Jual Satwa Dilindungi, Toko Burung di Jalan Teuku Umar Digerebek

Ponticity

Editor Indra W Dibaca : 24719

Jual Satwa Dilindungi, Toko Burung di Jalan Teuku Umar Digerebek
Petugas menunjukan barang bukti. (Ist)
PONTIANAK, SP - Brigade Bekantan Seksi Wilayah III Pontianak, Balai Penegakkan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup Kalimantan bersama Korwas Ditreskrimsus Polda Kalbar menggerebek toko burung Anen yang diduga menjual satwa burung dilindungi di Jalan Teuku Umar, Kelurahan Darat Sekip, Kecamatan Pontianak Kota.

Kasi Gakkum KLHK wilayah III Pontianak, David Muhammad, Rabu (4/7) mengatakan, penggerebekan dilakukan Senin (2/6) lalu. Pihaknya telah pula menetapkan SG (45) selaku pemilik toko sebagai tersangka.

Sebelumnya tim intel terlebih dahulu memastikan laporan masyarakat terkait adanya satwa burung dilindungi yang dijual di toko burung Anen.

“Kemudian setelah dipastikan memang ada beberapa ekor burung yang setelah diidentifikasi adalah jenis burung dilindungi,” katanya.

Selanjutnya tim melakukan penggrebekan dan didapatkanlah barang bukti sebanyak 10 ekor burung yang termasuk dalam spesies dilindungi.

“Delapan ekor jenis burung madu, kemudian burung jalak putih dua ekor,” tuturnya.

Setelah dilakukan pengecekan ternyata pemilik toko tersebut pernah diberikan penyuluhan oleh BKSDA Kalbar terkait satwa dilindungi agar tidak dilakukan penjualan.

“SG beserta barang bukti 10 ekor burung itu dibawa ke Mako SPORC Brigade Bekantan Seksi Wilayah III Pontianak, untuk dilakukan pemeriksaan dan ditetapkan sebagai tersangka,” ujarnya.

Dari hasil pemeriksaan terhadap tersangka, penyidik mendapat informasi bahwa tersangka mendapatkan dua ekor burung jalak putih dari luar Kalbar yang dibeli dengan harga Rp700 ribu dan akan dijual kembali dengan harga Rp2 juta.

Sementara burung madu akan dijual dengan harga Rp75 ribu per ekor yang diperoleh dari penyuplai di Kabupaten Kubu Raya.

Tersangka kemudian dititipkan di Rutan Kelas II Pontianak, yang kemudian terancam dijerat dengan Pasal 21 ayat 2 huruf a Jo Pasal 40 ayat 2 UU Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Alam Hayati dan Ekosistemnya, dengan ancaman hukuman penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp100 juta.

Untuk itu, dia mengimbau kepada toko-toko satwa agar lebih memperhatikan mana satwa yang boleh dijual dan mana yang tidak.

“Bisa berkoordinasi dengan BKSDA Kalbar,” pungkasnya. (anugrah)