Keluarga Tersangka 'Bomb Joke' Kecewa terhadap Penyidik Polresta

Ponticity

Editor Indra W Dibaca : 674

Keluarga Tersangka 'Bomb Joke' Kecewa terhadap Penyidik Polresta
Diaz Gwijangge, kakak ipar tersangka kasus bomb joke di pesawat Lion Air JT 687. (SP/Rah)
PONTIANAK, SP – Diaz Gwijangge, kakak ipar FN, tersangka kasus 'bomb joke' di pesawat Lion Air JT 687 menyatakan kecewa terhadap penyidik Polresta Pontianak yang tidak menghubungi pihak keluarga, baik keluarga yang di Papua, maupun keluarga yang di Pontianak atas nama Alex dalam kasus ini.

Pihak keluarga menganggap penetapan FN sebagai tersangka tunggal merupakan bentuk diskriminasi dan terkesan rasalis, dimana pihak pramugari maupun pilot tidak diperiksa. Apalagi FN tidak didampingi penasehat hukum pada saat diperiksa.

Selain itu keluarga juga menyoroti beberapa kasus candaan bom yang terjadi beberapa waktu lalu banyak yang tidak diproses. Salah satu yang terjadi pada tanggal 2 Mei 2018, pada pesawat Garuda yang setelah diperiksa tidak dilakukan penahanan, bahkan kembali melanjutkan perjalanan. Begitu pula dengan kasus candaan bom oleh dua orang anggota DPRD Banyu Wangi yang bebas melenggang.

“Ini ada kepentingan apa dan kenapa FN jadi tumbal dalam kasus ini. Ini berarti proses penegakkan hukum di negara ini ada perbedaan antara warga negara. Mungkin warga negara Papua dianggap warga negara kelas dua,” katanya, Kamis (7/6).

Dia juga menyayangkan pernyataan dari pejabat-pejabat publik seperti menteri perhubungan dan lain-lain yang menyatakan akan menghukum FN seberat-baratnya.

Diaz mengungkapkan bahwa FN merupakan satu-satunya warga Papua yang merintis jalan pendidikan perguruan tinggi di Kalbar, sebab sebelumnya tidak ada warga Papua yang memilih pendidikan di Kalimantan.

“Dan itu sejarah bagi orang Papua, dimana sekarang karena dia buka jalan sudah ada lebih dari 90 orang sudah ada kuliah di sini,” imbuhnya.

FN, sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus 'bomb joke', yang terjadi di pesawat Lion Air JT 687 pada Senin (28/5) di Bandara Internasional Supadio Pontianak.

Penetapan status tersebut berdasarkan hasil gelar perkara yang dilakukan di ruang kerja Kasat Reskrim Polresta Pontianak, yang dilaksanakan pada Selasa (29/5), sekira pukul 19.30 WIB. (rah)