Polisi Jaring 1144 Orang dalam Operasi Pekat, Kasus Prostitusi Menempati Angka Terbanyak

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 663

Polisi Jaring 1144 Orang dalam Operasi Pekat, Kasus Prostitusi Menempati Angka Terbanyak
KONPERS - Kapolda Kalbar, Irjen Pol Didi Haryono memberikan keterangan pada konferensi pers hasil Operasi Pekat Kapuas 2018, di Mapolda Kalbar, RABU (30/5) siang. (SP/Anugrah)
Kapolda Kalbar, Irjen Pol Didi Haryono
"Manfaatkan tiga pilar ini untuk bersama-sama dengan warga menjaga kondusifitas dan sensitif terhadap situasi yang berpotensi terjadinya gangguan."

PONTIANAK, SP - Kepolisian Derah Kalimantan Barat menggelar operasi Penyakit Masyarakat (Pekat) dalam rangka penertiban selama bulan Ramadan. Kegiatan ini dilaksanakan selama 14 hari sejak tanggal 11 hingga 24 Mei 2018.

Operasi ini dilaksanakan oleh Satgas Polda Kalbar dan Polres dengan metode pelaksanaan penindakan yang terdiri dari proses lidik atau tipiring dan pembinaan.

Operasi pekat tersebut dilaksanakan pada seluruh jajaran Polda Kalbar dengan 13 satuan wilayah, dan 155 Polsek.

Adapun hasil pelaksanaan operasi, polisi berhasil mengungkap total 1011 kasus yang terdiri dari narkoba 65 kasus, sajam 25 kasus, prostitusi 269 kasus, premanisme 241 kasus, perjudian 77 kasus, miras 194 kasus, petasan 127 kasus, perkelahian 8 kasus, perdagangan orang 5 kasus. Jumlah total pelaku, yakni mencapai 1144 orang tersangka seluruh Kalbar.

Tercatat pula dari keseluruhan kasus yang ada, angka tertinggi terlihat pada kasus prostitusi yang mencapai 269 kasus.

Dari 1144 orang tersebut, sebanyak 540 orang menjalani proses sidik dan tipiring. Sementara sebanyak 604 orang menjalani pembinaan.

Barang bukti yang diamankan atau disita, yaitu sebanyak 183 paket sabu, 28,8 butir pil ekstasi, 102 unit handphone, 48 set kartu domino, 24 bilah sajam dan uang tunai sebanyak Rp150.369 ribu.

“Kita ketahui bahwa Khambtibmas merupakan suatu kebutuhan kita semua dalam menjalankan aktivitas-aktivitas sehari-hari, sehingga keamanan dan ketertiban masyarakat menjadi suatu hal yang harus kita sepakati. Manakala ada hal-hal yang mengganggu khambtibmas itu sendiri, harus kita tegakkan,” ujar Kapolda Kalbar, Irjen Pol Didi Haryono, dalam pers rilis operasi pekat Kapuas 2018, di Mapolda Kalbar, Rabu (30/5) siang.

Saat dilakukan rilis penangkapan para tersangka juga dihadirkan di Mapolda Kalbar, yakni sebanyak 232 orang. Selain itu, turut dihadirkan pula beberapa tokoh masyarakat untuk menyaksikan proses rilis dan pemusnahan barang bukti.

Dari operasi tersebut yang cukup menonjol, menurut Didi yaitu penangkapan minuman keras hingga mencapai 7 ton, ditambah 81 kampel arak putih,  2755 botol miras berbagai jenis, mulai dari produk lokal hingga impor dan 775 kaleng minuman keras berbagai jenis lainnya.

Untuk itu, Didi mengimbau kepada masyarakat, agar menghormati umat yang sedang melaksanakan ibadah puasa. Selain itu, warga juga diminta untuk menjauhi perbuatan yang dapat mengganggu Khambtibmas.

“Bagi para penjual minuman keras tanpa izin, mulai sekarang hentikan itu, karena sangat mengganggu kesehatan warga kita semua. Bahkan dapat menimbulakan kematian,” tegasnya.

Jika masyarakat menemukan hal-hal aneh atau berpotensi menimbulkan gangguan khambtibmas, dirinya meminta segera melaporkan informasi itu kepada anggota Polri, Bhabinkamtibmas dan pihak desa.

“Manfaatkan tiga pilar ini untuk bersama-sama dengan warga menjaga kondusifitas dan sensitif terhadap situasi yang berpotensi terjadinya gangguan,” tambahnya.

Pada penangkapan tersebut juga tercantum data perdagangan orang sebanyak lima kasus yang merupakan mucikari TPPO, termasuk dalam kasus prostitusi.

Kuatkan Pendidikan Agama dan Keluarga

Tokoh Dewan Adat Dayak Nasional, Yakobus Kumis mengapresiasi kinerja Kapolda Kalbar dalam mengungkap kasus penyakit masyarakat di Kalbar.

Terkait angka prostitusi yang cukup tinggi tersebut, yang pertama dan utama merupakan pendidikan keluarga, pendidikan agama dan peran serta tokoh-tokoh masyarakat, tokoh agama, alim ulama dan pihak keamanan.

“Karena persoalan ini, alasannya biasanya kesulitan ekonomi, kemudian ada persoalan keluarga, dan ini itu,” tuturnya.

Selain itu, terpengaruh juga dengan tren gaya hidup moderen. Menurutnya, saat ini sudah banyak modus-modus mucikari dan sarana prasarana seperti di media sosial.

“Nah itu yang harus dituntaskan,” katanya.

Dalam hal ini peran pemerintah juga sangat penting. Untuk itu, pemerintah harus membuat regulasi, terutama dengan menyediakan lapangan pekerjaan, memberikan pembinaan kepada seluruh pihak yang berkaitan dengan permasalahan tersebut.

Dirinya mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga suasana khambtibmas di Kalbar. Terutama di bulan suci Ramadan dan menjelang pemungutan suara Pilkada serentak Kalbar tahun 2018.

“Ini semata agar saudara kita dapat melaksanakan ibadah puasanya dengan tenang dan nyaman, sehingga mereka bisa melaksanakan ibadahnya dengan baik,” ujarnya.

Sementara untuk Pilkada, dia mengharapkan agar seluruh masyarakat menjaga keamanan dan kedamaian di Kalbar. Karena Pilkada merupakan modal untuk membangun Kalbar, dengan memilih sesuai hati nurani. (rah/bob)