adalah orang yang sopan, namun cukup lama menyelesaikan kuliahnya.

Dia secara pribadi, tidak sepenuhnya percaya jika FN melakukan perbuatan tersebut. 

Netty meyakini ini adalah kesalahan komunikasi.

“Saya yakin ini peristiwa miss komunikasi,” ujarnya.

Dia menganalisa secara sudut pandang komunikasi. Bahwa komunikasi tidak berlangsung dalam ruang hampa, karena terlalu banyak faktor yang bisa menentukan efek komunikasi.

FN sebagai warga Papua, menurutnya memiliki gaya tersendiri saat berbicara. Dengan intonasi yang agak tinggi. Berdasarkan pengalamannya berkomunikasi dengan warga Papua, menurutnya orang Papua sangat menghargai orang yang dari luar budayanya, namun memiliki kebiasaan menatap lawan bicaranya sebagai bentuk penghormatan terhadap lawan bicaranya. 

Jika orang yang tidak terbiasa dengan tatapan tersebut, atau yang memiliki budaya berbeda maka akan merasa seperti dilawan.

Untuk itu, dia melihat bahwa kasus ini murni terjadi pada masalah komunikasi, serta pramugari yang kurang memahami pengetahuan antar budaya, sehingga merespon dengan cukup mengejutkan.

Saat ini menurutnya, masyarakat pada umumnya tidak sadar telah terpapar fobia bom. Karena berbagai pemberitaan dari media terkait teror bom.

Seandainya peristiwa ini terjadi sebelum adanya teror bom, maka menurutnya peristiwa heboh ini tidak akan terjadi.

Karena untuk dapat masuk ke dalam pesawat, penumpang harus melewati dua kali pemeriksaan scanner, tentu sebelumnya jika terdapat hal yang mencurigakan sudah dapat ditemukan.

Secara tanpa sadar, warga saat ini sudah sedikit terkena efek media massa terhadap teror bom, sehingga membuat masyarakat menjadi was-was dan fobia terhadap bom.

Sebelumnya, Netty sempat menuliskan status di facebook miliknya terkait kasus yang terjadi di bandara Supadio yang menurutnya masih ada dua versi cerita yang beredar di masyarakat. 

Dalam unggahan tersebut, sudah dikomentari hingga puluhan, baik oleh sesama dosen maupun masyarakat. Bahkan unggahan tersebut sudah dibagikan lebih dari seratus kali.

Hal itu menurutnya membuktikan bahwa masyarakat saat ini masih memiliki atensi  dan kesadaran untuk mencari informasi yang baik dan mau belajar tentang sesuatu.

Komunikasi menurutnya, bukan hanya terkait dengan kata-kata. Namun menyangkut gestur, ekspresi, dan lain-lain. Kasus ini menurutnya dapat menjadi pelajaran terkait pramugari dan FN, selaku pelaku komunikasi.

Menurutnya, pramugari harus diberikan kemampuan komunikasi antar budaya, agar dapat memahami pola komunikasi yang ada di masyarakat seluruh Indonesia, untuk menghindari kesalahan komunikasi seperti ini.

“Karena mereka kan melayani orang dari berbagai kultur. Harusnya dia tidak sepanik itu. Tapi menurut saya secara psikologis, sebenarnya semua ini efek dari fobia bom. Sebab banyak media memberitakan tentang bom tanpa memberikan edukasi, namun menakuti,” imbuhnya.

Banyak media dari kasus FN yang menurutnya seenaknya membuat berita berupa opini. Bahkan di media sosial banyak orang dengan mudah menjustifikasi sesuatu hingga melebar dan dipolitisasi. Untuk itulah dirinya berinisiatif membuat tulisan di facebook. (rah)